Untung-Rugi Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas

ADVERTISEMENT

detikSore

Untung-Rugi Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas

20detik Signature - detikEdu
Selasa, 13 Okt 2026 14:52 WIB
Tidak Ada Lagi Katrol Nilai
Foto: irsyad
Jakarta -

Wacana soal siswa sekolah tidak lagi otomatis naik kelas pada 2027 mendatang menjadi perbincangan hangat di kalangan pegiat pendidikan. Diskusi yang pertama kali muncul pada Konvensi Pendidikan Indonesia XII Tahun 2026 di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Jumat (2/10/2026) itu langsung mendapatkan tanggapan Mendikdasmen Abdul Mu'ti.

Merangkum detikEdu, Abdul Mu'ti pada dasarnya setuju dengan wacana tersebut. Menurutnya, sistem ini nantinya dapat mendorong kemampuan siswa dan mendorong mereka agar lebih giat belajar.

"Karena banyak murid itu yang mengikuti rumus RMS: rajin malas sama saja. Saya setuju, Prof Brian, mereka harus kita biasakan punya jiwa yang rajin belajar kemudian siap untuk berkompetisi dan anak-anak yang tangguh seperti yang sering disampaikan oleh Pak Presiden Prabowo Subianto," ucap Mu'ti dikutip dari detikEdu, Selasa (13/10).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, Kemendikdasmen juga akan melakukan kajian akademik atas usulan para ahli pendidikan tersebut. Hal serupa juga disampaikan oleh Koordinator Nasional (Kronas) Jaringan Pemantauan Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji. Menurutnya, ada sejumlah hal yang perlu dilihat dari wacana tersebut.

Tidak berhenti soal perubahan sistem, wacana ini juga perlu dilihat sebagai pemicu evaluasi soal kualitas pendidikan di Indonesia hingga kompetensi guru yang dinilai belum merata. Ubaid menekankan agar pemerintah tak fokus pada masalah menghukum dan menjustifikasi murid tak naik kelas karena kemampuannya kurang. Sebaliknya, pemerintah harus bisa memperbaiki masalah sistem pembelajaran, kurikulum, dan kompetensi guru.

ADVERTISEMENT

"Jadi menurut saya harus perlu dipikirkan ulang kebijakan ini, karena kebijakan ini akan mencederai keadilan bagi anak-anak yang mengandalkan sistem sekolah untuk dia bisa bertransformasi," kata Ubaid.

Lalu bagaimana perkembangan polemik ini? Benarkah wacana ini akan menjadi trigger untuk perbaikan menyeluruh terhadap sistem pendidikan di Indonesia? Simak diskusinya bersama Redaktur Pelaksana detikEdu.

Beralih ke berita daerah, antrean kendaraan mengular di sejumlah SPBU di Bali dalam beberapa hari terakhir akibat kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Dilansir dari detikBali, Gubernur Bali Wayan Koster, menyebut kondisi itu dipicu kepanikan masyarakat yang takut kehabisan BBM hingga berbondong-bondong mengisi bahan bakar secara bersamaan.

Koster menilai kebiasaan warga mengisi BBM secara bersamaan membuat pasokan di SPBU cepat habis.

"Mungkin karena warga itu takut kehabisan, ramai-ramai sekaligus sehingga suplainya ke SPBU itu habis karena kebanyakan warga yang mengisi kendaraannya," ujar Koster saat ditemui di sela kegiatan Pekan Iklim Bali, Selasa (13/10/2026).

Gubernur Bali itu juga menghimbau masyarakat agar tidak panik. Dirinya memastikan pasokan BBM di Bali kembali tersedia dan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Lalu, ada apa sebenarnya di balik kelangkaan BBM ini? Simak laporan lengkapnya bersama jurnalis detikBali dalam Berita Nusantara.

Pada penghujung episode kali ini detikSore akan mengajak para pejuang dua garis biru untuk memperoleh solusi atas kebutuhan mereka. Teknologi in vitro fertilization disebut-sebut menjadi solusi pilihan bagi para pasangan yang mengharapkan keturunan.

Lalu kapan seseorang harus memeriksakan fertilitas? Apa saja faktor yang mempengaruhi kesuburan? Kapan inseminasi atau in vitro fertilization (IVF) perlu dipertimbangkan? Simak diskusinya bersama an ginekologi dari Alpha IVF Jakarta.

Simak berita terbaru dan menarik detikcom lainnya dalam detikSore. detikSore, Nggak Cuma Hore-hore!

(vys/gub)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads