Tiga makhluk itu bersicepat. Melesat tanpa meninggalkan jejak. Melebihi kecepatan pesawat ulang alik yang pernah digunakan Neil Amstrong mendarat di bulan. Kecepatan Discovery dan Columbus tidak akan melampaui angka 20.000 km per jam. Jika melebihi itu, salah satu produk kehebatan otak manusia ini akan meledak menjelma zarah debu. Konon, untuk bisa sampai ke bintang terdekat saja, dua jenis pesawat tersebut, butuh waktu tempuh tidak kurang dari 450 tahun!
Menurut catatan ilmu astronomi, bintang terdekat ke bumi, berjarak 8 tahun perjalanan cahaya yang berkecepatan 300 ribu km per detik. Lantas, berapa waktu yang kita butuhkan? Yaitu 8 tahun x 365 hari x 24 jam x 60 menit x 60 detik x 300.000 km = 75.686.400.000.000 km. Dengan pesawat Discovery atau Columbus yang berkecepatan 20.000 km per jam, maka kita baru akan sampai di bintang itu, setelah perjalanan sekitar 450 tahun. Amboooi. Alangkah lamanya!
Tapi, tiga makhluk itu melayang jauh. Sangat jauh. Di luar jangkauan ilmu pengetahuan. Di luar capaian sains paling canggih yang pernah ada. Di luar standar teknologi yang berhasil dibuat. Bahkan, tak terjangkau oleh produk digital paling mutakhir. Beribu-ribu kali lipat kecepatan Discovery dan Columbus. Menurut hitung-hitungan ilmu astronomi, kecepatan mereka 300 ribu km per detik. Jelas sekali, mereka bukan berasal dari bangsa manusia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kalau sebangsa manusia atau yang yang sejenis, mereka akan meledak dan hancur menjadi serpihan subatomik. Sebab, tubuh manusia tersusun dari banyak organ. Seperti organ jantung, otak, lever, ginjal, usus, tangan, darah, kaki, kepala, kulit dan lainnya. Organ-organ itu, terbentuk dari zat yang lebih kecil, yaitu sel; seperti sel jantung, sel otak, sel lever, sel ginjal, sel usus, sel kaki, sel tangan, sel darah, sel kepala, sel kulit. Sel-sel itu pun tersusun dari molekul.
***
Dan, molekul-molekul yang jumlahnya miliaran, juga tersusun dari atom yang tiada terbilang. Atom-atom terdiri dari triliunan partikel subatomik. Alhasil, tubuh manusia terbentuk dari organ, sel, molekul, atom dan partikel subatomik yang sangat kompleks. Semua unsur tersebut meniscayakan tubuh memiliki massa. Karena punya massa, maka secara kodrati manusia tidak akan berkecepatan hingga 300 ribu km per detik! Tubuhnya akan terburai!
Material tubuh manusia terbentuk dengan mekanisme tertentu serta mengadaptasi mekanisme "energi ikat" yang sangat rumit. Karena adanya kekuatan saling ikat antarunsur, maka terbentuklah tubuh seperti yang dapat kita saksikan saat ini. Partikel subatomik berkumpul dan membentuk atom. Atom-atom itu juga saling mengikatkan diri sehingga membentuk molekul. Demikian pula dengan molekul-molekul. Mereka saling ikat dan membentuk sel-sel.
Miliaran sel hasil bentukan molekul, juga saling ikat antarmereka sehingga terbentuklah semua organ. Terakhir; organ jantung, organ ginjal, organ otak, organ darah, organ tulang, organ lever, organ rambut, organ kulit, organ tangan, organ kaki, organ kuku, dan organ lainnya, saling ikat untuk membentuk tubuh manusia. Demikianlah! Tubuh manusia akan tetap utuh seperti itu, sepanjang energi ikat masih bekerja alias sebelum ajal tiba.
***
Lalu, siapa gerangan ketiga makhluk yang berkemampuan beyond manusia itu? Merujuk pada banyak riwayat, mereka adalah Malaikat Jibril As, Buraq dan Baginda Nabi Muhammad. Ketiganya sedang mengarungi "samudera" alam semesta. Melintasi ruang dan waktu. Umat Islam wajib hukumnya beriman kepada Jibril. Dia adalah bagian dari malaikat Allah. Sebagaimana juga kita wajib hukumnya mengimani Muhammad SAW sebagai bagian dari para nabi dan rasul-Nya. Dua unsur dari Rukun Imam yang enam.
Mengimani bahwa; penghuni alam malakut seperti Jibril As., diciptakan dari material nur atau cahaya. Berbeda dari iblis yang dicipta dari material api. Kata ilmu fisika, di alam semesta, hanya cahaya yang memiliki kecepatan "tertinggi". Ia adalah makhluk Tuhan dengan kecepatan 300 ribu km per detik. Jibril As dan Buraq adalah cahaya. Jibril dan Buraq adalah dua di antara tiga makhluk yang malam itu melesat dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina. Satunya lagi siapa?
Satunya lagi adalah Sang Nabi. Sang Manusia. Yang badannya tersusun dari organ, sel, molekul, atom, partikel subatomik. Tubuhnya sarat material. Karena itu, amat sulit dinalar, ketika Sang Nabi terbukti sangat leluasa bermanuver di atas kecepatan supersonic. Jika tidak biasa, naik pesawat komersial akan membuat gendang telinga tersiksa. Itu baru tipe pesawat umum yang kecepatannya berkisar 800 hingga 900 km per jam. Bagaimana dengan Buraq yang kecepatannya 300 ribu km per detik?
***
Malam itu, Nabi Muhammad ditemani Jibril As berselancar di alam semesta menunggang cahaya bernama Buraq. Naik dari satu langit ke langit lain. Keluar dari tingkap langit pertama dan masuk ke tingkap langit kedua. Demikian seterusnya. Hingga rezim ilmu pengetahuan mencapai puncaknya saat ini, ilmu astronomi pun belum pernah memprediksi bahwa langit berada dalam posisi bertingkat-tingkat. Dan, ketiga makhluk itu menyelam serta mengarungi lelangit, lalu hinggap di batas Al Baytul Ma'mur.
Bagaimana ini bisa terjadi? Itu semua terjadi karena kehendak Allah SWT. Tanpa itu, maka peristiwa fenomenal dan kontroversial tersebut tidak akan pernah ada. Semua karena campur tangan dan skenario-Nya. Ini adalah peristiwa yang belum pernah terjadi dan diyakini tidak akan pernah terulang lagi di masa depan dalam sejarah kehidupan manusia. Rasul melakukan safar malam, karena diperjalankan. "Asraa bi 'abdihi-- Dia telah memperjalankan hamba-Nya."
Ini kata kuncinya. Adalah Tuhan yang berkehendak memperjalankan Nabi Muhammad SAW, dan bukan karena atas kehendak sendiri. Perjalanan yang melintasi dimensi-dimensi di luar kebiasaan. Untuk kepentingan itu, maka Allah memerintahkan Jibril As dan mengirimkan Buraq. Menyiapkan kumparan energi dan gelombang elektromagnetik, di dua masjid ; Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa. Mengutus sejumlah ruh para rasul untuk menyambut Nabi Muhamnad, pada setiap tingkatan langit.
***
Syahdan, turunlah malaikat Jibril dari alam malakut, membawa amar Tuhan. Ketika tiba di Masjidil Haram, ia terus beranjak menuju Baginda Rasul yang tengah khusyu' dalam munajat yang sublim. Jibril mendekat hingga sekitar jarak dua busur. Mendadak horison di sekitar lokasi berkilau. Makhluk malakut tersebut membawa Nabi Muhammad ke sisi ka'bah. Membedah dadanya, membersihkan, dan mensucikannya. Lalu menyirami dengan air zamzam.
Ada yang membacanya, bahwa itulah isyarat yang menjelaskan bahwa Sang Jibril tengah melakukan tindakan modifikasi energi. Ia mengubah jasad Nabi yang memiliki massa dan terbentuk dari sejumlah unsur. Memodifikasinya menjadi makhluk berbadan cahaya, seperti dirinya dan Si Kilat alias Buraq. Adanya kumparan elektromagnetik yang berada di Masjidil Haram--sebuah medium ibadah yang usianya sudah puluhan ribu tahun, turut mempercepat proses modifikasi badan Nabi.
Adalah teori "annihilasi" yang dapat menjelaskan proses modifikasi dan rekayasa yang dilakukan Malaikat Jibril terhadap badan Nabi. Kaidah itu menjelaskan bahwa tiap-tiap materi memiliki antimaterinya. Dan ketika materi dipertemukan dengan antimaterinya, maka kedua partikel tersebut akan lenyap dan berubah menjadi seberkas sinar. Aksioma ini membuktikan bahwa dengan menggunakan teori tertentu, material badan Nabi dapat diubah oleh Malaikat Jibril menjadi cahaya.
***
Penjuru para kaum malaikat ini, atas izin dan iradat Allah, secara presisi merekonstruksi dan memanipulasi sistem energi di dalam tubuh Rasulullah. Meng-annihilasi badan Nabi, dari yang semula bersifat material bermassa, berubah menjadi cahaya, unsur yang sangat ringan dan tanpa bobot. Sifatnya yang ringan tanpa bobot itulah yang menyebabkan cahaya memiliki tingkat kecepatan di angka 300 ribu km per detik. Kecepatan yang tiada tanding.
