Salah satu rangkaian sholat adalah membaca doa iftitah. Doa ini termasuk sunnah tetapi memiliki keutamaan besar bagi yang mengamalkannya.
Mengutip buku Panduan Sholat Rosulullah 1 karya Imam Abu Wafa, kata iftitah berarti pembuka. Doa ini dibaca setelah takbiratul ihram atau saat mengucapkan "Allahu Akbar" ketika bersedekap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bacaan doa iftitah yang diajarkan Nabi Muhammad SAW memiliki beberapa versi. Meski begitu, umat Islam diberi kemudahan untuk memilih bacaan yang paling mudah dihafal terlebih dahulu sebelum mengamalkan bacaan lainnya.
Membaca doa iftitah dalam sholat bersifat sunnah, bukan wajib. Karena itu, jika seorang muslim tidak membacanya, sholat tetap sah dan tidak perlu melakukan sujud sahwi.
Jika doa iftitah terlewat pada rakaat pertama, baik karena lupa maupun sengaja, bacaan ini tidak dianjurkan dibaca pada rakaat berikutnya karena waktunya telah berlalu dan hukumnya makruh. Meski begitu, sholat yang dilakukan tetap sah.
Sementara itu, bagi makmum yang datang terlambat dan mendapati imam sudah memulai sholat, doa iftitah boleh dibaca selama tidak membuat tertinggal bacaan surah Al-Fatihah. Namun, jika waktunya sempit, sebaiknya langsung membaca surah Al-Fatihah karena hukumnya wajib, sedangkan doa iftitah bersifat sunnah.
Meskipun bersifat sunnah, doa iftitah tetap dianjurkan untuk diamalkan karena mengandung keutamaan serta makna mendalam yang dapat menambah kekhusyukan dalam sholat. Berikut adalah bacaan doa iftitah lengkap beserta tulisan latin, arti, dan maknanya.
Bacaan Doa Iftitah Lengkap Arab, Latin dan Artinya
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيراً، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيراً، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفاً مُسْلِمِاً وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Allāhu Akbaru Kabīrā, wal-ḥamdu Lillāhi Kathīrā, wa subḥāna Allāhi bukratan wa asīlā, wajjahtu wajhīya lilladhī faṭara as-samāwāti wal-arḍa ḥanīfāan musliman wamā anā mina al-mushrikīn, inna ṣalātī wa nusukī wa maḥyāya wamamātī Lillāhi rabbil-'ālamīn, lā sharīka lahu wabi-dhālika umirtu wa anā mina al-muslimīn.
Artinya: "Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya, dan segala puji bagi Allah dengan sebanyak-banyaknya. Maha Suci Allah pagi dan petang. Aku menghadapkan diriku kepada Tuhan Yang telah menciptakan langit dan bumi dengan meluruskan ketaatan kepada-Nya dan berserah diri, dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya sholatku, semua ibadahku, hidup dan matiku hanyalah bagi Allah, Rabb semesta alam; tiada sekutu bagi-Nya. Dan dengan demikianlah aku diperintahkan, dan aku adalah termasuk orang-orang yang muslim."
Doa iftitah ini adalah bacaan yang paling sering dibaca umat Islam saat sholat. Namun, jika ingin membaca versi yang lebih lengkap, doa ini bisa dilanjutkan dengan bacaan berikut ini:
اللَّهُمَّ أَنْتَ المَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعاً، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُالذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ والخَيْرُ كُلَّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Allahumma Anta al-Malik, la ilaha illa Anta, Anta rabbi wa ana abduka, zhalamtu nafsi wa i'tarafhtu bidhambi, faghfir li dhunubi jami'an, fa'innahu la yaghfiru adhdhunuba illa Anta, wahdini li ahsani al-akhlaqi la yahdi li ahsaniha illa Anta, wa asrif 'anni sayyi'aha la yasrifu sayyi'aha illa Anta, labbaik wa sa'daik wal-khayru kulluhu fi yadika, wal-sharru laysa ilayk, ana bika wa ilayk, tabarakta wa ta'alayt, astaghfiruka wa atubu ilayk.
Artinya: "Ya Allah, Engkau adalah Raja, tiada Tuhan selain Engkau. Engkau adalah Rabbku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah berbuat aniaya terhadap diriku sendiri dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah segala dosaku; tiada seorang pun yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Berilah aku petunjuk kepada akhlak yang paling baik, tiada seorang pun yang dapat memberikan petunjuk kepada akhlak yang paling baik kecuali Engkau, dan palingkanlah diriku dari akhlak yang buruk, tiada seorang pun yang dapat memalingkan dari akhlak yang buruk kecuali Engkau. Aku penuhi seruan-Mu dan aku merasa bahagia dengan menjatahkan seruan-Mu. Semua kebaikan berada di tangan kekuasaan-Mu, dan kejahatan itu bukan bersumber dari-Mu, aku memohon pertolongan kepada-Mu dan berserah diri kepada-Mu, Maha Agung lagi Maha Tinggi Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu."
Mengutip buku sebelumnya, terdapat juga bacaan doa iftitah lainnya dengan lafaz berikut:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، تَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ
Subhānaka Allāhumma wa biḥamdika, tabārakasmuka wa ta'ālā jadduka, wa lā ilāha ghairuka.
Artinya: "Maha Suci Engkau ya Allah dengan memuji-Mu, keberkahan nama-Mu, sangat dermawan diri-Mu dan tidak ada tuhan yang layak disembah melainkan Engkau." (HR Abu Dawud, shahih)
Lalu, ada juga bacaan doa iftitah berikut ini:
اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقْنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ
Allahumma ba'id bayni wa bayna khatayaya kama ba'adta baynal-mashriqi wal-maghrib. Allahumma naqni min khatayaya kama yunakka at-thawbul-abyadu minad-danas. Allahumma ighsilni min khatayaya bith-thalji wal-ma'i wal-barradi.
Artinya: "Ya Allah, jauhkanlah antara diriku dan dosa-dosaku, sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah diriku dari dosa-dosaku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotorannya. Ya Allah, cucilah diriku dari dosa-dosaku dengan salju, air, dan embun."
Makna Bacaan Doa Iftitah dalam Sholat
Hujjatul Islam Imam al-Ghazali dalam Asrar Ash-Shalah wa Muhimmatuha (edisi Indonesia Rahasia Shalatnya Orang-orang Makrifat) mengatakan doa iftitah mengandung kalimat pujian, sanjungan, dan kalimat yang mengagungkan Allah SWT.
Meskipun tidak wajib, membaca doa iftitah hukumnya sangat dianjurkan atau sunnah muakad. Hal ini dijelaskan dalam hadits Riwayat Abu Dawud dan Hakim, Rasulullah SAW bersabda,
"Tidak sempurna sholat seseorang sebelum dia bertakbir, memuji Allah azza wa jalla, menyanjungnya, dan membaca ayat-ayat Al-Quran yang dihafalnya." (HR Abu Dawud dan Hakim)
Sholat merupakan ibadah yang melibatkan hati, pikiran, dan anggota badan. Karena itu, ketika sholat, seorang muslim hendaknya memusatkan pikiran pada bacaan dan gerakan, serta menghadirkan hati hanya kepada Allah SWT. Segala hal yang dapat memalingkan diri dari-Nya sebaiknya disingkirkan.
Saat mengucapkan kalimat laa syariikalahu (tiada sekutu bagi-Nya), hati dituntut benar-benar bersih dari segala bentuk kemusyrikan. Sholat dilakukan semata-mata karena Allah, bukan karena makhluk. Jika sholat dilakukan karena manusia, maka hal tersebut termasuk menyekutukan Allah, dan riya tergolong sebagai syirik kecil.
Doa iftitah juga mengandung permohonan agar Allah SWT menjauhkan hamba-Nya dari perbuatan dosa, sebagaimana Dia memisahkan timur dan barat yang tidak akan pernah bertemu. Apabila seorang hamba terjerumus dalam dosa, ia memohon ampunan serta pembersihan dari dosa-dosa tersebut, sebagaimana bersihnya pakaian dari noda, hingga dirinya kembali suci.
Dalam pandangan orang-orang makrifat, taujih dipahami sebagai perpindahan keadaan spiritual, yaitu dari Allah, dengan Allah, kepada Allah, bersama Allah, di dalam Allah, milik Allah, dan atas Allah. Dari Allah sebagai awal, dengan pertolongan dan peneguhan-Nya, menuju Allah sebagai tujuan, selalu dalam pengawasan-Nya, dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah.
Selain itu, mengutip buku Sudah Shalat, Kok Tetap Maksiat? karya Muhammad Mawaidi, doa iftitah mengingatkan tentang besarnya kuasa Allah SWT dan tujuan hidup di dunia. Jika maknanya dipahami dan diamalkan dalam keseharian, seorang hamba akan lebih mengerti arah hidup yang telah Allah SWT tetapkan.
Pertama, kalimat "sungguh, aku menghadapkan wajahku kepada Allah SWT yang menciptakan langit dan bumi" mengajarkan sikap pasrah dan yakin kepada Allah. Sikap ini diwujudkan dengan melaksanakan sholat. Menghadapkan wajah kepada Allah tidak hanya lewat ucapan, tetapi juga lewat gerakan sholat dan menghadirkan Allah SWT di dalam hati saat beribadah.
Orang yang mengamalkan nilai doa iftitah akan dilatih menjadi pribadi yang sabar dan kuat. Dengan sifat tersebut, Allah SWT akan memberikan rahmat dan keberkahan dalam setiap usaha yang dilakukan.
Kedua, kalimat "sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah SWT" mengingatkan bahwa semua yang terjadi di dunia ini atas kehendak Allah SWT. Manusia diciptakan untuk taat pada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena itu, selama hidup di dunia, setiap perbuatan sebaiknya dilakukan sesuai aturan yang telah Allah SWT tetapkan.
(kri/kri)












































Komentar Terbanyak
Dubes Saudi: Serangan Iran ke Negara Teluk Berdampak pada Solidaritas Umat Islam
Kisah Wanita Pemberani 'Sang Perisai Rasulullah' di Perang Uhud
MUI: Pemerintah Harus Tinjau Ulang Keterlibatan RI di Board of Peace