Gaji Tiap Bulan Selalu Habis, Apakah Tanda Rezeki Kurang Berkah?

Gaji Tiap Bulan Selalu Habis, Apakah Tanda Rezeki Kurang Berkah?

Daffa Ichyaul Majid Sarja - detikHikmah
Jumat, 09 Jan 2026 13:15 WIB
Gaji Tiap Bulan Selalu Habis, Apakah Tanda Rezeki Kurang Berkah?
Ilustrasi gaji habis. Foto: Getty Images/iStockphoto/Doucefleur
Jakarta -

Pernahkah merasa gajian setiap bulan tapi selalu habis begitu saja? Padahal secara nominal sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sering kali muncul pertanyaan, apakah gaji yang kita peroleh selama ini adalah tanda rezeki kurang berkah? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, berikut ciri-ciri rezeki yang berkah menurut Islam dan dampaknya menggunakan rezeki kurang berkah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gaji Selalu Habis Tanda Rezeki Kurang Berkah

Dijelaskan dalam buku Setetes Embun Hikmah oleh Muhammad Arham, rezeki berarti segala sesuatu yang berbentuk harta, uang, kesehatan, kebahagiaan, dan segala sesuatu yang mendukung kehidupan agar tetap berjalan.

Rezeki yang jumlah banyak belum tentu sama dengan rezeki yang berkah. Sebab, makna dari rezeki berkah adalah rezeki yang membawa kebaikan bagi pemiliknya dan orang lain.

ADVERTISEMENT

Bisa jadi, seseorang mendapat rezeki berlimpah tapi tidak mengandung kebaikan sehingga habis begitu saja tanpa disadari. Hal ini menunjukkan rezeki yang berkah pasti jumlahnya banyak, sedangkan rezeki yang jumlahnya banyak tidak selalu identik dengan keberkahan.

Jika seseorang tiap bulan menerima gaji tapi selalu habis, maka bisa jadi rezeki yang diperoleh tersebut kurang berkah.

Ciri-ciri Rezeki yang Berkah

Masih dikutip dalam buku yang sama, untuk mengetahui apakah rezeki yang kita peroleh berkah atau tidak, dapat dilihat dari ciri-ciri berikut ini:

1. Diperoleh dengan Cara yang Halal

Setiap rezeki yang Allah SWT takdirkan untuk hamba-Nya dapat diraih dengan usaha dan kerja. Apabila seorang muslim mendapatkannya dengan cara yang baik, maka rezeki tersebut halal. Begitu pun sebaliknya, jika memperolehnya dengan cara yang tidak baik, maka rezeki tersebut haram.

Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an surah An-Najm ayat 39-41 sebagai berikut:

وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ ٣٩ وَاَنَّ سَعْيَهٗ سَوْفَ يُرٰىۖ ٤٠ ثُمَّ يُجْزٰىهُ الْجَزَاۤءَ الْاَوْفٰىۙ ٤١

Artinya: "Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya. Bahwa sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian dia akan diberi balasan atas (amalnya) itu dengan balasan yang paling sempurna."

2. Mendatangkan Kebaikan

Tanda rezeki yang berkah selanjutnya adalah rezeki yang walau jumlahnya sedikit tetapi dapat dirasakan manfaatnya. Sebagai contoh, gaji tiap bulan yang selalu cukup untuk menghidupi keluarga dan bersedekah.

Jika harta berlimpah tapi tidak digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat, sering kali menjadikannya penyakit lahir dan batin, pemiliknya akan pelit, dan enggan untuk menggunakannya kepentingan agama dan orang banyak.

3. Rezeki yang Diimbangi Ibadah dan Tawakal

Rezeki yang diimbangi dengan ibadah, doa, dzikir, dan tawakal, akan menjadikan rezeki tersebut semakin berkah dan berlimpah.

4. Rezeki yang Digunakan di Jalan Allah SWT

Rezeki yang digunakan di jalan Allah dapat dikatakan bahwa rezeki tersebut sudah berkah. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 261:

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Artinya: "Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui."

Dampak Rezeki yang Tidak Berkah

Rezeki yang tidak berkah atau haram bisa berpengaruh terhadap kehidupan dunia dan akhirat. Dikutip dari buku Halal Haram Dalam Berumah Tangga: Amalan Berpahala yang Mengandung Rezeki dan Perbuatan Dosa yang Menjauhkan Rezeki karya Nala Karim al-Hammad, berikut di antaranya:

1. Menjadi Penghalang Terkabulnya Doa

Salah satu kenikmatan yang dapat dirasakan oleh seorang muslim adalah doa yang terkabul. Namun, rezeki yang haram dapat menjadi penghalang terkabulnya doa-doa yang telah dipanjatkan.

2. Rezeki Haram Akan Menghilangkan Berkah

Menurut Imam Al-Baghawy, yang dimaksud dengan berkah adalah adanya nilai kebaikan dalam sesuatu. Dalam Islam, rezeki yang diinginkan adalah rezeki yang bertambah dan mengandung kebaikan di dalamnya.

Jika rezeki yang diperoleh membuat seseorang tekun beribadah, ringan berbuat kebaikan, ucapan dan perilaku kita menyenangkan orang lain, maka itulah tanda-tanda rezeki yang berkah, dan keberkahan dari suatu rezeki tidak ditentukan oleh jumlahnya yang banyak.

Hilangnya keberkahan tersebut bisa jadi bersumber dari makanan yang dikonsumsi yang dibeli dengan harta yang haram. Rasulullah SAW bersabda,

كُلُّ جَسَدٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ. رواه الحاكم والبيهقي وصححه الألباني.

Artinya: "Setiap jasad yang tumbuh dari harta haram, maka nerakalah yang lebih tepat menjadi tempatnya." (HR Al-Hakim dan Al-Baihaqi)

3. Harta Haram Jadi Bara Neraka

Pada suatu hari, Rasulullah SAW mendengar suara dua orang yang bersengketa di depan rumahnya. Beliau pun segera keluar untuk mengadili persengketaan mereka berdua. Beliau bersabda kepada mereka:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ وَإِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَى وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَلْحَنَ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ فَأَقْضِي نَحْوَ مَا أَسْمَعُ فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ بِحَقِّ أَخِيهِ شَيْئًا فَلَا يَأْخُذُهُ فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنَ النَّارِ. متفق عليه.

Artinya: "Sesungguhnya aku adalah manusia biasa, sedangkan kalian berdua membawa persengketaan kalian kepadaku. Mungkin saja salah seorang dari kalian lebih lihai dalam membawakan alasannya dibanding lawannya, sehingga aku pun memutuskan berdasarkan apa yang aku dengar dari kalian. Maka barang siapa yang sebagian hak saudaranya aku putuskan untuknya, maka hendaknya ia tidak mengambil hak itu; karena sesungguhnya aku telah memotongkan untuknya sebongkah bara api neraka."

Hadits di atas menjelaskan bahwa hak saudara yang dirampas melalui jalur hukum, digambarkan sebagai bongkahan bara api neraka. Ketika seseorang mengambil hak orang lain, maka sebenarnya dia sedang menduduki sebongkah bara api neraka.

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan perumpamaan bongkahan bara api ini menggambarkan betapa pedihnya siksa neraka.

4. Harta Haram Jadi Penyebab Kehancuran

Harta yang diperoleh secara haram tidak akan bertahan lama. Banyak cerita bagaimana harta yang dikumpulkan sebanyak mungkin dengan sekejap menjadi lenyap, entah karena bencana atau sebab-sebab lain yang tidak terduga. Rasulullah SAW bersabda,

لَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَوْنَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا. رواه ابن ماجة والحاكم والبيهقي وحسنه الألباني

Artinya: "Tidaklah mereka berbuat curang dalam hal takaran dan timbangan melainkan mereka akan ditimpa paceklik, biaya hidup mahal, dan perilaku jahat para penguasa. Dan tidaklah mereka enggan untuk membayar zakat harta mereka, melainkan mereka akan dihalangi dari mendapatkan air hujan dari langit, andailah bukan karena binatang ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan." (HR Ibnu Majah, Al-Hakim, Al-Baihaqi)

Wallahu a'lam.




(kri/kri)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads