Materi Pelayanan Jemaah Lansia yang Perlu Dipahami Calon Petugas Haji 2027

Materi Pelayanan Jemaah Lansia yang Perlu Dipahami Calon Petugas Haji 2027

Devi Setya - detikHikmah
Kamis, 03 Sep 2026 16:15 WIB
Petugas Linjam PPIH Arab Saudi, Deka Ulfa Wiwik Irjayanti, membantu jemaah lansia melakukan sai menggunakan kursi roda.
Ilustrasi jemaah haji lansia dibantu petugas haji. Foto: Rachmatunnisa/detikcom
Jakarta -

Jemaah lanjut usia (lansia) memiliki kebutuhan yang berbeda dengan jemaah yang lebih muda usianya. Oleh karena itu, pelayanan jemaah lansia menjadi salah satu materi penting yang perlu dikuasai calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2027.

Jemaah lansia memerlukan perhatian lebih, mulai dari kondisi fisik, mobilitas, kesehatan, kemampuan berkomunikasi, hingga kebutuhan pendampingan selama berada di Tanah Suci.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena itu, calon petugas haji tidak cukup hanya memahami tata cara ibadah haji. Mereka juga harus memiliki kemampuan memberikan pelayanan yang aman, manusiawi, ramah, dan sesuai kebutuhan jemaah.

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) terus memperkuat kebijakan dan tata kelola penyelenggaraan ibadah haji yang ramah bagi lansia, penyandang disabilitas, serta kelompok rentan lainnya. Penguatan ini menjadi bagian dari transformasi pelayanan haji agar lebih inklusif dan berkeadilan.

ADVERTISEMENT

Dilansir dari laman resmi Kemenhaj, Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Puji Raharjo menegaskan pelayanan haji bukan hanya mengenai aspek operasional, tetapi juga menyangkut pemenuhan hak setiap jemaah secara bermartabat.

"Penyelenggaraan ibadah haji adalah layanan publik strategis yang harus memastikan seluruh jemaah mendapatkan akses yang setara, termasuk lansia, penyandang disabilitas, dan perempuan. Karena itu, layanan kita harus aman, manusiawi, dan aksesibel," ujar Puji.

Berikut beberapa materi pelayanan jemaah lansia yang perlu menjadi perhatian para petugas haji:

1. Pahami Karakteristik Jemaah Lansia

Hal pertama yang perlu dipahami calon petugas adalah karakteristik jemaah lansia.

Jemaah lansia dapat mengalami penurunan kemampuan fisik sehingga lebih mudah lelah, kesulitan berjalan jauh, membutuhkan alat bantu, atau tidak mampu berdiri dalam waktu lama.

Sebagian lansia juga dapat mengalami penurunan daya ingat dan konsentrasi. Kondisi tersebut dapat membuat mereka mudah lupa terhadap lokasi hotel, nomor kamar, jadwal kegiatan, maupun posisi rombongan.

Karena itu, petugas harus mampu memberikan pendampingan secara sabar dan tidak terburu-buru.

Pemerintah juga melihat kebutuhan pelayanan lansia sebagai persoalan yang membutuhkan pendekatan khusus. Proporsi jemaah lansia dan jemaah dengan keterbatasan fisik terus menjadi perhatian dalam penyelenggaraan haji.

Pada musim haji sebelumnya, tercatat lebih dari 44 ribu jemaah lansia serta ratusan jemaah disabilitas yang membutuhkan layanan khusus.

Data tersebut menunjukkan pentingnya kesiapan petugas dalam memberikan pelayanan berbasis kebutuhan.

"Kita tidak bisa lagi melihat pelayanan haji secara umum. Harus ada pendekatan spesifik berbasis kebutuhan jemaah, terutama bagi lansia dan disabilitas yang memerlukan pendampingan lebih intensif," jelasnya.

2. Utamakan Keselamatan Jemaah

Keselamatan merupakan prinsip utama ketika memberikan pelayanan kepada jemaah lansia.

Petugas harus memperhatikan kondisi jemaah ketika berpindah tempat, menaiki atau menuruni tangga, menggunakan bus, berjalan menuju masjid, maupun ketika berada di kawasan yang padat.

Jemaah lansia juga perlu diingatkan agar tidak memaksakan diri ketika kondisi fisiknya sedang tidak memungkinkan.

Apabila jemaah mengalami keluhan seperti pusing, lemas, sesak, kelelahan berat, atau kondisi lain yang mengkhawatirkan, petugas harus segera melakukan koordinasi dengan petugas kesehatan sesuai prosedur.

3. Gunakan Komunikasi yang Sederhana dan Jelas

Komunikasi menjadi salah satu kemampuan penting dalam pelayanan lansia.

Petugas sebaiknya menyampaikan informasi dengan bahasa yang sederhana, jelas, sopan, dan mudah dipahami. Instruksi juga dapat diberikan secara perlahan dan diulang apabila jemaah belum memahami informasi.

Hindari menyampaikan terlalu banyak informasi sekaligus. Petugas dapat menjelaskan instruksi secara bertahap, misalnya lokasi berkumpul terlebih dahulu, kemudian waktu dan rute perjalanan.

4. Bantu Jemaah yang Tersesat

Jemaah lansia yang tersesat atau terpisah dari rombongan merupakan salah satu situasi yang harus diantisipasi calon petugas.

Ketika menemukan jemaah lansia yang kebingungan, langkah pertama adalah menenangkan jemaah. Jangan membuat mereka semakin panik dengan pertanyaan atau instruksi yang terlalu banyak.

Petugas kemudian dapat memeriksa identitas jemaah, kartu identitas, gelang, tanda pengenal, atau informasi lain yang dapat membantu mengetahui kloter dan rombongannya.

Setelah identitas diketahui, petugas dapat melakukan koordinasi untuk mengantar jemaah kembali kepada rombongan atau menuju akomodasinya.

5. Pahami Konsep Pelayanan Berbasis Kebutuhan

Setiap jemaah memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, petugas harus mampu mengenali kebutuhan tersebut dan menyesuaikan bentuk pendampingannya.

Pemerintah berkomitmen menghadirkan pelayanan haji inklusif melalui penguatan kebijakan, peningkatan kapasitas petugas, serta penyediaan fasilitas yang lebih ramah bagi jemaah berkebutuhan khusus.

6. Kenali Pentingnya Data Kesehatan dan Istitha'ah

Calon petugas juga perlu memahami pentingnya data kondisi jemaah.

Salah satu strategi penguatan pelayanan haji adalah integrasi data kesehatan, istitha'ah, serta kondisi lansia dan disabilitas sejak tahap awal verifikasi.

Dengan data yang lebih baik, kondisi jemaah dapat dipantau dan kebutuhan pendampingan dapat dipetakan sejak awal.

7. Pahami Fasilitas Ramah Lansia

Pelayanan ramah lansia tidak hanya bergantung pada petugas. Fasilitas yang mendukung mobilitas dan aksesibilitas juga menjadi bagian penting.

Beberapa strategi yang disiapkan pemerintah antara lain:

- Penyediaan kursi roda.
- Penyediaan jalur prioritas.
- Penguatan sistem pendataan dan monitoring.
- Peningkatan fasilitas aksesibilitas.
- Koordinasi dengan otoritas Arab Saudi terkait kebutuhan jemaah berkebutuhan khusus.

Calon petugas perlu mengetahui keberadaan fasilitas tersebut agar dapat mengarahkan jemaah ketika membutuhkan bantuan.

Pelayanan terhadap jemaah lansia tidak berhenti ketika mereka tiba di Tanah Suci.

Pendampingan dilakukan secara menyeluruh mulai dari kedatangan, akomodasi, mobilitas untuk beribadah, hingga proses pemulangan.



(dvs/kri)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads