Ketatnya 'Checking' Bagasi Jemaah Haji Indonesia di Madinah

Kabar Haji Bersama Telkomsel

Ketatnya 'Checking' Bagasi Jemaah Haji Indonesia di Madinah

Tri Aljumanto - detikHikmah
Sabtu, 25 Apr 2026 19:00 WIB
Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Bandara, Abdul Basir saat diwawancarai soal ketatnya Checking Bagasi jemaah haji Indonesia di Madinah.
Foto: Dok. MCH
Madinah -

Operasional haji bukan sekadar mobilisasi jutaan orang, tetapi juga tentang manajemen logistik yang sangat kompleks. Di Bandara Prince Mohammad bin Abdulaziz Airport (AMAA) Madinah, ada satu titik krusial yang kerap luput dari perhatian, namun menentukan kenyamanan jemaah setibanya di hotel: Drop Baggage Zone.

Di area inilah setiap koper jemaah diawasi dengan tingkat presisi tinggi. Bukan oleh mesin semata, melainkan oleh para petugas haji yang berjaga selama 24 jam tanpa henti.

Sistem kerja yang diterapkan pun terstruktur. Dalam tiga shift penugasan, masing-masing diisi oleh lima petugas khusus sebagai checker. Tugas mereka tidak ringan: memastikan kesesuaian data antara manifes maskapai dengan barang bawaan yang diturunkan dari pesawat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Setiap barang bawaan jemaah harus dimonitor secara cermat, mulai dari koper besar, koper kabin, kursi roda, hingga tongkat," ujar Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Bandara, Abdul Basir, Jumat (24/4) waktu Arab Saudi.

ADVERTISEMENT

Basir menegaskan, barang-barang tersebut adalah "nyawa" bagi jemaah selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Kehilangan satu koper saja dapat mengganggu keseluruhan rangkaian ibadah.

Tantangan di lapangan pun tidak ringan. Para petugas bekerja di area terbuka yang langsung terpapar kondisi cuaca ekstrem Madinah. Pada siang hari, suhu udara terasa sangat menyengat. Sementara pada malam hari, udara dingin menusuk disertai angin kencang. Belum lagi kondisi lingkungan yang kerap berdebu, menuntut konsentrasi tetap terjaga di tengah ketidaknyamanan fisik.

"Checker bagasi bukan pekerjaan ringan. Dibutuhkan ketelitian tinggi dalam situasi lapangan yang menuntut ketahanan fisik dan konsentrasi penuh," kata Basir.

Selain itu, koordinasi dengan pihak maskapai menjadi bagian penting dalam proses ini. Jika terjadi selisih data-misalnya koper tertinggal di tanah air atau tertukar-laporan harus segera dibuat saat itu juga. Respons cepat menjadi kunci agar jemaah tidak menunggu terlalu lama untuk mendapatkan barang mereka.

"Koordinasi antarpihak menjadi kunci agar seluruh proses distribusi bagasi berjalan lancar hingga sampai ke hotel jemaah," tambahnya.

Tugas monitoring bagasi ini memang kerap tak terlihat oleh publik, bahkan oleh jemaah itu sendiri. Namun, dari titik inilah rasa aman mulai dibangun. Saat jemaah memulai doa di masjid, para petugas masih berjibaku memastikan setiap koper telah masuk ke truk logistik.

"Harapannya, saat jemaah tiba di hotel, barang-barang mereka sudah termonitor dengan baik sehingga jemaah merasa tenang dan nyaman," pungkas Basir.




(lus/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads