Dia seorang raja Yaman sekitar tahun 570 M, ia duduk di Istananya di Shan'a, lagi dikelilingi para menteri dan penasihatnya. Raja sangat iri dengan banyaknya kabilah yang mampir ke Ka'bah tempatnya kaum Quraisy bersembahyang, ia berambisi agar mereka ( yang berkunjung ke Ka'bah beralih ke Yaman. Dia membangun gereja yang besar dan megah diberi nama al-Qalis. Abhaha berharap bangsa Arab dimanapun berada akan meninggalkan Ka'bah ( rumah Tuhan kaum Quraysi ), dan beralih ke al-Qalis.
Kemudian dalam majelisnya ada yang meperingatkan bahwa Ka'bah diyakini kaum Quraysi telah dibangun nenek moyang mereka yaitu Ibrahim dan Ismail, telah membangun Ka'bah ini atas perintah Tuhannya. Dan engkaupun tahu bahwa Ibrahim adalah kakek para Nabi. Biarkan saja kaum Quraysi dengan rumah Tuhannya.
Pecahlah amarah Abraha dengan mengusir orang tersebut dari majelisnya, kemudian seorang prajurit melaporkan bahwa ada seorang Arab menumpahkan kotoran di al-Qalis sebagai bentuk protes terhadap keinginan Abraha.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Abraha berteriak," Mahkota ini tidak akan kembali ke kepalaku kecuali aku telah membalaskan dendam kepada bangsa Arab dan rumah Tuhan mereka."
Abraha sudah emosional, ingatlah bahwa dendam menurut Islam adalah sifat tercela yang sangat dilarang karena merusak hati, memutus tali silaturahim, dan mendatangkan dosa. Meskipun syariat membolehkan pembalasan yang setimpal (adil), Islam secara tegas mengajarkan bahwa memaafkan adalah tindakan yang jauh lebih mulia dan dicintai Allah SWT.
Konsep dan panduan Islam dalam menyikapi rasa dendam meliputi :
Pahala Besar bagi Pemaaf. Allah SWT sangat memuliakan hamba-Nya yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain (QS. Ali 'Imran ayat 134). Memaafkan membebaskan hati dari penyakit dan mendatangkan ketenangan.
Batas Pembalasan yang Adil. Dalam surat Asyura ayat 40, Islam memperbolehkan pembalasan yang sebanding dengan kezaliman yang diterima, tidak boleh lebih. Namun, tindakan ini membutuhkan kontrol emosi yang sangat tinggi agar tidak berubah menjadi kezaliman baru.
Membalas dengan Kebaikan (Ihsan). Tingkatan tertinggi dalam menyikapi orang yang menyakiti kita adalah membalas keburukan dengan kebaikan atau mendoakan mereka. Ini adalah cara terbaik untuk meluluhkan hati dan memutus rantai permusuhan.
Bahaya Menyimpan Dendam. Menghidupkan dendam hingga akhir hayat sangat berbahaya secara spiritual. Hal ini dapat menggerogoti iman, memicu sifat sombong, dan menjauhkan seseorang dari rahmat Allah SWT.
Menyimpan dendam hingga akhir hayat adalah penyakit hati yang merusak spiritualitas. Hal ini menggerogoti iman, memicu sifat sombong, menghilangkan ketenangan batin, dan menjauhkan pelakunya dari rahmat Allah SWT karena Allah lebih mencintai hamba yang pemaaf.
Dalil Al-Qur'an dan Hadits :
1. Sifat Pemaaf adalah Ciri Utama Orang Bertaqwa. Islam memerintahkan umatnya untuk memaafkan kesalahan orang lain guna membersihkan hati dari dendam.
Allah SWT berfirman,"Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Ali 'Imran ayat 134).
2. Larangan Membenci dan Mendendam. Nabi Muhammad SAW secara tegas melarang umatnya saling mendiamkan, menyimpan dendam, atau bermusuhan lebih dari tiga hari.
Rasulullah SAW bersabda,"Janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling melakukan najsy (menawar barang tanpa berniat membeli), janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling membelakangi..." (HR. Muslim).
3. Penghapus Amal Kebaikan.
Sebagaimana dijelaskan dalam literatur hadits, Nabi SAW mengingatkan bahaya destruktif dari dendam dan dengki terhadap catatan amal seorang Muslim.
"Dendam dan dengki itu memakan (menghanguskan) pahala berbagai kebaikan seperti api memakan kayu bakar."
Islam bukan menutup mata bahwa manusia bisa disakiti, namun jalan terbaik untuk membalas keburukan adalah dengan memaafkan atau membalas dengan kebaikan yang setimpal, bukan dengan melestarikan dendam di dalam hati.
Abraha memobilisasi pasukan yang besar dan didalamnya ada prajurit berkuda dan onta. Singkat cerita mereka menuju ke Mekah, dan dalam perjalanan mengalahkan beberapa kabilah. Ketika mereka mendekati kota Mekah, ia ( Abraha ) tiba-tiba merasakan takut ysng menjalari sekujur tubuhnya, ia berusaha tenang, namun rasa tenang tersebut mengkhianatinya.
Singkat cerita pasukan yang jumlah besar dan gagah berani mulai berjatuhan, mereka diserang oleh burung-burung yang melemparkan batu, batu-batu ini seperti neraka jahanam. Mereka berjatuhan seperti batang pohon kurma yang rapuh, sehingga tanah yang mereka injak menjadi genangan darah. Diatasnya bergelimpangan tubuh mereka yang hitam.
Ketahuilah kondisi tersebut sebagaimana firman-Nya dalam Surah al- Fil ayat 3-5?yang terjemahannya," Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar, sehingga Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)."
Maknanya : Allah SWT. mempunyai cara untuk menggagalkan tipu daya mereka, dan Dia mengirimkan kepada mereka salah satu makhluk-Nya yang dijadikan bala tentara untuk menghancurkan mereka, yaitu burung yang berbondong-bondong dan tidak terhitung banyaknya. Allah mengirim burung-burung yang melempari mereka dengan batu yang berasal dari tanah liat yang terbakar.
Batu-batu yang dijatuhkan oleh burung-burung itu tepat mengenai tentara Abraha sehingga mereka dijadikan-Nya bergelimpangan tak berdaya dan binasa seperti daun-daun yang dimakan ulat. Itulah balasan bagi orang yang angkuh dan hendak menghancurkan Kakbah, simbol agama Allah SWT.
Inilah gambaran orang yang pegang kuasa dan takabur, ia lupa kepada sang Pencipta, inilah jadinya, musnah.
Aunur Rofiq
Penulis adalah Pendiri Himpunan Pengusaha Santri Indonesia
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi).
(erd/erd)

Komentar Terbanyak
Dukung MBG, Muhammadiyah Dorong Penguatan Tata Kelola
PBNU Umumkan 1 Muharram 1448 H Jatuh pada Rabu 17 Juni 2026
Lokasi Tembok Yajuj Majuj Menurut Al-Qur'an dan Pendapat Ulama