Pulang ke Negeri Asal

Kolom Hikmah

Pulang ke Negeri Asal

Aunur Rofiq, Penulis Kolom - detikHikmah
Jumat, 24 Jul 2026 08:00 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Ilustrasi: Zaki Alfaraby/detikcom
Jakarta -

Manusia itu terbagi dua. Pertama, Manusia berdimensi fisik. Kedua, manusia berdimensi roh. Manusia berdimensi fisik adalah manusia awam, sedangkan manusia berdimensi roh adalah manusia khusus.

Manusia khusus pulang ke negeri asalnya yaitu, alam al-Qurbah (Dalam Islam, "alam al-Qurbah" merujuk pada kondisi atau keadaan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ibadah dan perbuatan saleh, bukan merujuk pada alam fisik ciptaan Tuhan. Ini adalah istilah yang berkaitan dengan pencapaian spiritual dan keadaan hati, yang berbeda dari pengertian "alam" sebagai lingkungan fisik).

Sedangkan pulangnya manusia berdimensi fisik ke surga derajat lantaran ia mengamalkan ilmu syariat,tarekat, dan makrifat sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Kebijaksanaan yang mencakup adalah mengenal Yang Mahabenar jika diamalkan tanpa riya' dan sum'ah."

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Adapun tentang surga derajat. Dalam pandangan Islam, surga tidak hanya satu tingkatan, melainkan memiliki beberapa tingkatan yang berbeda dengan Firdaus sebagai tingkatan tertinggi, sedangkan surga 'Adn dan surga lainnya seperti Na'im, Ma'wa, dan lainnya sebagai tingkat yang berbeda-beda. Derajat-derajat surga ini ditentukan oleh amal dan ketakwaan setiap individu, yang memengaruhi posisi mereka dalam menerima kenikmatan abadi di akhirat.

Sebagaimana Rasulullah SAW. sendiri berdo'a,"Ya Allah, tunjukilah kepada kami al-Haqq adalah yang benar dan anugerahi kami untuk mengikuti-Nya. Dan tunjukkan kepada kami bahwa selain al-Haqq adalah batil dan anugerahi kami untuk menjauhinya." Dilanjutkan dengan bersabda,"Siapa yang mengenal nafsunya dan menentangnya, dia mengenal Rabb dan mengikuti jalan-Nya."

ADVERTISEMENT

Adapun kembali dan sampainya (wushul) manusia khusus ke negeri asalnya yakni alam qurbah adalah dengan ilmu hakikat. Di alam qurbah ini manusia khusus terjadi pada saat hidupnya di dunia, lantaran rutinitasnya mengunjungi alam lahut, baik dalam keadaan tidur maupun terjaga.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Surah az-Zumar ayat 42 yang terjemahannya," Allah menggenggam nyawa (manusia) pada saat kematiannya dan yang belum mati ketika dia tidur. Dia menahan nyawa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti (kekuasaan) Allah bagi kaum yang berpikir."

Adapun maknanya adalah: Pada ayat ini, Allah SWT. menerangkan satu macam kekuasaan-Nya yang sempurna dan sifat-Nya yang mengagumkan. Yaitu Dialah yang memegang roh manusia ketika tiba ajalnya dengan memutuskan hubungan roh dengan raganya dan memegang roh orang itu pada lahirnya saja sehingga tidak dapat mengemudikan raganya, akan tetapi hubungan di antaranya tetap masih ada.

Allah SWT. menahan jiwa orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dengan tidak mengembalikan roh itu, dan melepaskan jiwa yang lain dengan mengembalikan jiwa ke dalam raganya, sehingga ia dapat bangun dari tidurnya sampai kepada waktu yang ditentukan. Orang yang mati itu rohnya ditahan Allah SWT. sehingga tidak dapat kembali kepada tubuhnya dan orang yang belum mati hanya tidur saja, rohnya dilepaskan sehingga dapat kembali ke raganya lagi.

Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbās bahwa dalam tubuh manusia itu ada jiwa dan roh yang hubungannya seperti sinar matahari. Akal dan jiwa dapat berpikir dan menentukan pilihan, sedang rohnya yang menyebabkan ia dapat hidup dan bergerak. Kedua-duanya dimatikan ketika tiba ajalnya, dan dimatikan jiwanya saja ketika ia tidur, sedang rohnya tetap masih ada. Imam al-Bukhārī dan Muslim meriwayatkan sebuah hadis dari Abū Hurairah yang berbunyi: قَالَ Rasulullah SAW. bersabda, "Jika salah seorang di antara kamu akan tidur, maka hendaklah ia meniupkan ke dalam pakaiannya di sebelah dalam, karena ia tidak mengetahui apa yang tertinggal di dalamnya, kemudian hendaklah ia mengucapkan, "Ya Tuhanku dengan nama-Mu aku meletakkan lambungku ini, dan dengan nama-Mu pula aku mengangkatnya. Jika Engkau menahan jiwaku maka sayangilah dia, dan jika Engkau melepaskannya kembali, maka peliharalah dia seperti Engkau memelihara orang-orang yang saleh." (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim).

Imam al-Bukhārī, Aḥmad, Abū Dāwud, dan Ibnu Abī Syaibah meriwayatkan sebuah hadis dari Abū Qatādah yang berbunyi," Sesungguhnya Nabi SAW. bersabda kepada para sahabat pada malam (ketika tidur) di lembah, "Sesungguhnya Allah menahan roh kamu bila dikehendaki-Nya, dan mengembalikannya bila dikehendaki-Nya."

Manusia khusus kembali ke negeri asal setelah kalbunya hidup, sebab cahaya tauhid dan rutin melakukan zikir asma-asma tauhid dengan lisan sirri. Allah SWT. Berfirman dalam hadis Qudsi," Manusia adalah sirri-Ku dan Aku adalah sirrinya."

Dilanjutkan dengan hadis Qudsi berikutnya," Ilmu batin adalah salah satu dari sirri-Ku yang Aku tempatkan di dalam kalbu hamba-Ku dan tidak ada yang tahu mengenainya kecuali Aku."

Sayid Yahya ibn Mu'adz Ar-Razi berkata," Wali adalah wewangian Allah SWT. di muka bumi, yang mencium aromanya adalah ash-Shiddiqun.' Aroma wangi wali yang tercium ash-shiddiqun sampai ke dalam kalbunya, akibatnya ia rindu kepada-Nya, sehingga ibadah mereka memuncak sesuai dengan tingkat akhlak serta tingkat fana mereka.

Seseorang pada maqam Wali, selalu tidak pernah mengaku kalau ia memperoleh karamah. Menurut pengarang kitab Al-Mirshad," orang - orang yang memiliki karamah, mereka semua terhijab ( dari mengetahui karamah )."

Semoga kita mempunyai bekal yang cukup untuk pulang negeri asal ( meninggal ). Karena dengan yakin bahwa semua yang bernyawa akan mati.

Aunur Rofiq

Penulis adalah Pendiri Himpunan Pengusaha Santri Indonesia

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi).



(erd/erd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads