Dalam Islam, kematian (maut) adalah hal yang pasti terjadi pada setiap makhluk bernyawa dan merupakan gerbang menuju kehidupan akhirat. Al-Quran dan hadis Nabi Muhammad SAW. membahas tentang kematian sebagai pengingat bagi umat manusia untuk mempersiapkan diri.
Kematian bukan akhir dari segalanya, tetapi merupakan awal dari kehidupan akhirat. Manusia akan mempertanggungjawabkan semua amal perbuatannya di dunia di hadapan Allah SWT. Adapun waktu dan cara kematian adalah rahasia Allah SWT. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan dan bagaimana ia akan meninggal.Hal ini sesuai dengan surah Luqman ayat 32 yang terjemahannya,"Sesungguhnya Allah memiliki pengetahuan tentang hari Kiamat, menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia kerjakan besok. (Begitu pula,) tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti."
Disini jelas bahwa di bumi mana dan kapan manusia akan mati, itu semua merupakan kewenangan Allah SWT. Kematian berarti hancurnya tabiat badani dan kelemahan tubuh untuk mengikuti instruksi jiwa karena telah kehilangan rasa dan geraknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ingatlah bahwa Allah SWT, betfirman falam surah Yunus ayat 24 yang terjemahannya," Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia adalah ibarat air yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah karenanya macam-macam tanaman bumi yang (dapat) dimakan oleh manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, terhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang. Lalu, Kami jadikan (tanaman)-nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan secara terperinci ayat-ayat itu kepada kaum yang berpikir."
Maknanya adalah : Setelah dijelaskan bahwa kenikmatan yang diperoleh bagi orang orang musyrik hanyalah kenikmatan duniawi, lalu diingatkan bahwa sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi yang kamu dambakan sampai melupakan kehidupan akhirat itu akan cepat sirna, hanya seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, kemudian meresap ke dalam bumi, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman bumi dengan subur karena air itu, di antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya karena tanamannya telah tumbuh warna-warni dengan sangat rindang, dan berhias indah dengan gunung-gunung dan lembah-lembahnya telah menghijau dengan beragam tanam-tanamannya, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, yakni memetik hasilnya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami berupa bencana atau hama pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan tanamannya seperti tanaman yang sudah disabit, yakni telah dipanen, bahkan kedahsyatan azab tersebut mengesankan seakan-akan belum pernah tumbuh tanaman kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada orang yang berpikir yang mau mengambil pelajaran dari azab yang telah ditimpakan kepada orang-orang yang durhaka.
Dengan demikian, kematian adalah kesempurnaan tubuh karena jiwa telah dicabut dari materi. Penulis senandungkan syair :
Tertipu.
Wahai, engkau orang yang tertipu,
Kenapa masih asyik bermain, dengan seribu harapan dan khayalan.
Saat ajal kematianmu sudah dekat.
Seharusnya engkau tahu,
Bahwa kerakusan itu adalah samudera luas yang menjauhkan,
Bahtera dunia di tengahnya.
Tahukah engkau?
Kematian itu pasti akan datang ( ali Imran 185 ).
Rasanya itu sakit.
Engkau ingin waktu lagi, namun tidak bisa, negosiasi tiada berlaku.
Sementara matamu tertutup rapat.
kematianmu adalah awal menentukan nasibmu
Kematian adalah menghentikan semua kenikmatan dunia.
Demikianlah, orang-orang terdahulu tiada dan digantikan oleh generasi baru, sedangkan langit dan bintang tetap seperti sediakala. Bumi dan isinya, seperti binatang dan tumbuh/tumbuhan, dan lainnya tidak mengalami suatu apa pun dan tetap seperti itu sampai Sang Pencipta mengembalikannya. Hal ini sesuai dengan surah al-A'raf ayat 29 yang terjemahannya," Katakanlah (Nabi Muhammad), "Tuhanku memerintahkan aku berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) di setiap masjid dan berdoalah kepada-Nya dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Kamu akan kembali kepada-Nya sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan."
Maknanya adalah : Wahai Nabi Muhammad SAW, berilah penjelasan kepada orang-orang yang berlaku dusta tersebut. Katakanlah pada mereka, "Tuhanku menyuruhku agar kalian dan semua manusia berlaku adil, tidak berlebihan dalam beribadah dan dalam bermuamalah.
Maka lakukanlah hal tersebut dalam semua peribadatan kalian. Hadapkanlah wajahmu, yakni arahkanlah seluruh perhatianmu, kepada Allah SWT. pada setiap shalat. Tunaikanlah shalat dengan sebaik-baiknya, sucikanlah lahir dan batinmu, dan bersihkanlah dari segala bentuk kekejian.
Dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya, mengharap rahmat-Nya, dan takut dari azab-Nya. Ingatlah, setelah kematian, kamu semua akan dibanigkitkan dan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula, sehingga Allah akan membalas segala apa yang kamu perbuat dengan balasan yang setimpal."
Jadi seluruh alam, sebagaimana individu manusia memiliki umur, berawal dan berakhir di dunia ini. Awalnya manusia diciptakan dalam keadaan lemah, kemudian berkembang secara bertahap, setelah dewasa merasa kuat, kemudian menurun kondisinya menjadi lemah dan kembali kepada-Nya. Bisa juga kembali pada saat pertumbuhan sesuai dengan kehendak-Nya.
Setiap orang mendapat karunia akal dan diistimewakan jiwanya oleh Allah SWT. Maka manusia wajib menggunakannya dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Orang yang tidak berakal ( tidak menggunakan akal sama dengan orang yang mendapatkan gangguan jiwa )sehingga perbuatannya di luar kebiasaan.
Jadi tentang kematian tiada perlu ditakutkan karena setiap yang bernyawa akan mati. Kedatangannya yang pasti akan datang. Oleh karena itu, kita perbanyaklah amal ibadah selama kita hidup di dunia. Semoga kita termasuk golongan yang berakal.
Aunur Rofiq
Penulis adalah Pendiri Himpunan Pengusaha Santri Indonesia
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi).
(erd/erd)












































Komentar Terbanyak
Eks Menag Kritik Rencana War Tiket Haji Kemenhaj
Kemenhaj Wacanakan War Tiket Jadi Mekanisme Naik Haji Tanpa Antre
Prabowo Ingin Hapus Antrean Haji, Kemenhaj Kaji Sistem "War Ticket"