Alkisah di suatu daerah yang bernama Gosyen terletak di wilayah timur delta Mesir. Gulita malam yang dingin menyelimuti wilayah itu yang didiami Bani Israil, hujan turun, dan banyak orang beristirahat di rumah dengan tidur, tidak demikian dengan Yashhar bin Qahits salah seorang dari Bani Israil yang mempunyai anak bernama Qarun ( masih kecil ) tidak bisa tidur, karena pikirannya berkecamuk.
Waktu masa remaja Qarun, mengetahui ayahnya bersama teman-temannya Bani Israil pergi sampai berhari-hari, karena dipaksa oleh orang-orang Fir'aun untuk membuat jalan dan membangun kota. Pendek kata Fir'aun mengendalikan Bani Israil, keluarga Qarun hidupnya belum mapan, anggota keluarganya masih bergantung pada orang lain, karena mereka miskin.
Maka itu Qarun memutar otak. Ia membandingkan dirinya dengan anak pamannya yang bernama Musa ( menurut beberapa riwayat mereka berdua sepupuan ). Musa seorang Ibrani yang dikasihi Tuhan. Ia ( Musa ) hidup di istana Fir'aun yang berkelebihan dengan kebahagiaan dan berlimpah kasih sayang dari asuhan permaisuri raja. Hal ini tak ubahnya ibarat dua batang pohon, salah satu tumbuh subur di dekat sumber air dan satunya layu dan kering.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena Qarun dipenuhi rasa cemburu kepada Musa. Kemudian Qarun ingin memperbaiki hidup, ia tinggalkan gembalaan ayahnya di wilayah Gosyen menuju kota tempat kekuasaan Fir'aun. Disana ia bekerja sebagai pedagang. Allah SWT. telah mengujinya, dagangannya berkembang pesat dan dia menjadi kaya raya.
Hari terus berganti, Qarun dipercaya Fir'aun ditunjuk sebagai Gubernur. Semula Qarun ingin memperbaiki nasib kaumnya ( bani israil ), namun karena keenakan sebagai pejabat penting maka orientasinya berubah bukan kebaikan kaumnya melainkan berambisi bagaimana menguasai kaumnya. Maka Allah SWT. berfirman dalam Surah al-Qashash ayat 76 yang terjemahannya," Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku aniaya terhadap mereka. Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, "Janganlah engkau terlalu bangga. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri."
Maknanya : Kekuatan dan kekuasaan akan berakhir dengan kebinasaan karena kedurhakaan dan kezaliman, seperti yang terjadi pada Fir'aun. Begitu juga dengan kekuatan harta dan pengetahuan yang juga berakhir dengan kebinasaan saat disertai dengan kedurhakaan dan keangkuhan, seperti yang menerima Qarun.
Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa yang hidup semasa dengannya dan konon adalah anak Nabi Musa. Akan tetapi, meski berasal dari keluarga terhormat, dia melampaui batas dengan berlaku zalim terhadap mereka dan sombong. Ia adalah seorang yang Kami beri nikmat dengan memasukkannya ke dalam kelompok kaum Nabi Musa, dan Kami telah menganugerahkan pula kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kunci gudang tempat penyimpanan hartanya itu sungguh sangat banyak sehingga terasa berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. Itu baru kuncinya, ada pun harta kekayaannya, tidak mungkin dapat dipikul oleh orang yang sangat banyak sekali pun. Ingatlah ketika ia terpedaya oleh nikmat Allah yang dikaruniakan kepadanya dengan mengingkari dan tidak mensyukurinya, kaumnya menasihatinya dengan berkata kepadanya, "Janganlah engkau terlalu bangga dengan harta kekayaan yang engkau miliki, kebanggaan yang menjadikanmu melupakan Allah yang menganugerahkan nikmat itu sehingga tidak bersyukur kepada-Nya. Sungguh, Allah SWT. tidak menyukai orang yang membanggakan diri."
Orang-orang kafir Mekkah yang menentang Nabi Muhammad SAW. telah tertipu oleh harta mereka, sebab kekayaan mereka digunakan untuk menindas kaum Muslim. Padahal, harta benda mereka sangat sedikit jika dibandingkan dengan harta Karun. Orang kaya yang angkuh dan zalim akan berakhir dengan kebinasaan.
Dalam hati Qarun ada kedengkian terhadap Nabi Musa, tatkala Nabi Musa bermusuhan dengan Fir'aun maka Qarun dengan senang hati bergabung dengan Fir'aun memusuhi sepupunya sendiri. Qarun senang berkawan dengan seorang munafik yang bernama Samiri ( dia yang membuat patung sapi dari emas yang disembah Bani Israil ). Samiri ini yang membantu Qarun untuk menguasai dan menindas kaumnya. Beberapa pemuka masyarakat memberikan nasihat kepada Qarun, namun tiadalah mempan, alias membandel maka turunlah Surah al-Qashash ayat 78 yang terjemahannya," Dia (Qarun) berkata, "Sesungguhnya aku diberi (harta) itu semata-mata karena ilmu yang ada padaku." Tidakkah dia tahu bahwa sesungguhnya Allah telah membinasakan generasi sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? Orang-orang yang durhaka itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka."
Maknanya : Qarun tidak menanggapi nasihat kaumnya, lupa diri dan tetap melupakan karunia Allah SWT. kepadanya. Dengan penuh kesombongan, dia berkata, "Sesungguhnya aku diberi harta yang banyak ini, semata-mata karena ilmu dan kemampuan yang ada padaku. Tidak ada jasa siapa pun atas perolehanku itu. Semua karena kepandaianku dalam mengumpulkan harta." Demikian jawab Karun. Tidakkah dia tahu dan sadar, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat yang tidak jauh dari masa sebelumnya, yakni sebelum Karun, yang lebih kuat fisik dan kemampuan serta pembantu-pembantu mereka daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta daripada Karun? Sungguh kedurhakaan Karun telah demikian jelas, dan oleh karenanya, orang-orang yang berdosa seperti Karun itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka, karena Allah SWT. telah mengetahui hal itu. Mereka akan masuk neraka, dan hanya akan ditanya dengan pertanyaan yang menghinakan.
Berikut ini adalah keburukan-keburukan Qarun menurut Islam beserta dalilnya.
1. Kesombongan dan Keangkuhan (Takabur).
Qarun merasa paling hebat dan memandang rendah orang lain karena kekayaannya. Ia memamerkan kemewahannya dengan sengaja di depan masyarakat.
2. Mengklaim Harta Hasil Usaha Sendiri (Kufur Nikmat)
Qarun tidak mengakui bahwa hartanya adalah titipan Allah, melainkan mengklaim bahwa kekayaannya diperoleh semata-mata karena kecerdasan dan ilmu yang dimilikinya.
Dalil (QS. Al-Qashash ayat 78):Qarun berkata: "Sesungguhnya aku diberi harta itu, hanyalah karena ilmu yang ada padaku".
3. Melampaui Batas dan Berbuat Zalim
Qarun berbuat melampaui batas dan bersikap zalim terhadap kaumnya sendiri.
Dalil (QS. Al-Qashash ayat 76):"...dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan."
4. Enggan Berbagi (Tidak Mengeluarkan Zakat)
Kisah Qarun menyoroti orang kaya yang tidak mau berzakat dan tidak peduli pada kaum miskin.
5. Menentang Nabi Musa AS
Qarun bersekongkol dengan Fir'aun dan Haman untuk melawan dakwah Nabi Musa AS.
Akibat Keburukan Qarun (Azab Allah SWT).
Allah SWT. memberikan azab yang berat kepada Qarun berupa penenggelaman dirinya beserta istana dan seluruh harta bendanya ke dalam tanah.
Dalil (QS. Al-Qashash ayat 81):"Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)."
Kisah Qarun menjadi pelajaran utama agar umat Islam tidak terjebak dalam gaya hidup pamer (flexing) dan selalu rendah hati.
Jelas bahwa sifat-sifat saat ini sudah tercermin dari kelakuan beberapa pemimpin, semoga kita semua khususnya para elite penguasa negeri ini terbebas dari meniru sikap Qarun.
Aunur Rofiq
Penulis adalah Pendiri Himpunan Pengusaha Santri Indonesia
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi).
(erd/erd)












































Komentar Terbanyak
Polling: Kemenhaj Wacanakan 'War Tiket' untuk Berangkat Haji, Kamu Setuju?
Eks Menag Kritik Rencana War Tiket Haji Kemenhaj
Diskusi Seru DPR dan Kemenhaj soal Strategi Pangkas Antrean Jemaah Haji