Surat Ali Imran adalah surat ke-3 dalam Al-Qur'an yang terdiri dari 200 ayat. Surat ini menjelaskan tentang tauhid seperti termaktub dalam ayat 64.
Surat Ali Imran ayat 64 merupakan salah satu ayat penting dalam Al-Qur'an yang menegaskan dasar tauhid. Ayat ini berisi seruan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW agar mengajak Ahlul Kitab-Yahudi dan Nasrani-kepada satu kesepakatan bersama yang adil dan lurus, yaitu menyembah Allah SWT semata tanpa menyekutukan-Nya.
Bacaan Surat Ali Imran Ayat 64 Arab, Latin, dan Artinya
Allah SWT berfirman:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ŲŲŲŲ ŲŲŲ°ŲØŖŲŲŲŲŲ ŲąŲŲŲŲØĒŲŲ°Ø¨Ų ØĒŲØšŲاŲŲŲŲØ§Û ØĨŲŲŲŲŲ° ŲŲŲŲŲ ŲØŠŲ ØŗŲŲŲØ§ŲØĄŲÛ Ø¨ŲŲŲŲŲŲŲØ§ ŲŲØ¨ŲŲŲŲŲŲŲŲ Ų ØŖŲŲŲŲØ§ ŲŲØšŲØ¨ŲØ¯Ų ØĨŲŲŲŲØ§ ŲąŲŲŲŲŲŲ ŲŲŲŲØ§ ŲŲØ´ŲØąŲŲŲ Ø¨ŲŲŲÛĻ Ø´ŲŲŲŲŲŲØ§ ŲŲŲŲØ§ ŲŲØĒŲŲØŽŲØ°Ų Ø¨ŲØšŲØļŲŲŲØ§ Ø¨ŲØšŲØļŲØ§ ØŖŲØąŲØ¨ŲØ§Ø¨Ųا Ų ŲŲŲ Ø¯ŲŲŲŲ ŲąŲŲŲŲŲŲ Û ŲŲØĨŲŲ ØĒŲŲŲŲŲŲŲŲØ§Û ŲŲŲŲŲŲŲŲØ§Û ŲąØ´ŲŲŲØ¯ŲŲØ§Û Ø¨ŲØŖŲŲŲŲØ§ Ų ŲØŗŲŲŲŲ ŲŲŲŲ
Arab-latin: Qul yÄ ahlal-kitÄbi ta'Älau ilÄ kalimatin sawÄ`im bainanÄ wa bainakum allÄ na'buda illallÄha wa lÄ nusyrika bihÄĢ syai`aw wa lÄ yattakhiÅŧa ba'á¸unÄ ba'á¸an arbÄbam min dáģĨnillÄh, fa in tawallau fa qáģĨlusy-hadáģĨ bi`annÄ muslimáģĨn
Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), "Wahai Ahlulkitab, marilah (kita) menuju pada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, (yakni) kita tidak menyembah selain Allah, kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah." Jika mereka berpaling, katakanlah (kepada mereka), "Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim."
Tafsir Surat Ali Imran Ayat 64
Merujuk Tafsir Al-Qur'an Kemenag, surat Ali Imran ayat 64 berisi perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW agar mengajak Ahli Kitab yaitu Yahudi dan Nasrani untuk berdialog dalam mencari asas-asas persamaan dari ajaran para rasul dan kitab yang diturunkan kepada mereka, yakni Taurat, Injil, dan Al-Qur'an.
Dalam tafsir ringkas dijelaskan, tatkala mereka tidak berani ber-mubahalah, sehingga tampaklah kebohongan dan kelemahan mereka, maka ayat ini mengajak mereka kepada tauhid dengan cara yang lebih lunak dan santun.
Katakanlah, hai Nabi Muhammad, "Wahai Ahli Kitab! Jika kalian tetap menolak kebenaran hujjah tentang Isa bin Maryam padahal kalian mengetahuinya, maka marilah kita menuju kepada satu kalimat, pegangan yang sama yang memberi keputusan secara adil antara kami dan kamu, yaitu kitab Taurat dan kitab-kitab lainnya, termasuk Injil dan Al-Qur'an, bahwa di dalam kitab-kitab tersebut kita tidak diperbolehkan menyembah selain Allah dan kita tidak diperbolehkan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan jika cara ini juga tidak membawa hasil untuk mengajak mereka, maka yang terpenting bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah untuk diikuti dan dituruti perintahnya padahal perintah itu keliru. Jika mereka tetap berpaling dari kebenaran setelah terpenuhi bukti-bukti, maka katakanlah kepada mereka, "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim, yaitu orang-orang yang benar-benar berserah diri kepada Allah dan semata-mata beribadah kepada-Nya."
Menurut Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, Ali Imran ayat 64 adalah seruan universal untuk kembali kepada tauhid sebagai titik temu seluruh agama samawi. Ayat ini mengajak kepada persatuan dalam keesaan Allah, pengakuan bahwa para nabi adalah utusan-Nya, serta penolakan terhadap segala bentuk penyekutuan dan pengkultusan manusia.
Ayat ini menjelaskan bahwa kepercayaan kepada Allah Yang Maha Esa merupakan dasar kehidupan sejati. Dengan tauhid, manusia tidak takut kepada kematian, karena kematian hanyalah pintu singkat menuju kehidupan yang kekal. Kebenaran mutlak hanyalah milik Allah SWT, dan semua rasul hanyalah utusan yang membawa perintah-Nya.
Islam mengakui Nabi Musa AS, Nabi Isa AS, dan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah yang sama, yaitu Allah Yang Maha Esa dan tidak bersekutu.
Pada bagian akhir ayat berisi penekanan larangan menjadikan sebagian manusia sebagai tuhan selain Allah SWT. Meskipun tidak diakui secara lisan, ketika perintah manusia disamakan atau lebih diutamakan daripada hukum Allah SWT, maka hal itu pada hakikatnya telah menuhankan manusia.
(dvs/kri)












































Komentar Terbanyak
Arab Saudi Resmi Tetapkan Idul Fitri 20 Maret 2026
Apakah Nanti Malam Takbiran? Ini Prediksinya
Hasil Sidang Isbat Lebaran Idul Fitri 2026 Diumumkan Jam Berapa?