Teknologi transportasi modern dapat dengan mudah menjelaskan proses perjalanan Nabi dari Makkah menuju Palestina yang berjarak sekitar 1500 km. Dengan pesawat komersial, satu jam adalah waktu yang cukup. Tapi melakukan perjalanan sejauh itu di zaman Nabi, 1447 tahun silam, butuh berbulan-bulan jika mengendarai unta apalagi jalan kaki. Dan isra' Nabi adalah perjalanan tidak lebih dari 000,5 detik alias tak sampai sedetik. Alias hanya sekelebatan cahaya saja !
Menjelang subuh, Nabi sudah tiba dan telah menginjakkan kaki di tanah Makkah. Badan tetap utuh. Persis sebagaimana beliau sebelum berangkat. Tidak cedera sedikit pun. Tidak berkurang apalagi terburai. Nabi mengalami perjalanan isra' dan mi'raj dalam kesadaran penuh. Dapat mengingat semua yang dialami. Sempat mengimami salat sejumlah rasul dalam sekian kesempatan dan di semua tingkatan langit. Merekam kisah-kisah di surga dan neraka. Bahkan dapat dengan mudah bercerita tentang pertemuannya dengan kafilah dagang kaum musyrikin Makkah yang sedang dalam perjalanan.
Hanya karena izin Allah lewat ketebalan iman, seseorang akan menerima kisah isra' dan mi'raj sebagai sebuah mukjizat. Menerima tanpa reserve. Mukjizat tidak butuh penjelasan. Ia akan menjelaskan dirinya sendiri dengan spektrum dan medium yang tersedia. Persis Sahabat Abu Bakar bin Abi Kuhafah yang mendapat dejarat "As Shiddiq"--yang membenarkan kisah Nabi mengenai perjalanan malamnya itu. Dengan ketebalan imannya, Abu Bakar selalu meyakini dan mengimani apa saja yang datang dari Baginda Rasul.
Allah "Pamer"
Peristiwa isra' dan mi'raj hanya salah satu di antara tak terhitung jumlah "pameran" Allah kepada makhluk-Nya. DIA terang-terangan mengonfirmasi perjalanan luar biasa salah seorang hamba terkasih-Nya, dengan sebuah ayat, "linuriyahu min aayaatina--agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami." Ya, cuma sebagian. Tanda-tanda keberadaan dan kekuasaan-Nya, membentang tiada berbatas dan tidak dapat dibatasi oleh apapun.
Setelah blokade ekonomi dan sosial kaum musyrik yang meruntuhkan iman umat Islam, dan kematian dua pembela utamanya, Abu Tholib dan Siti Khadijah, yang luar biasa besar pengaruhnya terhadap mental Nabi, maka isra' mi'raj menjadi semacam "tombo ati" atau penawar duka. Bahwa, setiap musibah, ujian, cobaan, adalah kecil dibanding karunia Allah. Bahwa semua itu, adalah tanda rahmat dan sayang Tuhan kepada semesta. Bahwa perjalanan di malam buta itu, adalah cara Allah "memamerkan" kekuasaan kepada segenap makluk lewat Nabi yang mulia.
Sebab, hanya beliau yang berjuluk "rahmatan lil alamin--rahmat bagi alam semesta." Lalu, adakah rahmat terbesar Allah bagi semesta yang dapat melebihi keberadaan Nabi Muhammad? Ketika Nabi Adam As mengantarkan kalimat pertobatannya, datang suara dari langit. Suara itu mengajarinya menyertakan nama "Muhammad" dalam munajat dan doanya. Bukankah di bentangan arasy nan mulia, hanya ada satu nama yang berdampingan dengan nama Allah SWT, "Laa Ilaaha Illaallah, Muhammadun Rasulullah."
Kenapa begitu sulit kita menyapa dan berkirim selawat kepada Nabi, sedang Tuhan dan para Malaikat tiada henti mengeja namanya yang agung?
"Allahumma Shalli Wa Sallim 'Alaa Sayyidina Muhammad!"
"Subhabakallah--Mahasuci Engkau ya, Allah"...
***
Selamat memperingati dan merayakan Hari Isra' dan Mi'raj, Kaum muslimin se-dunia...
Ishaq Zubaedi Raqib
Penulis adalah Jurnalis senior, Ketua Lembaga Infokom dan Publikasi PBNU
Artikel ini adalah kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. Terimakasih. (Redaksi)
(erd/erd)












































Komentar Terbanyak
Arab Saudi Tidak Jadikan Isra Miraj Hari Libur Nasional, Ini Alasannya!
10 Dalil tentang Rezeki Sudah Diatur oleh Allah SWT
Doa Melihat Kabah Saat di Makkah, Benarkah Termasuk Momen Mustajab?