Di tengah tren pemakaian artificial intelligence (AI) di dunia pendidikan, beberapa sekolah masih membimbing para peserta didiknya secara konservatif. Mereka mempertahankan tradisi belajar-mengajar dengan proses tulis-menulis pada lembaran kertas.
Beberapa di antaranya adalah SMA Krista Mitra dan SMA Penabur. Dengan paper-based learning ini, peserta didik menulis pola kalimatnya sendiri sehingga mereka terpaksa untuk menjawab secara murni tanpa bantuan AI.
Melalui artikel jurnal berjudul, 'In Defense of Paper! A Case Study of Paper Based Active Learning Methods Developed for Distance Learning Engagement' oleh Wheeler dan Matthews, universitas seperti Manchester Metropolitan University (MMU) dan Eidgenössische Technische Hochschule (ETH) masih melakukan pembelajaran paper-based learning seperti kuis tertulis dan response paper (menulis esai pendek yang didasari oleh pemikiran individu).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain paper-based learning, kedua sekolah tersebut juga menilai aspek nonakademik peserta didik. Sekolah tidak hanya meningkatkan kemampuan kognitif anak, tetapi juga membentuk karakter anak.
"Peran guru secara manusiawi atau manual tetap dibutuhkan, sekalipun dalam banyak peran bisa diganti AI. Namun, untuk hal-hal tertentu seperti karakter, hubungan sosial, dan keharmonisan sosial, apakah AI bisa membantu atau mengajar? Pada dasarnya, kita tetap manusia sebagai makhluk sosial," demikian dikatakan Kepala SMA Krista Mitra, Suryono SPd.
Kepala SMA Krista Mitra, Suryono SPd. Foto: UMN/Laurensius Matthew Pramudya Agung dkk |
Sanksi Tegas Jika Menggunakan AI Generatif
Tidak hanya mempertahankan teknik pembelajaran tradisional, ada juga yang melakukan sosialisasi tentang etika penggunaan AI seperti yang dilakukan oleh Yayasan Sekolah Kristen Indonesia (YSKI) Semarang dan Universitas Atma Jaya BSD. Peraturan penggunaan AI juga secara eksplisit disosialisasikan oleh Atma Jaya BSD.
Dijelaskan perbedaan antara AI generated dan AI assisted. Untuk AI generated, hanya melakukan copy paste dari hasil prompting, sedangkan untuk AI assisted, artinya AI digunakan untuk melakukan brainstorming. Di Atma Jaya, yang diperbolehkan adalah AI assisted dengan kewajiban menulis deklarasi transparansi penggunaan AI.
Jika ada mahasiswa yang ketahuan menggunakan AI generated, ia akan mendapatkan sanksi yang sama dengan sanksi plagiarisme. Pada pelanggaran pertama, akan dinilai nol.
Pelanggaran kedua diberi nilai E. Pada pelanggaran ketiga, diberi skorsing satu semester. Pada pelanggaran keempat, mahasiswa tersebut di-drop out.
Meski terasa seperti kabut gelap dalam pendidikan, terdapat sisi cerah di ujung perjalanan. Utang kognitif yang selama ini belum terbayar masih akibat perjuangan para
pengajar dan institusi yang masih stoke the fire of true learning. Pendidikan sejati tidak pernah menuntut kecepatan sampai garis finis, tetapi bagaimana kita mengambil aba-aba dan terus berlari sampai tuntas.
So, are you giving up your humanity to artificial intelligence, your so-called 'Jarvis'?
That is your choice to make.
*) Reportase ini dibuat oleh Laurensius Matthew Pramudya Agung, Venere Arganiswari Danitta, dan Belva Putri Paramitha. Mereka adalah mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara Program Studi Digital Journalism yang menerima hibah (grant) dari Pulitzer Center untuk melakukan AI Accountability Reporting pada mata kuliah In-Depth and Investigative Reporting.
(nwk/nwk)

