Seorang anak penggembala domba yang menginjak usia dewasa, adapun domba yang digembalakan milik seorang pembesar Mekah yaitu Uqbah bin Abu Muaith. Anak itu dipanggil Ibnu Ummi Abd, namanya adalah Abdullah, bapaknya bernama Mas'ud.
Suatu hari Abdullah bin Mas'ud melihat dari kejauhan dua orang lelaki berwibawa menuju ke arahnya, keduanya tampak kelelahan dan kehausan. Ketika keduanya sampai di hadapan Abdullah, mereka mengucapkan salam dan berkata, "Wahai anak, perahlah susu domba ini untuk kami, kami sangat kehausan dan tenggorokan kami kekeringan."
Anak itu ( Abdullah ) menjawab,"Tidak, aku tidak mau. Ini bukan dombaku, aku hanya penggembalanya."
Kedua orang itu memahami jawaban Abdullah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keteguhan hati telah ditunjukkan oleh seorang penggembala, ia tahu bahwa dirinya tidak berhak atas hewan yang digembalakan. Keteguhan hati anak ini kelak akan menjadi orang yang memberikan sumbangan besar pada agama Islam, meskipun saat itu ia belum memeluk Islam.
Dalam pandangan Islam, orang yang mampu membedakan antara kebenaran (haq) dan kebatilan (bathil) sangat dihargai dan dianggap penting. Islam mengajarkan agar umatnya tidak mencampuradukkan yang haq dengan yang bathil, dan juga tidak menyembunyikan kebenaran yang diketahui.
Allah SWT. telah memberikan tuntunan untuk menyikapi sesuatu yang hak dan batil, sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Baqarah ayat 42 yang terjemahannya, "Janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (jangan pula) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahui(-nya)."
Pada ayat ini, Allah SWT. memberikan larangan kepada Bani Israil untuk tidak mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan. Dan janganlah kamu, wahai Bani Israil, campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dengan memasukkan apa yang bukan firman-Nya ke dalam Kitab Taurat, dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran firman-firman tersebut seperti berita akan datangnya Nabi Muhammad SAW, sedangkan kamu mengetahuinya. Orang-orang Yahudi menyembunyikan berita tentang kedatangan Nabi Muhammad SAW. yang termaktub di dalam Taurat dengan maksud untuk menghalangi manusia beriman kepadanya.
Seorang penggembala yang baru menginjak dewasa sudah mampu membedakan yang hak dengan yang batil. Salah satu dari kedua lelaki itu minta ditunjukkan domba betina yang belum dikawini pejantan.
Setelah mengelus emping domba dan menyebut nama Allah SWT. maka keluarlah susu dan mereka meminumnya. Penggembala itu tertegun keheranan. Kedua lelaki itu adalah Rasulullah SAW. dan sahabatnya Abu Bakar ash-Shiddiq.
Ringkas cerita penggembala itu memeluk Islam dan mengabdi kepada Rasulullah SAW. Abdullah bin Mas'ud selalu menyertai Rasulullah SAW. seperti bayangan dengan pemiliknya, ia berada disamping beliau ketika tinggal dan dalam perjalanan, menyertainya di dalam dan di luar rumah.
Abdullah bin Mas'ud terdidik di rumah Rasulullah SAW. Maka ia mengambil petunjuknya, berakhlak dengan akhlaknya, bersifat dengan sifatnya, mengikutinya dalam semua tindak-tanduknya, sehingga dikatakan bahwa ia orang yang paling mirip akhlak dan perilakunya dengan Rasulullah SAW.
Adapun keutamaan dan kedudukan orang yang berakhlak mulia sebagaimana hadis yang diriwayatkan Tirmidzi, Rasulullah SAW. bersabda, "Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin selain akhlak yang baik. Sungguh, Allah SWT. membenci orang yang berkata keji dan kotor."
Umar bin Khatab bercerita, "Suatu malam Rasulullah SAW. sedang berbincang dengan Abu Bakar, keduanya bermusyawarah tentang urusan umat, sementara aku bersama mereka, kemudian Rasulullah SAW. keluar dan kami mengikuti beliau, kami melihat seorang lelaki berdiri shalat di masjid, kami tidak mengetahui siapa dia, Rasulullah SAW. berhenti dan mendengar bacaannya, kemudian beliau menoleh kepada kami dan berkata, "Barangsiapa ingin membaca al-Qur'an dalam keadaan segar sebagaimana ia turun maka hendaknya dia membacanya dengan bacaan Ibnu Ummi Abd.
Kemudian Abdullah bin Mas'ud duduk untuk berdoa, maka Rasulullah SAW. mengucapkan, "Mintalah doa kepadanya niscaya doanya akan dikabulkan (2x). Dia bersifat seperti sifat Rasulullah SAW dan berakhlak seperti akhlaknya, tentu Allah SWT. menyayanginya dan doa hamba-hamba yang disayangi-Nya doanya dikabulkan.
Abdullah bin Mas'ud bukan sekadar seorang ahli al-Qur'an, ahli ilmu dan ahli zuhud, lebih dari semua itu dia adalah seorang yang kuat, teguh dan pemberani jika perkara serius menghadangnya. Dia adalah muslim pertama yang melantunkan al-Qur'an di muka bumi ini secara terbuka setelah Rasulullah SAW.
Semoga Allah SWT. memberikan cahaya-Nya agar kita bisa mencontoh perilaku Abdullah bin Mas'ud.
Aunur Rofiq
Penulis adalah Pendiri Himpunan Pengusaha Santri Indonesia
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)
(erd/erd)












































Komentar Terbanyak
Ilmuwan Temukan Bukti Hajar Aswad Bukan Berasal dari Bumi
10 Dalil tentang Rezeki Sudah Diatur oleh Allah SWT
Kalender 2026: Jadwal Puasa Wajib dan Sunnah Sepanjang Tahun