Jejak Sang Penggerak dari Jogokariyan

In Memoriam Ustaz Jazir ASP

Jejak Sang Penggerak dari Jogokariyan

Sudrajat - detikHikmah
Rabu, 24 Des 2025 12:30 WIB
Jejak Sang Penggerak dari Jogokariyan
Penulis dengan Almarhum Ustaz Jazir saat wawancara untuk Program Blak blakan detikcom 2019 lalu (Foto: dokumentasi Tim Blak blakan detikcom)
Jakarta -

Tiga hari menjelang Ramadan 2019, kami-Tim Blak-blakan detik.com-meluncur ke Yogyakarta untuk mewawancarai tiga ustaz: KH Ahmad Muwafiq, Miftah Maulana Habiburrahman, dan Ustaz Muhammad Jazir ASP dari Masjid Jogokariyan.

Rencana kami kala itu cukup rapi, nyaris terlalu rapi untuk ukuran liputan lapangan. Gus Muwafiq memberi jadwal selepas subuh di sebuah masjid dekat kediamannya di Sleman. Lalu Miftah di Pesantren Ora Aji, tak jauh dari Prambanan, dan ditutup dengan Ustaz Jazir. Kenyataannya, rencana tinggal rencana. Gus Muwafiq justru berada di Bogor.

"Mohon maaf, nomor sampeyan ketelingsut, jadi nggak sempat ngabari," ujarnya lewat telepon. Ia menawarkan waktu lain. "Ramadan hari pertama saja ya, di rumah."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Artinya, kepulangan kami ke Jakarta harus molor satu hari. Tapi Yogyakarta seperti selalu punya cara memperlambat orang-agar mendengar lebih saksama.

Perubahan jadwal itu pula yang mempertemukan kami lebih dulu dengan Ustaz Muhammad Jazir ASP. Wawancara baru terlaksana sore hari, setelah beliau pulang dari Bojonegoro. Ia datang tergesa, namun bersahaja. Kaos hitam bertuliskan "Saudagar Hijrah" melekat di tubuhnya, dipadu kopiah kotak-kotak putih-biru khas Jogokariyan yang nyaris tak pernah lepas dari kepalanya. Tak ada kesan formal, apalagi jarak. Yang ada justru ketegasan orang yang tahu betul apa yang sedang ia kerjakan.

ADVERTISEMENT

Tema wawancara kami adalah gagasan yang kelak membuat namanya dikenal jauh melampaui kampung Jogokariyan: Manajemen Saldo Nol Rupiah. Sebuah pendekatan pengelolaan keuangan masjid yang saat itu dianggap melawan arus. Ketika banyak pengurus masjid merasa aman-bahkan bangga-dengan saldo kas besar, Jazir justru menaruh curiga.

"Kalau uang masjid numpuk," katanya lugas, "berarti ada hak jamaah yang belum ditunaikan."

Ia tak menyukai masjid yang bermental pengemis. Menurutnya, meminta-minta di jalanan atau mengirim proposal ke sana kemari adalah cara pandang yang salah kaprah.

"Itu memalukan. Haram hukumnya meminta-minta," ucapnya dengan nada tinggi.

Bagi alumnus Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga dan Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta itu, masjid adalah pusat peradaban, bukan sekadar bangunan ibadah. Karena itu ia membedakan secara tegas antara imam salat dan imam masjid. Imam masjid, katanya, harus mengenal jamaahnya-bukan hanya namanya, tetapi juga hidupnya: siapa yang sakit, siapa yang kesulitan ekonomi, siapa yang baru kehilangan pekerjaan.

Dari sanalah kas masjid diberi makna baru. Bukan hanya untuk karpet, pengeras suara, atau renovasi tanpa henti, melainkan untuk menggerakkan hidup jamaah.

"Kalau ada jamaah kena PHK, jangan cuma didoakan," katanya. "Tanya: dia bisa apa, bisa dimodali apa."

Prinsip itu nyata di Jogokariyan. Di sekitar masjid, warga berdagang, bertumbuh, dan saling menopang. Ramadan bukan hanya musim ibadah, tetapi juga musim kehidupan. Masjid menjadi simpul-tempat orang bertemu, berusaha, dan merasa diperhatikan.

Sejumlah program unggulan lahir di bawah kepemimpinan Jazir: ATM beras, wakaf produktif berupa pembelian sawah, pasar sore Ramadan, peci batik Jogokariyan, angkringan berbasis jamaah, layanan kesehatan, hingga usaha katering. Semua berangkat dari satu keyakinan: kas masjid harus kembali kepada jamaah.

Gagasan Jazir menular-dari Yogyakarta ke Sragen, dari kampung ke kota-kota besar. Banyak masjid mulai belajar transparansi ekstrem, pendataan jamaah by name, by address, serta keberanian menghabiskan kas demi umat. Jogokariyan menjelma semacam laboratorium, tempat para takmir belajar bahwa profesionalisme tidak harus mengorbankan keikhlasan.

Enam tahun setelah pertemuan sore itu, kabar duka datang. Ustaz Muhammad Jazir ASP berpulang pada 22 Desember 2025. Ia meninggalkan Masjid Jogokariyan bukan dalam keadaan kaya saldo, tetapi kaya jejak. Ia tak mewariskan bangunan megah, melainkan cara berpikir-cara memandang masjid sebagai organisme hidup yang harus berdenyut, memberi, dan menguatkan.

Ustaz Jazir pergi dengan saldo nol, sebagaimana keyakinannya. Namun jejaknya justru tak terhitung. Sugeng tindak, Ustaz.




(jat/aeb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads