Perjalanan Umrah Menurun Imbas Penutupan Bandara Riyadh

Perjalanan Umrah Menurun Imbas Penutupan Bandara Riyadh

Hanif Hawari - detikHikmah
Kamis, 15 Okt 2026 14:45 WIB
Kaaba in mecca during hajj season
Ilustrasi umrah (Foto: Getty Images/iStockphoto/Dian Widyatmoko)
Jakarta -

Serangan rudal Houthi yang menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, memicu dampak berantai bagi jemaah Umrah. Ribuan penerbangan dibatalkan, membuat calon jemaah asal Uni Emirat Arab (UEA) dilanda kecemasan hingga memilih menunda perjalanan suci mereka.

Padahal, periode Oktober hingga Januari biasanya menjadi puncak musim perjalanan Umrah. Namun, situasi keamanan yang memanas mengubah peta perjalanan ziarah tersebut.

Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi (GACA) mengonfirmasi penutupan operasional Bandara Riyadh diperpanjang hingga 17 Oktober. Akibatnya, lebih dari 3.000 penerbangan terdampak dan terhenti.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Permintaan telah turun. Pertanyaan dari calon jemaah juga berkurang sejak serangan dimulai. Orang-orang khawatir soal pembatalan penerbangan," ungkap Afsal KH, pengelola agen perjalanan spesialis Umrah di UEA, dilansir dari Gulf News.

ADVERTISEMENT

Dampak penutupan bandara ini juga dirasakan oleh jemaah yang sedang berada di Arab Saudi. Afsal menceritakan pengalamannya saat memimpin rombongan Umrah berisi 10 orang yang terdampar di Madinah.

Rencana awal rombongan untuk terbang dari Madinah ke Riyadh lalu berlanjut ke Dubai berujung kekacauan setelah penerbangan mendadak dibatalkan.

"Kami berada di Madinah ketika serangan pertama kali terjadi. Kami mempelajarinya melalui media sosial," kata Afsal.

"Pada Sabtu pagi kami mendengar tentang serangan tersebut. Pada saat itu penerbangan beroperasi di pagi hari. Kemudian kami mendapat petunjuk bahwa penerbangan dibatalkan," lanjutnya.

Demi bisa pulang, rombongan tersebut harus memutar otak. Tiket pesawat pengganti melonjak drastis hingga lebih dari 2.500 dirham atau sekitar Rp 12,2 juta (Kurs Rp 4.887). Rombongan Afsal akhirnya memilih jalur darat menembus perbatasan Bahrain sebelum akhirnya kembali ke UEA.

Kondisi ini membuat calon jemaah baru memilih mengambil sikap wait and see. Direktur Pelaksana Arooha Travels, Rashid Abbas, menyebutkan banyak jemaah yang memilih menunda jadwal keberangkatan (reschedule) atau mengajukan pengembalian dana (refund).

"Ada banyak rencana perjalanan Umrah di periode ini, tapi jemaah memilih menunda akibat serangan tersebut. Pemesanan terjun bebas, sekarang yang tersisa hanya perjalanan darurat," jelas Abbas.

Senada dengan Abbas, Chairman Smart Travels, Afi Ahmed, menilai insiden ini memukul kepercayaan konsumen. Menurutnya, butuh waktu untuk memulihkan keberanian warga melakukan perjalanan udara di tengah ancaman keamanan.

"Insiden seperti ini selalu memukul rasa aman wisatawan. Bagi mereka yang tidak ingin menunggu penerbangan, layanan bus antarnegara menjadi alternatif, meskipun memakan waktu jauh lebih lama," kata Ahmed.

Meski Bandara Riyadh lumpuh, opsi perjalanan via bandara lain sebenarnya masih terbuka. General Manager Deira Travels, TP Sudheesh, memastikan penerbangan melalui Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah sejauh ini tidak terdampak.

Maskapai besar seperti Emirates dan Saudia dilaporkan masih melayani penerbangan dari dan menuju Jeddah secara normal. Begitu pula dengan penerbangan langsung Dubai-Madinah yang dioperasikan flydubai, flynas, dan Air Arabia.

Meski demikian, ketidakpastian di ibu kota Arab Saudi tetap membuat mayoritas calon jemaah enggan berspekulasi. Banyak dari mereka yang memilih menunggu situasi benar-benar kondusif sebelum memesan ulang paket ibadah Umrah mereka.



(hnh/inf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads