Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 memasuki tahap pendaftaran mulai Selasa (3/2/2026). Saat mendaftar, perlukah siswa mempertimbangkan indeks sekolah dan adanya alumni yang sudah diterima di PTN tujuan?
Indeks sekolah merupakan faktor koreksi nilai rapor. Sederhananya nilai siswa dari SMA dengan indeks sekolah 0,8 akan lebih rendah dari siswa asal SMA dengan indeks 0,9.
Koordinator SNBP Riza Satria Perdana mengatakan perguruan tinggi memang dapat memiliki indeks sekolah. Ia mencontohkan, dengan adanya indeks sekolah, nilai 8 milik siswa di SMA A dengan siswa di SMA B bisa berbeda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, indeks sekolah yang digunakan masing-masing perguruan tinggi dapat berbeda.
"Sumbernya bisa dari indeks UTBK tahun lalu, begitu, atau dari 3 tahun, dari setahun lalu, 2 tahun lalu," ucapnya pada sosialisasi daring Pendaftaran dan Pembuatan Portofolio SNBP di kanal YouTube SNPMB ID, Selasa (3/2/2025).
"Kemudian juga bisa indeksi ini didasarkan pada AN, ya, Asesmen Nasional," imbuhnya.
Indeks Sekolah: Bisa Diterapkan, Bisa Tidak
Sementara itu, penerapan indeks sekolah pada SNBP 2026 berada pada kewenangan perguruan tinggi masing-masing.
"Jadi indeks itu macam-macam gitu ya, jadi tergantung dari perguruan tingginya akan menerapkan indeks itu atau tidak," ujarnya.
Faktor Alumni Jalur SNBP
Riza mengatakan, perguruan tinggi juga dapat menggunakan indeks sekolah yang didasarkan pada jumlah siswa yang diterima pada PTN-nya tahun lalu melalui jalur SNBP.
"Juga ada indeks yang terkait dengan SNBP sendiri begitu ya, jadi berapa banyak siswa yang diterima di sekolah tersebut di tahun lalu," ucapnya.
Tak Ada Alumni, Daftar Saja
Ia menjelaskan, sejumlah perguruan tinggi juga melakukan penelusuran kesesuaian rapor alumnus sekolah dan prestasi di masa kuliah. Penelusuran ini juga memastikan bahwa prestasi akademik siswa dalam rapor terbukti benar di sesuai di masa kuliah.
Untuk itu, sebuah perguruan tinggi berpotensi lebih kesulitan untuk melihat relevansi antara nilai rapor siswa yang alumni sekolahnya belum pernah diterima kampus tersebut pada jalur apapun.
Kendati demikian, Riza berpendapat, siswa tersebut sebaiknya tetap coba mendaftar pada PTN tujuannya pada jalur SNBP. Sebab, ada potensi PTN-PTN kini juga memperluas penerimaan mahasiswa baru berprestasi dari sekolah yang alumninya belum pernah mereka terima lewat jalur apapun.
"Coba saja mendaftar begitu karena ada beberapa perguruan tinggi yang akhirnya, kalau saya membuat istilahnya adalah, melebarkan sayapnya ya. Jadi, SNBP ini justru dipakai oleh beberapa perguruan tinggi untuk mendapatkan, mungkin talent ya nyebutnya, siswa-siswa yang berprestasi yang dari sekolah yang 'belum punya alumni' itu begitu," ucapnya.
Ia mengatakan, perguruan tinggi juga menilai prestasi akademik siswa, khususnya dengan peringkat terbaik, sebagai potensi untuk menjadi mahasiswa yang dapat berkuliah dengan baik.
"Jadi bisa jadi itu kesempatan pertama mungkin buat alumni sekolah tersebut untuk masuk ke perguruan tinggi itu, gitu. Saya lihat dari tahun lalu ada beberapa perguruan tinggi yang terlihat dari jumlah SMA yang diterima di jalur SNBB itu meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya," jelasnya.
Peringkat Lebih Berpengaruh?
Riza mengatakan, terlepas dari ada-tidaknya indeks sekolah, peringkat atau ranking siswa pada sekolah tetap berpengaruh, khususnya dalam membandingkan capaian akademik siswa yang berasal dari sekolah yang sama.
"Dan ada beberapa perguruan tinggi yang memang memberikan, apa namanya, pembobotan terhadap ranking itu cukup besar," ucapnya.
Terpisah, Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB Eduart Wolok menjelaskan, indeks sekolah berperan sebagai alat untuk melihat rekam jejak masing-masing sekolah asal siswa peserta SNBP.
Pada kesempatan yang sama, ia menegaskan track record yang dimaksud bukan tidak berkaitan dengan blacklist sekolah jika siswa tidak daftar ulang ke PTN tujuan saat diterima via jalur SNBP.
"Indeks sekolah selama ini sebenernya itu lebih kepada internal masing-masing PTN dengan melihat track record yang ada. Dan sebenernya tidak ada kok ya, PTN yang mem-blacklist sekolah itu tidak ada, kata Eduart pada konferensi pers SNPMB 2026 di Gedung D Kemdiktisaintek, Jl Pintu Satu Senayan, Jakarta, Selasa (16/9/2025).
"Yang ada sering terjadi itu, kita mengurangi kuota sekolah itu ketika kuota sekolah itu yang kita berikan itu tidak diambil. Jadi kita tidak ingin memberikan kuota kepada sekolah yang nantinya tidak akan diambil juga oleh siswa yang kita lulus," ucapnya.
(twu/pal)











































