Jurusan Pendidikan Masih Diminati, Mengapa Ancaman Krisis Guru Mengintai?

ADVERTISEMENT

Jurusan Pendidikan Masih Diminati, Mengapa Ancaman Krisis Guru Mengintai?

Kalila Untsa - detikEdu
Selasa, 06 Okt 2026 14:30 WIB
Sejumlah siswa baru kelas satu sekolah dasar mengikuti lomba memakai seragam sekolah dasar di SDN Uwung Jaya, Kota Tangerang, Banten, Senin (11/7/2022). Pada hari pertama masuk sekolah, SDN Uwung Jaya melakukan penyambutan kepada siswa baru kelas satu sekolah dasar sekaligus perkenalan guru dan lingkungan sekolah. ANTARA FOTO/Fauzan/YU
Ilustrasi guru Foto: ANTARA FOTO/FAUZAN
Jakarta -

Peran guru memiliki pengaruh besar terhadap masa depan dan kualitas sumber daya manusia. Namun, di tengah pentingnya profesi tersebut, muncul pertanyaan mengapa generasi muda justru cenderung kurang menjadikannya sebagai pilihan karier.

Minat terhadap program studi pendidikan di berbagai perguruan tinggi sebenarnya masih cukup tinggi. Persoalannya, setelah menyelesaikan pendidikan, tidak sedikit lulusan yang justru memilih membangun karier di luar dunia sekolah. Latar belakang pendidikan mereka kemudian digunakan untuk bekerja di sektor perbankan, BUMN, perusahaan rintisan, hingga industri kreatif.

Pilihan tersebut tentu bukan sesuatu yang keliru. Lulusan pendidikan yang mampu berkarier di berbagai sektor justru menunjukkan bahwa kompetensi yang diperoleh selama kuliah dapat diterapkan dalam beragam bidang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, ada persoalan lain yang patut menjadi perhatian. Di tengah banyaknya pilihan karier tersebut, profesi guru tidak selalu ditempatkan sebagai tujuan utama. Fenomena itu menunjukkan adanya perubahan cara pandang generasi muda terhadap profesi guru.

ADVERTISEMENT

Menurut Putri Rachmadyanti, dosen sekaligus Koordinator Program Studi S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), generasi muda kini semakin realistis dalam mempertimbangkan sebuah profesi.

Jika sebelumnya profesi guru kerap dikaitkan dengan semangat pengabdian, generasi saat ini juga mempertimbangkan aspek yang lebih praktis. Kesejahteraan, kesempatan berkembang, jenjang karier, hingga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan (work-life balance) menjadi bagian dari pertimbangan tersebut.

Artinya, persoalan daya tarik profesi guru tidak cukup dilihat dari apakah seseorang memiliki panggilan untuk mengajar atau tidak. Minat tersebut juga akan berhadapan dengan realitas kehidupan setelah seseorang memasuki dunia kerja seperti dikutip dari laman Unesa.

Ancaman Krisis Guru

Putri mengatakan realita bahwa profesi guru yang "dipandang sebelah mata" ini akan membawa konsekuensi serius bagi masa depan bangsa.

Jika iklim profesi ini dibiarkan "begini-begini saja" tanpa penghargaan dan kesejahteraan yang layak, maka dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, Indonesia akan menghadapi krisis kelangkaan pendidik berkualitas.

"Memang, ada banyak anak-anak muda yang berminat menjadi guru karena dorongan hati mereka, tetapi minat dan keinginan itu di tengah jalan diuji dengan tuntutan realistis berupa angka dan tingkat kesejahteraan, serta jenjang karier," katanya.

Karena itu, kesejahteraan guru tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai persoalan besaran penghasilan.

Lingkungan kerja yang sehat, beban kerja yang proporsional, perlindungan hukum, kesempatan untuk meningkatkan kompetensi, serta jalur pengembangan karier yang jelas juga menjadi bagian penting dalam menentukan daya tarik profesi tersebut.

Dengan kondisi kerja yang lebih baik, profesi guru diharapkan dapat kembali menjadi pilihan karier yang dibanggakan, bukan sekadar pekerjaan yang diambil ketika pilihan lain tidak tersedia.

Putri menegaskan profesi guru tidak semestinya dipandang sebelah mata. Peran guru memiliki pengaruh besar terhadap masa depan peserta didik dan pada akhirnya turut menentukan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa.

Hal tersebut semakin terlihat pada jenjang sekolah dasar.

Guru SD tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran. Mereka juga mendampingi perkembangan anak, membangun fondasi karakter, mengembangkan kemampuan sosial, membentuk cara berpikir, serta menanamkan kebiasaan belajar yang dapat menjadi bekal anak pada tahap kehidupan berikutnya.

Peran tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat.

Kemunculan berbagai profesi baru dan perkembangan kecerdasan artifisial atau AI memang mengubah cara peserta didik mencari informasi, belajar, dan menyelesaikan persoalan. Namun, menurut Putri, perubahan teknologi tidak berarti menghilangkan peran guru.

Sebaliknya, ketika AI mampu mengambil alih sejumlah pekerjaan teknis, seperti mencari dan menyajikan informasi dalam waktu singkat, peran guru dapat bergeser ke aspek yang membutuhkan kemampuan manusiawi.

Guru tetap dibutuhkan untuk membangun kemampuan berpikir kritis, problem solving, kreativitas dan inovasi, sekaligus memperkuat karakter, empati, serta keteladanan moral.

"Guru memiliki peran penting untuk mendampingi peserta didik agar mampu menggunakan teknologi secara kritis, etis, dan bertanggung jawab," ujarnya.



(pal/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads