Susunan Doa Malam Nisfu Syaban Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

Susunan Doa Malam Nisfu Syaban Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

Salsa Dila Fitria Oktavianti - detikHikmah
Senin, 02 Feb 2026 08:00 WIB
Susunan Doa Malam Nisfu Syaban Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Ilustrasi memanjatkan doa malam Nisfu Syaban. Foto: Getty Images/Tassii
Jakarta -

Susunan doa malam Nisfu Syaban menjadi perhatian banyak umat Islam menjelang pertengahan bulan Syaban. Malam Nisfu Syaban dipahami sebagai momentum umat Islam untuk memperbanyak doa, istighfar, dan munajat kepada Allah SWT.

Susunan doa malam Nisfu Syaban umumnya dibaca setelah melaksanakan ibadah sunnah malam, baik secara sendiri maupun berjamaah. Doa-doa yang dibaca biasanya berisi permohonan ampunan, keselamatan, maupun keberkahan rezeki.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Susunan Doa dan Persiapan Malam Nisfu Syaban

Terdapat sejumlah amalan yang biasa dilakukan umat Islam dalam menghidupkan malam Nisfu Syaban. Amalan-amalan ini bisa dimulai sejak sebelum waktu magrib hingga menjelang subuh.

1. Persiapan Sebelum Waktu Maghrib

Persiapan menjadi tahap awal dalam menyambut malam Nisfu Syaban. Umat Islam dianjurkan untuk membersihkan diri secara lahir dan batin dengan berwudhu serta menata niat untuk bertobat dari kesalahan dan dosa yang telah diperbuat.

Selain itu, tempat ibadah juga sebaiknya dipersiapkan agar bersih dan nyaman sehingga mendukung kekhusyukan dalam beribadah. Sebelum memasuki waktu magrib, sebagian umat Islam juga membiasakan diri untuk membaca doa sebagai bentuk permohonan keberkahan.

2. Melaksanakan Salat Magrib Berjamaah

Salat Magrib menjadi awal rangkaian ibadah pada malam Nisfu Syaban. Pelaksanaannya diawali dengan niat yang ikhlas semata-mata karena Allah SWT. Setelah salat, dianjurkan untuk membaca dzikir seperti tasbih, tahmid, dan takbir.

Waktu setelah salat Magrib juga dimanfaatkan untuk memanjatkan doa-doa pribadi sesuai dengan harapan dan kebutuhan masing-masing.

3. Membaca Surah Yasin 3 Kali

Membaca surah Yasin sebanyak tiga kali menjadi amalan yang kerap dilakukan banyak muslim pada malam Nisfu Syaban. Bacaan pertama biasanya diniatkan untuk memohon keberkahan umur dan kesehatan.

Bacaan kedua ditujukan sebagai permohonan agar diberikan rezeki yang halal dan berkah. Kemudian, bacaan ketiga diniatkan untuk memohon husnul khatimah atau akhir kehidupan yang baik.

4. Melaksanakan Salat Malam

Salat malam menjadi salah satu ibadah yang dianjurkan untuk menghidupkan malam Nisfu Syaban. Salat sunnah hajat dapat dilakukan untuk memohon berbagai keperluan dunia dan akhirat.

Selain itu, salat sunnah tahajud yang dilaksanakan pada sepertiga malam terakhir juga menjadi waktu yang dikenal mustajab untuk berdoa. Setelah salat, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa dengan penuh kekhusyukan.

5. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar

Dzikir dan istighfar merupakan bagian penting dalam rangkaian amalan malam Nisfu Syaban. Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak bacaan tasbih, tahmid, dan takbir sebagai bentuk pujian kepada Allah SWT.

Bacaan Istighfar dibaca untuk memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Malam Nisfu Syaban dapat dihidupkan dengan ibadah secara konsisten hingga menjelang waktu subuh.

Berikut bacaan dzikir yang dinukil dari buku Kalender Harian Ibadah Sunnah karya Mujahidin Nur, Ngaji Kuping karya Casudi, dan Keagungan Rajab & Sya'ban tulisan Abdul Manan bin Haji Muhammad Sobar.

1. Istighfar Nisfu Syaban

Istighfar Nisfu Syaban versi pertama merupakan bacaan istighfar yang singkat dan mudah dihafalkan. Bacaan ini dianjurkan untuk diamalkan oleh kaum muslimin sebanyak 70 kali sebagai bentuk permohonan ampun kepada Allah SWT.

أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَسْأَلُهُ التَّوْبَةَ

Latin: Astaghfirullaaha wa as-aluhut taubah

Artinya: "Hamba memohon ampun kepada Allah dan hamba meminta kepada-Nya agar diterima tobatku."

2. Dzikir Nisfu Syaban

Dzikir Nisfu Syaban berikut ini bisa diamalkan sebanyak 70 kali.

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Latin: La ilaha illallahu wala na'budu illa iyyahu mukhlishina lahuddina walau karihal musyrikun

Artinya: "Tidak ada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya meskipun orang-orang musyrik membencinya."

Doa Malam Nisfu Syaban

Di kalangan kaum muslimin, dikenal adanya doa khusus yang dibaca setelah membaca surah Yasin pada malam Nisfu Syaban. Doa ini dibaca sebagai bentuk munajat dan permohonan kepada Allah SWT, sebagaimana yang berkembang dalam tradisi keagamaan di sejumlah masyarakat muslim. Lafal doa tersebut sebagai berikut:

اللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَ لا يَمُنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلالِ وَ الإِكْرَامِ يَا ذَا الطَّوْلِ وَ الإِنْعَامِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللأَجِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِينَ وَ أَمَانَ الخَائِفِينَ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبَتَني عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُوْمًا أَوْ مَطْرُودًا أَوْ مُقْتَرًّا عَلَيَّ فِي الرِّزْقِ فَامْحُ اللَّهُمَّ بِفَضْلِكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَفَاوَتِي وَ حِرْمَانِي وَ طَرْدِي وَ اقْتَارَ رِزْقِي وَ أَثْبِتْنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ سَعِيدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَ قَوْلُكَ الحَقُّ فِي كِتَابِكَ الْمُنْزِلِ عَلَى نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَ يُثْبِتُ وَ عِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ إِلهِي بِالتَّجَلِّي الأَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمِ الَّتِي يُفْرَقُ فِيْهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ وَ يُبْرُمُ اصْرِفْ عَنِّي مِنَ البَلَاءِ مَا أَعْلَمُ وَ مَا لَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِبِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ . آمِيْن

Latin: Allāhumma yā dzal-manni wa lā yumannu 'alaika, yā dzal-jalāli wal-ikrām, yā dzath-thawli wal-in'ām. Lā ilāha illā anta, ẓahral-lājīna wa jāral-mustajīrīna wa amānal-khā'ifīn. Allāhumma in kunta katabtani 'indaka fī ummil-kitābi shaqiyyan aw maḥrūman aw maṭrūdan aw muqtarran 'alayya fir-rizqi, famhullāhumma bifaḍlika fī ummil-kitābi shaqāwatī wa ḥirmānī wa ṭardī wa iqtāra rizqī. Wa athbitnī 'indaka fī ummil-kitābi sa'īdan marzūqan muwaffaqan lil-khayrāt. Fa'innaka qulta wa qawluka al-ḥaqq fī kitābikal-munzali 'alā nabiyyikal-mursal: yamḥullāhu mā yashā'u wa yuthbitu wa 'indahū ummul-kitāb. Ilāhī bit-tajallīl-a'ẓami fī laylatin-niṣfi min shahri Sha'bānal-mukarram, allatī yufraqu fīhā kullu amrin ḥakīm wa yubram, iṣrif 'annī minal-balā'i mā a'lamu wa mā lā a'lam, wa anta 'allāmul-ghuyūb. Biraḥmatika yā arḥamar-rāḥimīn. Wa ṣallallāhu 'alā sayyidinā Muḥammadin wa 'alā ālihi wa ṣaḥbihi wa sallam. Āmīn.

Artinya: "Ya Allah Tuhanku pemilik nikmat, tiada ada yang bisa memberi nikmat atas-Mu. Ya Allah pemilik kebesaran dan kemuliaan. Ya Allah Tuhanku pemilik kekayaan dan pemberi nikmat. Tidak ada yang patut disembah hanya Engkau. Engkaulah tempat bersandar. Engkaulah tempat berlindung dan pada Engkau pula tempat yang aman bagi orang-orang yang ketakutan. Ya Allah Tuhanku, jika sekiranya Engkau telah menulis dalam buku besar-Mu bahwa aku adalah orang yang celaka, atau terhalang dari nikmat-Mu, atau orang yang dijauhkan, atau orang yang disempitkan dalam mendapat rezeki, maka aku memohon dengan karunia-Mu, semoga kiranya Engkau pindahkan aku ke dalam golongan orang-orang yang berbahagia, mendapat keluasan rezeki serta diberi petunjuk kepada kebajikan. Sesungguhnya Engkau telah berkata dalam kitab-Mu yang telah diturunkan kepada Nabi yang telah Engkau utus, dan perkataan-Mu adalah benar, yang berbunyi: Allah mengubah dan menetapkan apa-apa yang dikehendaki-Nya dan pada-Nya sumber kitab. Ya Allah, dengan tajalli yang Mahabesar pada malam Nisfu Syaban yang mulia ini, Engkau tetapkan dan Engkau ubah sesuatunya, maka aku memohon semoga kiranya aku dijauhkan dari bala bencana, baik yang aku ketahui atau yang tidak aku ketahui, Engkaulah yang Mahamengetahui segala sesuatu yang tersembunyi. Dan aku selalu mengharap limpahan rahmat-Mu ya Allah Tuhan yang Maha Pengasih."

Doa Nabi Muhammad pada Malam Nisfu Syaban

Dinukil dalam buku Keutamaan dan Ibadah Malam Nisfu Sya'ban karya Muhammad Juriyanto, terdapat sejumlah riwayat yang menghimpun doa-doa Nabi Muhammad SAW pada malam Nisfu Syaban. Salah satu kisah yang sering dikutip berasal dari Sayyidah Aisyah RA.

Dalam sebuah riwayat, Aisyah menuturkan bahwa malam Nisfu Syaban merupakan giliran beliau bersama Nabi SAW. Pada pertengahan malam, Aisyah tidak mendapati Rasulullah SAW berada di sampingnya. Perasaan cemburu sebagai seorang istri pun muncul dalam hatinya.

Aisyah kemudian menutup wajahnya dan keluar untuk mencari Rasulullah SAW di bilik para istri beliau yang lain. Namun, beliau tidak menemukan Nabi SAW di sana. Setelah itu, Aisyah kembali ke kamarnya dan mendapati Rasulullah SAW dalam keadaan sujud, dengan posisi tubuh seolah-olah seperti pakaian yang tergeletak. Dalam sujud tersebut, Nabi SAW mengucapkan doa:

سَجَدَ لَكَ خَيَالِي وَسَوَادِي وَآمَنَ بِكَ فَؤَادِي فَهَذِهِ يَدِي وَمَا جَنَيْتُ بِمَا عَلَى نَفْسِي يَا عَظِيمُ يُرْجَى لِكُلِّ عَظِيمٍ يَا عَظِيمُ اغْفِرُ الذَّنْبَ الْعَظِيمَ سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ

Latin: Sajada laka khayālī wa sawādī wa āmana bika fu'ādī, fa hādhihi yadī wa mā janaytu bihā 'alā nafsī. Yā 'Aẓīmu yurjā likulli 'aẓīmin, yā 'Aẓīmu ighfiru adz-dzanbal 'aẓīm. Sajada wajhī lilladzī khalaqahu wa shaqqa sam'ahu wa baṣarahu.

Artinya: "Khayalan dan hatiku bersujud kepada Engkau, hatiku beriman dengan-Mu, maka inilah tangan yang saya pergunakan bertindak jinayah terhadap diriku sendiri. Duhai Dzat Maha Agung yang diharapkan untuk (mengampuni) dosa yang agung. Wahai Dzat Maha Agung, ampunilah dosa yang agung. Wajahku bersujud kepada Dzat yang menciptakan serta merobek pendengaran dan matanya."

Aisyah lalu melihat Rasulullah SAW bangkit mengangkat kepala dan lalu bersujud lagi dan berucap:

أَعُوْذُ بِعَفْوِكَ مِنْ عِقَابِكَ وَأَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَوَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ جَلَّ وَجْهُكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ أَقَوْلُ كَمَا قَالَ أَخِي دَاوُدُ: أَعْفِرُ وَجْهِي فِي التَّرَابِ لِسَيِّدِي وَحَقَّ لَهُ أَنْ يَسْجُدَ

Latin: A'ūdzu bi 'afwika min 'iqābika, wa a'ūdzu biriḍāka min sakhaṭika, wa a'ūdzu bika minka. Jalla wajhuka, lā uḥṣī thanā'an 'alaika, anta kamā athnaita 'alā nafsika. Aqūlu kamā qāla akhī Dāwūd: u'affiru wajhī fī at-turābi lisayyidī, wa ḥaqqa lahu an yasjuda.

Artinya: "Saya memohon perlindungan dengan maaf-Mu dari siksaan-Mu. Saya berlindung dengan ridha-Mu dari kemarahan-Mu. Saya berlindung dengan-Mu dari-Mu Maha agung Dzat-Mu. Saya tidak bisa menghitung pujian atas-Mu seperti Engkau memuji diri-Mu. Saya berkata seperti saudaraku Dawud berkata, "Saya membenamkan wajahku dalam tanah demi Tuhanku dan memang ia berhak untuk bersujud."

Aisyah lalu melihat Rasulullah SAW mengangkat kepala dan berdoa:

أَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي قَلْباً نَقِيًّا مِنَ الشِّرْكِ نَقِيًّا لَأَحَافِيًا وَلَا شقيًّا

Latin: Allāhumma irzuqnī qalban naqiyyan mina asy-syirki, naqiyyan lā ahāfiyyan wa lā shaqiyyan.

Artinya: "Ya Allah, karuniakanlah kepadaku hati yang bersih dari syirik bersih tidak cerewet (banyak bertanya) juga bukan celaka."

Setelah itu, Rasulullah SAW masuk ke dalam selimut bersama Aisyah. Saat itu, nafas Aisyah terdengar tersengal, hingga beliau bertanya, "Ada apa dengan desahan nafas ini wahai Humaira'?" Aisyah pun menceritakan kepada beliau dan beliau lalu mengusap lutut Aisyah seraya bersabda: "Celakalah dua lutut ini, apa yang ditemukannya pada malam ini, ini adalah malam Nisfu Syaban yang di dalamnya Allah turun ke langit dunia dan memberikan ampunan kepada para hamba-Nya kecuali orang musyrik dan bermusuhan."

Wallahu a'lam.




(kri/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads