- 1. Keutamaan Salat Tarawih di Bulan Ramadan
- 2. Keutamaan Salat Tarawih: Pahala Qiyam Semalam Penuh
- 3. Menjadi Manusia Terbaik di Bulan Ramadan
- 4. Kemenangan Menyambut Ramadan
- 5. Jangan Sampai Bukber Membuat Kita Lalai Salat
- 6. Keistimewaan dan Keutamaan Puasa (1)
- 7. Keistimewaan dan Keutamaan Puasa (2)
- 8. Momentum Memperbaiki Diri di Bulan Ramadan
- 9. Memaksimalkan Kedermawanan di Bulan Ramadan
- 10. Tetap Semangat dan Produktif di Bulan Ramadan
Bulan Ramadan menjadi momen istimewa bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah dan menambah ilmu agama. Salah satu kegiatan yang sering dilakukan setelah salat Isya atau Tarawih adalah menyampaikan kultum singkat Ramadan 5-7 menit yang penuh makna dan mudah dipahami.
Kultum atau kuliah tujuh menit biasanya berisi pesan-pesan ringan seputar keutamaan puasa, amalan di bulan Ramadan, hingga motivasi meningkatkan ketakwaan. Dengan durasinya singkat, materi kultum perlu disusun padat, jelas, dan tetap menyentuh hati jemaah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut 10 kultum singkat Ramadan 5 menit yang cocok untuk Tarawih. Topik-topik ini sederhana, relevan, dan bisa dikembangkan sesuai kebutuhan penceramah maupun remaja masjid mengutip buku Kumpulan Kultum Ramadhan : Berkaca Pada Jiwa 2 oleh Prito Windiarto dan Taupiq Hidayat dan buku Kumpulan Pidato Praktis: Membuat Audiens Terpukau tulisan S. Sopian
1. Keutamaan Salat Tarawih di Bulan Ramadan
الْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَنْعَمْنَا بِنِعْمَةِ الإيمان والإسلام والصلاة والسَّلامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اله وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ أَشْهَدُ أن لا إله إلا الله رب العالمين وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولٌ أَمَّا بَعْدُ اللَّهُ خَاتِمُ النَّبِيِّينَ
Alhamdulillaahilladzii an'am naa bini 'matiliimaani walislaami wash-sholaatu was-salaamu 'alaa muhammadin wa 'ala aalihi wa ash-haabihi ajma 'in asyhadu alla ilaaha illallahu rabbul'aalamiina wa asyhadu anna muhammadarrosulullooh khootimuunnabiyyiina. Amma ba'du.
Alhamdulillah. Segenap puji untuk-Nya yang telah memberikan kita kenikmatan Iman dan Islam. Sholawat dan salam teruntuk Nabi Muhammad SAW, pada keluarga, para sahabatnya.
Salah satu ibadah spesial di bulan Ramadan selain puasa (shaum) adalah salat Tarawih. Salat sunnah qiyamul lail ini hanya ada di bulan suci ini. Ibadah sunnah muakkadah ini sangat sayang jika dilewatkan begitu saja. Banyak sekali keutamaan dan keistimewaan ketika kita menunaikan salat ini. Berikut adalah beberapa di antaranya.
Pertama, salat Tarawih bisa menjadi wasilah diampuninya dosa. Nabi SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, "Barang siapa melakukan qiyam Ramadan (salat Tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni." (HR Bukhari dan Muslim)
Pengampunan dosa dalam hadits tersebut dapat mencakup dosa besar dan dosa kecil berdasarkan tekstual hadits. Namun, ada pendapat lain mengatakan yang dimaksud pengampunan dosa adalah khusus untuk dosa kecil.
Meski begitu, mengingat banyaknya dosa yang kita lakukan, semoga salat Tarawih yang kita lakukan bisa menggugurkannya. Membersihkan dosa-dosa kita.
Dalam riwayat lain dari Abdurrahman bin Auf, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Ramadan adalah bulan di mana Allah mewajibkan puasanya, dan sesungguhnya aku menyunnahkan qiyamnya (Tarawih) untuk orang-orang Islam. Maka barang siapa berpuasa Ramadan dan qiyam Ramadan karena iman dan mencari pahala, maka ia (pasti) keluar dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya. (HR Ahmad, Ibnu Majah)
Kedua, sunnah muakkadah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Salat Tarawih adalah ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Diriwayatkan dari Ibnu Syihab, Urwah menyampaikan kepadanya bahwa Aisyah telah melaporkan jika Rasulullah pada suatu malam (pada bulan Ramadan) berangkat ke masjid dan mendirikan salat di sana. Kemudian orang banyak mengikuti beliau. Keesokan harinya orang bercerita tentang salat Rasulullah itu sehingga jamaah semakin banyak.
Keesokan harinya orang juga bercerita lagi sehingga pada malam keempat jamaah tidak lagi tertampung di masjid. Paginya, setelah selesai salat Subuh, Nabi bersabda: "Amma ba'du. Sesungguhnya aku tahu kemampuan kalian. Akan tetapi aku ragu bila salat Tarawih itu diwajibkan atas kalian, dan kalian tidak mengerjakannya." (HR Bukhari dan Muslim)
Meski sunnah, kita jangan sampai melewatkan ibadah yang muakkadah (sangat dianjurkan ini).
Wallahu a'lam bishowab.
2. Keutamaan Salat Tarawih: Pahala Qiyam Semalam Penuh
الْحَمْدُ للهِ وَ الصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَ عَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ أَشْهَدْ أَنْ أَمَّا بَعْدُ لا إله إلا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله
Alhamdu lillahi wash-sholaatu wassalaamu 'alaa rasuulillaahi wa' alaa aalihi wa shohbihi wa man tabi'ahu asyhadu allaa ilaaha illallohu wa asyhadu anna muhammadaan rasuulullohi. Amma ba'du.
Segenap syukur untuk-Nya Sang Maha Kuasa. Atas nikmat yang tiada hentinya. Sholawat dan salam teruntuk Nabi Mulia, Muhammad SAW.
Pada kultum sebelumnya kita sudah membahas keutamaan Tarawih yakni dihapuskan dosa-dosa dan sunnah yang sangat dianjurkan oleh nabi. Berikut adalah keutamaan berikutnya.
Ketiga, mendapat pahala qiyam semalam penuh. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzar, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa qiyamul lail bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya (pahala) qiyam satu malam (penuh)." (HR Ahmad, Abu Daud, dll)
Hadits shahih di atas menunjukan fadilah salat Tarawih dilaksanakan secara berjamaah di masjid. Pahalanya luar biasa, semisal kita salat malam semalam suntuk. Alhamdulillah.
Perihal hitungan jumlah rakaat Tarawih ada beberapa pendapat. Silakan saja mengikuti pendapat yang rajih. Perbedaan pendapat bukan jadi ajang saling serang, melainkan saling menghargai.
Energi kita, daripada habis untuk debat, alangkah lebih baiknya digunakan untuk mengajak orang lain pada kebaikan atau mencegah kemungkaran.
Demikian secara singkat keutamaan salat Tarawih. Harapannya ini menjadi motivasi bagi diri untuk giat beribadah. Jangan sampai bolong-bolong. Semoga Allah senantiasa membimbing langkah kita. Aamiin Ya Robbal Alamin.
Nashrun minalloh wafathun qorib.
3. Menjadi Manusia Terbaik di Bulan Ramadan
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Ta'ala yang telah menurunkan al-Quran melalui Malaikat yang terbaik yaitu Malaikat Jibril, kepada Rasul yang terbaik yaitu Rasululah shallallahu 'alaihi wa sallam, dari tempat yang terbaik yaitu Lauhul Mahfudz, di negeri yang terbaik yaitu Mekkah dan Madinah, di bulan yang terbaik yaitu bulan Ramadan, dan di malam yang terbaik yaitu malam Lailatul Qodr.
Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah curahkan kepada nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang telah bersabda,
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَ عَلَّمَهُ
"Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR Bukhari, Abu Dawud)
Menjadi manusia terbaik bukan hanya diukur dengan seberapa banyak ilmu yang dimiliki, tetapi lebih dari itu seberapa bermanfaatkah ilmu yang dia miliki untuk orang lain? Tentunya, orang yang memiliki sedikit ilmu lalu dia mengamalkannya dan mendakwahkannya akan lebih baik daripada orang yang memiliki banyak ilmu namun tidak mengamalkan dan mendakwahkannya.
Orang yang telah mengetahui satu huruf dari al-Quran, lalu dengan pengetahuannya itu dia mengajarkan anak-anaknya, keluarganya, dan masyarakatnya maka dia adalah manusia terbaik. Karena dia telah memberikan banyak manfaat dari ilmu yang telah dia dapatkan, bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk orang lain.
Allah Ta'ala berfirman,
"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan dia berkata; sungguh aku termasuk orang-orang muslim". (QS Fusilat: 33)
Oleh karenanya, marilah kita menjadi manusia terbaik yaitu manusia-manusia yang selalu belajar dan mengajarkan al-Quran tanpa mengenal batas usia. Dimulai dengan belajar membacanya sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid, belajar mentadabburinya (merenungi makna-makna yang terkandung di dalamnya), serta berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Jamaah Tarawih rahimakumullah,
Ramadan adalah bulan Al-Qur'an. Maka jika kita ingin menjadi manusia terbaik, dekatilah Al-Qur'an di bulan ini. Bacalah walau satu halaman setiap hari, pahami walau satu ayat, dan amalkan walau satu perintah. Jangan sampai Al-Qur'an hanya berhenti di lisan, tetapi tidak sampai ke hati dan perbuatan.
Menjadi manusia terbaik juga berarti menjadi pribadi yang bermanfaat. Apa yang sudah kita pelajari, sampaikan kepada keluarga kita. Ajarkan anak-anak kita huruf demi huruf. Ingat, orang yang mengajarkan satu huruf Al-Qur'an pun termasuk dalam golongan sebaik-baik manusia sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Ramadan adalah kesempatan emas. Bisa jadi inilah Ramadan terakhir kita. Maka jangan tunda untuk menjadi lebih baik. Perbaiki shalat kita, perbaiki bacaan kita, perbaiki akhlak kita.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk manusia-manusia terbaik di bulan Ramadan ini, yang belajar Al-Qur'an, mengajarkannya, dan mengamalkannya dalam kehidupan.
Wallahu a'lam bish-shawab.
4. Kemenangan Menyambut Ramadan
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Saudara-saudari yang dirahmati Allah,
Hari ini, kita berkumpul dalam kebersamaan untuk merayakan kedatangan bulan suci Ramadan. Ramadan merupakan momen istimewa yang dinanti-nantikan oleh umat Islam di seluruh dunia sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, membersihkan hati dan jiwa, serta meningkatkan ketaqwaan dan ibadah.
Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, surah Al-Baqarah ayat 185:
شَهرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كان مريضا أو على سفرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ آخر يُرِيدُ الله بكم اليُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ ) وَلِتُكْبَرُوا الله عَلى مَا هَدْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya: "Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan. (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran."
Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.
Dalam ayat ini, Allah SWT mengisyaratkan kepada kita bahwa bulan Ramadan adalah kesempatan yang sangat berharga untuk mendapatkan keberkahan dan ampunan-Nya. Oleh karena itu, mari kita sambut kedatangan Ramadan dengan hati yang bersih dan tekad yang kuat untuk menjalankan ibadah dengan penuh kesungguhan.
Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menyambut Ramadan dengan baik:
Membersihkan Hati dan Jiwa: Sebelum Ramadan tiba, mari kita introspeksi diri dan membersihkan hati serta jiwa dari segala dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan. Bersihkan hati dari rasa iri, dengki, dan kebencian, serta tingkatkan kebaikan dan ketakwaan dalam diri.
Menetapkan Tujuan dan Niat: Tetapkan tujuan yang jelas untuk Ramadan ini. Apakah itu memperbanyak ibadah salat, membaca Al-Qur'an, bersedekah, atau menjauhi hal-hal yang merusak keimanan. Sertakan niat yang tulus dan ikhlas untuk menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya selama bulan suci ini.
Mengatur Waktu dan Kegiatan: Merencanakan waktu dan kegiatan selama Ramadan agar dapat memaksimalkan ibadah. Tentukan waktu untuk beribadah, berdoa, membaca Al-Qur'an, serta waktu untuk istirahat dan menjaga kesehatan tubuh.
Meningkatkan Kebaikan dan Kebajikan: Gunakan bulan Ramadan sebagai kesempatan untuk meningkatkan kebaikan dan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Bersedekah kepada yang membutuhkan, berbuat baik kepada sesama, dan menjaga hubungan silaturahmi dengan keluarga dan tetangga.
Jamaah sekalian,
Dengan menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan tekad yang kuat, kita akan dapat meraih keberkahan dan rahmat yang Allah SWT janjikan dalam bulan suci ini. Mari manfaatkan setiap momen dalam Ramadan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, memperbaiki diri, dan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
5. Jangan Sampai Bukber Membuat Kita Lalai Salat
Asalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh
الْحَمْدُ لِلَّهِ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرًا مُبَارَكًا وَفَرَضَ عَلَيْنَا الصِّيَامَ لأَجْلِ التَّقْوَى أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مَحَمَّدٍ بِالْمُجْتَبِي وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التَّقَى وَالْوَلَى أَمَّا بَعْدُ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيمِ : فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ ( ٤ ) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ( ٥ ) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُوْ ٦ ) وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُونَ ( ۷ )
Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, Saudara-Saudari,
Bagaimana puasa hari ini? Semoga selalu lancar Amiin ya Rabbal Alamiin
Tema ceramah hari ini sangat menarik yakni, Bukber semangat, tapi salat Maghrib terlewat. Ada di sini orang yang pernah seperti itu? Orangnya datang? Jangan diulangi lagi ya.
Sebelum dibahas lebih lanjut, mari kita baca bersama-sama QS Al-Ma'un ayat 4-7.
"4. Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat; 5. (yaitu) yang lalai terhadap salatnya; 6. Yang berbuat riya; 7. Dan enggan (memberi) bantuan."
Hadirin yang dirahmati Allah SWT
Baca ayat ini jangan hanya sepotong ya Pak, Bu. Jangan hanya fawailul lil mushollin. Jika hanya sepotong, ini bahaya, masak orang yang melaksanakan salat kok celaka. Kita lihat ayat setelahnya, yaitu orang yang lalai terhadap salatnya.
Maksud dari lalai itu apa sih? Ini yang mesti dijelaskan. Syekh Ibnu Asyur dalam kitab tafsirnya At-Tahrir wa AtTanwir menekankan betul bahwa kata sahûn itu bukan lalai karena lupa tidak melakukan sunnah ab'ad dalam salat, seperti lupa tidak tasyahud awal misalnya, atau karena ragu dengan jumlah rakaat salat. Bukan itu maksudnya. Kalau itu kan kita diminta untuk melakukan sujud sahwi.
Ibnu Asyur menyebutkan bahwa orang lalai itu adalah orang yang melakukan salat karena riya', tidak ikhlas dan tanpa ada niat yang tulus. Orang ini pun mudah meninggalkan salat. Ini yang dimaksud sebagai orang yang lalai itu.
Imam Jajaluddin As-Suyuthi mengumpulkan beberapa riwayat yang menafsirkan ayat ini. Dalam kitab Ad-Durrul Mantsur, salah satu riwayat itu adalah:
وأَخْرَجَ ابْنُ جَرِيرٍ، وَابْنُ مَرْدُويَة عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَالَّذِينَ هُم عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ قَالَ : هُمُ الْمَنافِقُونَ يَتْرُكُونَ الصَّلاةَ في السر ويُصَلُّونَ في العلانية
Artinya: "Ibnu Jarir dan Ibnu Marduwiyah dari Ibnu Abbas menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang munafik yang meninggalkan salat saat tidak ada orang dan salat saat di keramaian."
Dari sini, istilah munafik itu sangat luas artinya. Tetapi, yang perlu digaris bawahi adalah dalam kondisi apapun jangan pernah menyepelekan salat. Wajib is wajib, no debat!!
Hadirin yang dirahmati Allah SWT
Buka bersama pada dasarnya adalah aktivitas yang boleh dan baik. Karena hadis Nabi sebenarnya menyebutkan bahwa kebahagiaan bagi orang yang berpuasa itu salah satunya karena berbuka.
Rasulullah SAW bersabda:
الصَّالِمِ فَرْحَتَانِ : فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
Artinya: "Orang yang berpuasa akan meraih dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka puasa/berhari raya, dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya." (HR Muslim)
Saya membayangkan betapa nikmatnya berbuka puasa bersama. Di momen tersebut, kita bisa silaturahim mengumpulkan sanak famili, kerabat, tetangga, bahkan kawan lama. Kebahagiaan itu memang sudah Rasulullah SAW sampaikan.
Tetapi, problemnya bukan di buka bersama ya Pak, Bu. Problemnya adalah jika orang-orang yang berbuka puasa itu melewatkan salat Magrib. Allah SWT, memperingati betul, bahwa orang yang melewatkan puasa ini disebut akan celaka lho. Jadi, kita perlu berhati-hati.
Terima kasih saya sampaikan, mohon maaf atas segala kekurangan.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb
6. Keistimewaan dan Keutamaan Puasa (1)
Alhamdulillah. Segala puji hanya untuk-Nya. Penguasa alam semesta. Karunia-Nya tak terhingga.
Sholawat dan salam teruntuk junjungan mulia, Muhammad SAW. Semoga kita dapat mengikuti sunnahnya.
Tak terasa, hari ini kita sudah berada di masa bulan kemuliaan. Bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih utama dari 1000 bulan. Inilah saat salah satu ibadah teragung, yakni puasa, wajib dikerjakan.
Di bulan yang indah ini kita diperintahkan untuk melaksanakan ibadah puasa. Ibadah puasa spesial karena ia benar-benar jalur langsung antara seorang hamba dengan Rabb-Nya. Ibadah ini langsung dinilai oleh Allah Sang Maha Kuasa. Rasulullah SAW. meriwayatkan firman Allah SWT. Dalam hadits Qudsi yang artinya, "Setiap amal manusia adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya (puasa) itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya." (HR Ahmad dan Muslim)
Pada kesempatan ini izinkan saya untuk memaparkan ulang keutamaan puasa yang dihimpun dari berbagai sumber.
Pertama, puasa sebagai penghapus dosa-dosa. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadan, karena penuh keimanan dan mengharap ridha Allah maka dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni" (HR Bukhari dan Muslim)
Selain itu, dalam hadits lain disebutkan bahwa, "salat wajib lima waktu, (dari) satu Jumat ke Jumat selanjutnya, (dari) Ramadan ke Ramadan, akan dapat menghapuskan dosa-dosa, selama dia tidak melakukan dosa besar." (HR Muslim)
Dua hadits di atas jelas menunjukkan bahwa jika kita berpuasa dengan sebenar-benarnya penuh keimanan, ikhlas demi-Nya dan mengharap ganjaran dari-Nya, maka dosa-dosa kita akan diampuni.
Kedua, puasa adalah perisai (penghalang). Dalam hadits riwayat Imam Ahmad disebutkan, "Puasa itu perisai (penghalang), yang akan menghalangi seorang hamba dari api neraka." Hadits itu dikuatkan oleh hadits riwayat Imam Nasa'i, "Puasa itu penghalang, selagi ia tidak dirusak."
Berdasarkan hadits itu kita meyakini bahwa puasa yang kita lakukan, selagi tidak dirusak, akan menjadi penghalang (perisai) dari api neraka kelak. Adapun hal-hal yang merusak puasa diantaranya adalah dusta, menggunjing, memfitnah, dan kemaksiatan lainnya. Karena itu sudah selazimnya kita menjaga puasa kita agar tetap bermakna.
Rasulullah mengingatkan, "Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali hanya rasa lapar. Dan betapa banyak orang yang salat malam, tapi tidak mendapatkan dari salatnya kecuali hanya begadang." (HR Ibnu Majah)
Demikianlah, dua dari banyak keutamaan puasa ini semoga menjadi motivasi bagi kita agar bisa menjalankan puasa sebaik-baiknya.
Allohumma ainna 'ala dzkirika wasykrika wahusni ibadatika. Aamiin ya robbal alamin.
Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.
7. Keistimewaan dan Keutamaan Puasa (2)
Syukron wahamdan lillah. Segenap kesyukuran untuk-Nya. Tiada illah selain-Nya. Semoga kita senantiasa ada dalam lindungan-Nya.
Allohumma sholi 'ala Muhammad. Semoga sholawat senantiasa untuk teladan kita, Nabi Muhammad SAW.
Pada kultum sebelumnya kita sudah mengupas perihal puasa sebagai penghapus dosa-dosa dan puasa sebagai penghalang dari api neraka. Berikut adalah keutamaan berpuasa berikutnya.
Ketiga, puasa merupakan sebab tercapainya kebahagiaan dunia akhirat. Rasulullah SAW. bersabda, "Ada dua kegembiraan bagi seorang yang puasa: kegembiraan saat dia berbuka dan kegembiraan saat berjumpa dengan Rabb-Nya di akhirat." (HR Bukhari dan Muslim)
Begitulah, dengan berpuasa kita memperoleh dua kenikmatan. Kenikmatan pertama di dunia saat berbuka, dan kenikmatan kedua saat di akhirat, ketika bertemu dengan Rabb-Nya. Masya Allah.
Keempat, puasa merupakan jalan menuju surga. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits yang cukup panjang berkenaan dengan ini.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya di surga nanti ada sebuah pintu yang dinamakan Ar-Rayyan, orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tak seorang pun yang akan memasukinya selain mereka. Dikatakan kepada mereka, 'Di mana orang-orang yang berpuasa? maka kemudian mereka berdiri dan dikatakan, Tak seorang pun memasuki pintu tersebut selain mereka. Maka, jika mereka telah masuk semua, pintu itu segera ditutup kembali dan tidak diperkenankan memasukinya selain mereka."
Kelima, puasa dapat memberi syafaat. Dari Abdullah bin Amr bin Ash RA, Rasulullah SAW bersabda, "Puasa dan Al-Qur'an dapat memberikan syafaat bagi hamba pada hari kiamat. Puasa akan berkata, "Ya Rabb, aku telah mencegahnya dari makan dan syahwatnya sepanjang siang hari maka berikanlah syafaatku kepadanya. Al-Qur'an berkata, 'Aku telah mencegahnya dari tidur pada malam hari maka berikanlah syafaatku kepadanya. Lalu, keduanya pun memberikan syafaat." (HR Ahmad, Al Hakim, Ibnu Mubarok)
Kelima, bau orang yang berpuasa lebih harum dari kesturi. Rasulullah SAW bersabda, "Demi jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang sedang puasa itu lebih disukai Allah daripada aroma kesturi." (HR Bukhari dan Muslim)
Subhanallah. Betapa agungnya keutamaan ibadah puasa. Pada akhirnya, semoga kita dapat melaksanakan puasa sebaik-baiknya dan mendapatkan keutamaan yang istimewa tersebut. Aamiin Ya Rabb. Wallahu a'lam bishowab.
Hasbunalloh wani 'mannashir. wani'mal wakil, ni'mal maula wani 'mannashir.
8. Momentum Memperbaiki Diri di Bulan Ramadan
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin, segala puji hanya bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan sehingga kita dapat melaksanakan ibadah di bulan suci Ramadan ini. Sholawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan umatnya hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan. Allah SWT melipatgandakan pahala, membuka pintu rahmat, serta mengampuni dosa-dosa hamba-Nya. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan dengan iman dan penuh harap akan ridha Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR Bukhari dan Muslim)
Inilah kesempatan emas bagi kita untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mari kita isi Ramadan ini dengan memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur'an, sedekah, dan amal kebaikan lainnya. Jangan sampai kita melewati bulan suci ini hanya dengan lapar dan dahaga, tanpa mendapat ampunan dari Allah.
Hadirin sekalian,
Izinkan saya menyampaikan tiga pesan singkat sebagai renungan di bulan suci ini:
Pertama, jaga lisan. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari ucapan yang sia-sia, ghibah, atau menyakiti hati orang lain.
Kedua, perbanyak amal kebaikan. Ramadan adalah bulan Al-Qur'an. Mari kita biasakan membaca dan menghayati maknanya. Perbanyak juga sedekah, karena sekecil apa pun kebaikan akan mendapat balasan berlipat ganda.
Ketiga, perbaiki hubungan sesama. Ramadan mengajarkan kita untuk saling memaafkan, mempererat silaturahmi, dan menumbuhkan kepedulian sosial. Jangan biarkan dendam atau perselisihan merusak ibadah kita.
Hadirin yang berbahagia,
Ramadan bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga momentum untuk memperbaiki diri. Jadikan bulan ini sebagai titik balik untuk menjadi hamba yang lebih taat, lebih sabar, dan lebih peduli terhadap sesama.
Akhir kata, mari kita doakan semoga Allah menerima amal ibadah kita dibulan suci ini, mengampuni dosa-dosa kita, serta memberikan kesempatan kepada kita untuk bertemu kembali dengan Ramadan di tahun yang akan datang.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
9. Memaksimalkan Kedermawanan di Bulan Ramadan
Asalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh
Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia,
Kedermawanan sudah seharusnya menjadi ciri khas orang-orang bertakwa. Orang dermawan disukai oleh siapa saja, terutama disukai oleh Allah. Banyak sekali perintah dalam Al-Qur'an atau hadis agar kaum muslimin gemar berinfak dan bersedekah. Selain ganjaran pahala melimpah, orang yang dermawan memperoleh rahmat Allah dan rezeki yang tidak pernah surut.
Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan. Kedermawanan beliau semakin meningkat di bulan Ramadan. Saking takjubnya para sahabat dengan kedermawanan Rasulullah, maka kedermawanan beliau di bulan Ramadan dikiaskan melebihi lembutnya angin yang berhembus, masyaAllah!
Jika kita berinfak atau bersedekah setiap hari selama bulan Ramadan, maka kebiasaan tersebut akan membekas dan menjadi kebiasaan permanen yang sangat positif. Jangan dilihat besar atau kecilnya jumlah uang yang kita sedekahkan. Yang sangat mahal adalah keberhasilan kita menjadi dermawan setiap hari.
Jamaah yang dimuliakan Allah
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an mengenai orang orang yang dermawan:
الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَهُم بِاليْلِ وَالنَّهارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya: "Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati." (QS Al-Baqarah: 274)
Selain itu, dalam firman-Nya, Allah juga mengingatkan betapa besar pahala infak dan sedekah sangat berlimpah. Allah berfirman:
مثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَهْوَهُمْ فِي سَبِيلِ الله كَمَثَلِ حَبَّةٍ البعث سبع سنابل في كل سُنُبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضْعِفُ لمَن يَشَاءُ وَاللَّهُ وَسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya: "Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui." (QS Al-Baqarah: 261)
Jamaah yang dimuliakan Allah
Oleh karena itu, anjuran meneladani kedermawanan Rasulullah, terlebih di bulan Ramadan, tercantum dalam hadisnya.
إِنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلام يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِحْ يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامِ كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
Artinya: "Sesungguhnya Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang paling lembut (dermawan) dalam segala kebaikan. Dan 53 kelembutan Beliau yang paling baik adalah saat bulan Ramadan ketika Jibril alaihissalam datang menemui beliau.
Dan Jibril Alaihissalam datang menemui Beliau pada setiap malam di bulan Ramadan (untuk membacakan Al Qur'an) hingga Al Qur'an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Apabila Jibril Alaihissalam datang menemui Beliau, maka Beliau adalah orang yang paling lembut dalam segala kebaikan melebihi lembutnya angin yang berhembus." (Muttafaq Alaih).
Maksud dari kedermawanan Rasulullah SAW melebihi lembutnya angin yang berhembus adalah:
أَشَارَ بِهِ إِلَى أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْإِسْرَاعِ بِالْجُودِ أَسْرَعَ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ وَإِلَى عُمُومِ النَّفْعِ بِجُودِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا نَعْمُ الرِّيحُ الْمُرْسَلَةَ جَمِيعَ تَهُبُ عَلَيْهِ
Artinya: "Menunjukkan sangat cepat dalam hal kedermawanan melebihi cepatnya angin ketika berhembus. Kedermawanan Nabi SAW juga memberikan manfaat yang menyeluruh seperti hembusan angin yang memberikan manfaat pada apa yang dilewatinya."
Jamaah yang dimuliakan Allah
Orang dermawan dijamin tidak akan merasa takut dan sedih, terutama di akhirat. Al Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya, Mafatih Al-Ghaib menulis sebagai berikut:
إِنَّهَا تَدُلُّ عَلَى أَنَّ أَهْلَ الثَّوَابِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيُتَأَكَّدُ بِذَلِكَيقَوْلِهِ تَعَالَى ) لَا يَحْزُقُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ )
Artinya: "Sesungguhnya (ayat 274 Al-Baqarah) menunjukkan bahwa orang yang mendapat ganjaran sedekah tidak merasa ketakutan pada hari kiamat, hal ini dikuatkan dengan ayat Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar pada (hari kiamat), (QS Al-Anbiya: 103)"
Jamaah yang dimuliakan Allah
Jangan lewatkan kesempatan di bulan Ramadan untuk meningkatkan kedermawanan dengan cara bersedekah atau berinfak serajin mungkin agar kita tetap menjadi dermawan setiap hari walaupun Ramadan telah pergi.
10. Tetap Semangat dan Produktif di Bulan Ramadan
Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Puasa Ramadan bukan penghalang untuk bekerja produktif. Justru dengan niat yang lulus dan perencanaan yang baik, ibadah puasa bisa menjadi pendorong semangat kerja.
Lantas mengapa puasa tidak menghambat produktivitas? Pertama, puasa melatih disiplin dan kontrol diri. Selama berpuasa, kita dituntut untuk memisahkan kapur dan haus. Disiplin ini terbawa ke dalam dunia kerja. Kisa jadi lebih bisa mengatur waktu, fokus pada pekerjaan, dan menghindari hal-hal yang bisa mengganggu konsentrasi.
Mu'asyiral Muslimin wal Muslimat nabhimakumullah
Kedua, puasa menyehatkan tubuh dan pikiran. Dengan pola makan teratur saat sahur dan berbuka, asupan nutrisi menjadi lebih terjaga. Hal ini berdampak positif pada kesehatan secara keseluruhan, sehingga kita sap berenergi dan bisa bekerja secara optimal. Selain itu, puasa juga diyakini dapat meningkatkan kejernihan pikiran dan kesenangan batin, yang tentunya akan mendukung produktivitas.
Ketiga, puasa menumbuhkan semangat berbagi dan kepedulian. Suasana Ramadan yang penuh kebersamaan dan kedermawanan bisa memotivasi kita untuk bekerja lebih giat. Dengan niat beribadah, kita akan merasa bahwa pekerjaan yang kita lakukan tidak hanya mendatangkan keuntungan finansial, tapi juga pahala.
Dalam Al-Qur'an, Allah mengingatkan manusia bahwa bukorja untuk memenuhi nafkah keluarga termasuk kewajiban. Pada surah at-Taubah ayat 105 Allah mengingatkan pentingnya bekerja serta larangan untuk bermalas-malasan, ayatnya tersebut berbunyi yang artinya,
"Dan katakanlah: "bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya seria anang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyasa, lalu diborilakanı-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan."
Pada sisi lain, dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim bahwa bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, meskipun dengan pekerjaan yang kasar, lebih mulia daripada meminta-minta kepada orang lain. Hal ini berlaku meskipun orang yang dimintai memberi atau menolak permintaan tersebut.
"Sungguh seorang dari kalian yang memanggul kayu bakar dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada seseorang, bak orang itu memberinya alau menolaknya." (HR Bukhari dan Muslim)
Pun dalam Al-Qur'an, Allah SWT juga mengingatkan umatnya agar tidak hanya berdoa, namun juga melakukan usaha nyata dalam mencari rezeki. Hal ini menunjukkan bahwa Islam memandang kerja keras sebagai salah satu cara untuk mencapai keberkahan dan mendapatkan ridha Allah SWT.
Selain menekankan pentingnya usaha dan kerja keras, Islam juga menganjurkan agar setiap orang bekerja dengan cara yang halal. Konsep ini mengacu pada prinsip bahwa segala sesuatu yang diperoleh harus melalui cara yang sah dan ädak melanggar aturan agama.
Dalam Islam, kehalalan dalam mencari nafkah dianggap sebagai bagian penting dari ibadah dan ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, umat Islam diajarkan untuk menghindari segala bentuk pokerjasan atau praktik yang melibatkan penipuan, korupsi, atau akispłoilasi terhadap orang lain.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Imam Nawawi berkata dalam kitab Shahih Muslim:
"Sesungguhnya dalam hadits tersebut terdapat anjuran untuk bersedekah, makan dari hasil kerja tangan sendiri, dan mencari penghasilan dengan cara yang halal."
Dengan demikian, puasa bukan alasan untuk menjadi tidak produktif dalam bekerja. Justru sebaliknya, puasa melatih setiap orang untuk bisa lebih disiplin dan mandiri dalam kehidupannya.
Itulah 10 kultum singkat Ramadan 5 menit yang cocok untuk Tarawih yang bisa menjadi referensi ceramah ringan, padat, dan penuh makna. Setiap tema dalam daftar ini dapat disesuaikan dengan kondisi jemaah agar pesan Ramadan semakin menyentuh hati dan mudah diamalkan. Semoga bermanfaat, ya!
(kri/kri)












































Komentar Terbanyak
Dubes Saudi: Serangan Iran ke Negara Teluk Berdampak pada Solidaritas Umat Islam
Mengenang Thessaloniki, Kota Muslim di Yunani yang Hilang
Kisah Wanita Pemberani 'Sang Perisai Rasulullah' di Perang Uhud