- Hukum Membalas Hadiah dalam Islam
- Adab Menerima Hadiah 1. Menampakkan rasa gembira 2. Mendoakan pemberi hadiah 3. Menunjukkan keceriaan di hadapan pemberi 4. Membalas hadiah jika mampu 5. Memberikan pujian yang wajar 6. Tidak tunduk karena hadiah 7. Menjaga prinsip agama dan tidak berharap hadiah lagi
Memberi dan menerima hadiah merupakan salah satu bentuk bahasa cinta yang paling mudah dipahami oleh siapa pun. Melalui hadiah, seseorang dapat mengekspresikan perhatian, rasa sayang, dan kedekatan tanpa perlu banyak kata.
Tidak heran jika aktivitas memberi hadiah menjadi momen yang begitu menyenangkan bagi kedua belah pihak. Selain menciptakan kebahagiaan, hadiah juga menjadi jembatan untuk mempererat hubungan antar sesama.
Dalam ajaran Islam, memberi hadiah termasuk sunnah yang dianjurkan karena dapat menumbuhkan rasa kasih sayang. Oleh sebab itu, ketika seseorang memberikan hadiah kepada kita, wajar jika muncul keinginan untuk membalas dengan kebaikan serupa. Namun, apakah hukum atau etika dalam Islam mewajibkan kita untuk membalasnya?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hukum Membalas Hadiah dalam Islam
Mengenai boleh atau tidaknya membalas orang yang memberikan hadiah kepada kita, jawabannya tentu saja boleh. Bahkan Islam menganjurkan kita untuk membalas dengan hadiah yang lebih baik jika mampu karena ini merupakan akhlak Rasulullah SAW.
Islam mendorong umatnya untuk membalas hadiah yang diterima sebagai bentuk penghargaan dan kebaikan. Balasan ini boleh diberikan langsung saat itu juga, atau ditunda beberapa saat berikutnya ketika seseorang sudah mampu memberikan hadiah kepada orang lain.
Dikutip dari buku Kumpulan Hadits Canti Pilihan Jilid 2 oleh Yana Adam, hal ini ditegaskan melalui kisah yang disampaikan oleh 'Aisyah, yang menggambarkan bagaimana Rasulullah menghargai pemberian dengan membalasnya.
وعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: "كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ، ويُثِيبُ عَلَيْهَا". رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.
"Dari Aisyah-radiallahu anhu-ia berkata: "Adalah Rasulullah-shallallahu alaihi wa sallam-suka menerima hadiah, dan membalasnya". (HR. Al-Bukhari).
Hadits tersebut menggambarkan kebiasaan mulia Rasulullah dalam memperlakukan orang yang berbuat baik kepadanya. Ketika menerima hadiah, beliau tidak serta-merta menikmatinya begitu saja, tetapi berusaha membalasnya dengan pemberian yang setara.
Sikap ini menunjukkan akhlak luhur beliau dalam menjaga hubungan baik dan menghargai kebaikan orang lain. Rasulullah memberikan teladan bahwa membalas hadiah adalah bentuk penghormatan terhadap pemberi.
Bahkan dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah disebutkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sering membalas hadiah dengan sesuatu yang lebih baik.
ويثيب عليها ما هو خير منها
"Dan Nabi membalas dengan hadiah yang lebih baik". (H.R. Ibn Abi Syaibah).
Hal ini menegaskan bahwa beliau senantiasa berusaha membalas kebaikan dengan kebaikan yang lebih besar.
Dari teladan tersebut, tampak bahwa Islam mengajarkan adab saling memberi sebagai cara mempererat kasih sayang dan menjaga hubungan baik.
Adab Menerima Hadiah
Dikutip dari Buku Putih Ihya Ulumuddin Imam Al-Ghazali oleh Syaikh Jamaluddin Al-Qasimi, terdapat 7 adab ketika kita menerima hadiah. Salah satu dari 7 adab adalah untuk membalas hadiah tersebut jika kita mampu untuk memberikan balik.
آداب المهدى إليه: إظهار السرور بها وإن قلت ، والدعاء لصاحبها إذا غاب. والبشاشة إذا حضر ، والمكافأة إذا قدر ، والثناء عليه إذا أمكن ، وترك الخضوع له والتحفظ من ذهاب الدين معه ونفي الطمع معه ثانيا
Artinya: "Adab Pemberi Hadiah: memperlihatkan rasa gembira walaupun hadiahnya sedikit, segera mendoakan kebaikan atas diri pemberi ketika ia sudah pergi, menampakkan keceriaan saat berhadapan dengan sang pemberi, membalas jika mampu, memujinya jika mungkin, tidak tunduk kepadanya, menjaga jangan sampai pemberian tersebut mengakibatkan hilangnya agama dan jangan sampai berharap agar diberi hadiah lagi yang kedua kali dari orang yang sama."
Dari kutipan Imam Al-Ghazali di atas, berikut ini adalah 7 adab menerima hadiah.
1. Menampakkan rasa gembira
Penerima hadiah dianjurkan untuk menunjukkan rasa senang meskipun nilai hadiah yang diterima kecil. Menolak atau menunjukkan kekecewaan dianggap tidak pantas karena dapat menyakiti pemberi dan menunjukkan kurangnya rasa syukur kepada Allah.
2. Mendoakan pemberi hadiah
Setelah pemberi hadiah pergi, penerima dianjurkan untuk mendoakan kebaikan baginya tanpa memandang besar kecilnya hadiah. Doa yang dipanjatkan diam-diam bahkan lebih utama, karena malaikat mendoakan hal serupa bagi orang yang berdoa.
3. Menunjukkan keceriaan di hadapan pemberi
Penerima hadiah hendaknya memperlihatkan ekspresi wajah yang ceria sebagai bentuk penghormatan kepada pemberi. Hal ini merupakan wujud dari kebahagiaan yang tulus, baik lahir maupun batin.
4. Membalas hadiah jika mampu
Jika memiliki kemampuan, dianjurkan untuk membalas hadiah dengan pemberian serupa sebagai bentuk penghargaan. Namun, jika tidak mampu, penerima tidak perlu memaksakan diri karena anjuran ini bersifat situasional.
5. Memberikan pujian yang wajar
Penerima boleh memuji pemberi hadiah dengan ucapan yang sopan dan tidak berlebihan. Pujian yang berlebihan atau dibuat-buat tidak dianjurkan karena dapat menunjukkan sifat tamak.
6. Tidak tunduk karena hadiah
Hadiah tidak boleh menjadi alasan bagi seseorang untuk tunduk atau mengikuti keinginan pemberi yang tidak benar. Sikap tunduk seperti ini dapat menyerupai gratifikasi atau suap, yang merupakan perbuatan terlarang.
7. Menjaga prinsip agama dan tidak berharap hadiah lagi
Penerima harus memastikan bahwa hadiah tersebut tidak membuatnya melanggar nilai agama atau menjadikannya berharap pemberian berikutnya. Hadiah yang datang tanpa diminta harus diyakini sebagai rezeki dari Allah, sehingga penerima tetap menjaga ketakwaannya.
(hnh/lus)












































Komentar Terbanyak
Gus Yaqut Jadi Tersangka Dugaan Korupsi, Ketum PBNU: Serahkan ke Proses Hukum
MUI Soroti Pasal Nikah Siri dan Poligami dalam KUHP Baru
Ada Aduan Penggelapan Dana Haji Furoda 2025, Kemenhaj Panggil Pihak Travel