Guru Belajar Foundation berhasil meraih penghargaan UNESCO-Hamdan Prize for Teacher Development 2026. Penghargaan ini didapatkan melalui Inisiatif Collective Teacher Leadership Development Programme.
Program ini berhasil meraih satu dari tiga laureat (penerima penghargaan) pada edisi kesembilan UNESCO-Hamdan Prize for Teacher Development. Dalam profil finalis yang diterbitkan UNESCO, program ini dinilai sukses mendorong kepemimpinan kolektif guru dengan menggerakkan lebih dari 61 ribu pendidik di 91 kabupaten/kota di Indonesia.
Penyerahan penghargaan diumumkan dalam rangkaian World Teacher's Day di Markas Besar UNESCO, Paris, Prancis, pada 5 Oktober 2026 lalu. Penghargaan diterima oleh perwakilan Guru Belajar Foundation, Muhammad Luqman Hakim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baginya, berada di Paris bak membawa pengalaman ribuan guru dan komunitas yang selama ini membawa pendekatan tersebut. Ketika menerima penghargaan, ia mengaku terbayang seluruh guru-guru yang selama ini belajar di program itu.
"Penghargaan ini memperlihatkan bahwa praktik yang tumbuh dari pengalaman guru Indonesia dapat memiliki relevan di dalam percakapan global tentang pengembangan guru. Saya berharap pengakuan ini membuat semakin banyak pengalaman dan suara guru Indonesia dapat didengar dan dipelajari," tuturnya dalam keterangan resmi Guru Belajar Foundation, Rabu (7/10/2026).
Program yang Fasilitasi Tiga Tahapan Kontribusi Guru
Collective Teacher Leadership Development Programme digambarkan sebagai pendekatan yang menempatkan guru sebagai pemimpin kolektif dalam sebuah ekosistem komunitas. Selama mengikuti program, para guru mengikuti berbagai kegiatan.
Kegiatan intinya adalah pengembangan kapasitas untuk memperbaiki pembelajaran, menggerakan rekan sejawat, dan mengorganisasi inisiatif di sekolah maupun komunitas. Seperti yang disebutkan sebelumnya, program ini sudah diikuti 61.717 guru di 91 kabupaten/kota di Indonesia.
Founder Guru Belajar Foundation, Najeela Shihab mengatakan penghargaan ini adalah pengakuan terhadap guru yang terus belajar. Hal ini juga memperkuat keyakinan antara Guru Belajar Foundation bersama komunitas guru.
"Penghargaan ini adalah pengakuan terhadap guru-guru yang terus belajar, menjalankan misi belajar, merefleksikan pengalaman, dan berbagi cerita perubahan. Mereka bergerak bersama untuk memperbaiki pendidikan di lingkungannya," kata Najeela.
"Sejak awal kami percaya bahwa guru dapat menjadi pemimpin perubahan ketika memiliki kemerdekaan, kompetensi, ruang berkolaborasi, dan kesempatan mengembangkan karier," sambungnya.
Melalui program ini, Guru Belajar Foundation memfasilitasi tiga tahapan kontribusi guru, yakni Guru Belajar, Guru Berdampak, dan Guru Berdaya. Perjalanan ini ditopang dengan empat prinsip pengembangan guru, yakni Kemerdekaan, Kompetensi, Kolaborasi, dan Karier (4K).
Cara Ikut Collective Teacher Leadership Development Programme
Untuk bisa mengikuti program ini, para guru harus mengikuti proses rekrutmen. Mereka yang diterima akan mengikuti kurikulum pendidikan kepemimpinan guru, misi belajar dan cerita perubahan, dan diakhiri dengan Temu Pendidik Nusantara (TPN).
Selama kegiatan misi belajar, guru diminta merancang dan mencoba tindakan untuk menjawab tantangan di kelas, sekolah, atau komunitasnya, lalu merefleksikan pengalaman tersebut. Hasil diskusi di kegiatan misi belajar akan dibeberkan dalam tahapan cerita perubahan.
Cerita perubahan memperlihatkan tujuan, tantangan, tindakan yang dicoba, respons yang muncul, refleksi, serta perubahan yang teramati beserta bukti yang tersedia dari masalah yang diamati. Melalui cerita tersebut, guru dan rekan sejawat dapat memahami perjalanan perubahan dan belajar dari penyesuaiannya.
Program ini diakhiri dengan Temu Pendidik Nusantara yang menjadi ruang untuk berbagai cerita perubahan, belajar bersama, dan membangun kolaborasi.
Strategic Development Guru Belajar Fondation, Bukik Setiawan ikut beri pendapat terkait penghargaan ini. Ia menekankan pihaknya sedang membangun kepemimpinan kolektif guru.
"Melalui misi belajar dan cerita perubahan, guru merefleksikan apa yang mereka coba, apa yang berubah, dan apa yang perlu diperbaiki. Pengalaman itu menjadi bahan untuk saling belajar, saling menguatkan, dan bergerak bersama. Pengakuan UNESCO-Hamdan memperkuat kepercayaan terhadap pendekatan ini. Tugas kami berikutnya adalah memperkuat bukti perubahan di berbagai konteks," jelasnya.
Kepemimpinan kolektif guru menurut Bukik bisa jadi penggerakan untuk menjawab isu pendidikan. Guru Belajar Foundation merancang penerapannya bersama mitra sesuai visi, misi, dan kapasitas organisasi.
"Guru menjadi aktor utama, dengan ahli dan aktor lain sebagai pendukung. Penerapan pada isu baru dimulai dalam lingkup terbatas dan dievaluasi sebelum diperluas," ujar Bukik lagi.
