Di negara-negara di mana bencana datang silih berganti, kegiatan belajar dan mengajar di sekolah sering terhambat. Sebagai contoh di negara-negara di Asia Tenggara.
Para peneliti Universitas Oxford menemukan, di Filipina misalnya, sekolah dapat terganggu oleh topan, banjir, dan bencana alam lainnya. Mereka menyebut, hambatan untuk sekolah juga semakin sering terjadi karena peristiwa-peristiwa terkait perubahan iklim.
UNICEF memperkirakan setidaknya 242 juta siswa di 85 negara mengalami disrupsi pendidikan akibat cuaca ekstrem pada 2024. Krisis semacam ini lantas menimbulkan pertanyaan bagi para peneliti Oxford tersebut, yakni bagaimana caranya menjaga agar anak-anak tetap belajar ketika mereka tidak dapat pergi ke sekolah?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bisa Pakai Teknologi Sederhana, Asal...
Penelitian terbaru mereka yang dipublikasikan di Nature, menunjukkan teknologi yang relatif sederhana dapat berperan. Penelitian itu diterbitkan pada 9 September 2026 dengan judul "Mobile education builds resilience during shocks in five countries".
Di lima negara yaitu India, Kenya, Nepal, Uganda, dan Filipina, para ahli tersebut menemukan bimbingan belajar melalui telepon dapat meningkatkan pembelajaran selama periode ketika anak-anak tidak dapat bersekolah. Situasinya memang berbeda-beda, tetapi kelima negara tersebut mengalami gangguan sekolah selama pandemi COVID-19 dan beberapa di antaranya mengalami penutupan sekolah yang sangat lama. Di Filipina, topan Rai bahkan menambah tantangan yang tidak terduga mengenai apakah pembelajaran dapat tetap diselenggarakan ketika krisis kembali terjadi.
Dikutip dari laman resmi Universitas Oxford, para ahli melakukan lima uji coba terkontrol secara acak di lima negara berbeda. Uji coba ini memungkinkan mereka untuk menggagas satu pertanyaan yang sangat penting bagi para pembuat kebijakan, yaitu apakah suatu pendekatan akan terus berhasil ketika pendekatan tersebut melampaui kondisi studi atau konteks tertentu?
Ternyata, kunci keberhasilan belajar melalui telepon bergantung pada dua hal, yaitu platform dan pedagogi. Platformnya adalah telepon seluler, yang berarti bahwa anak-anak dapat dijangkau bahkan ketika komputer dan internet tidak tersedia. Sementara, pedagogi melibatkan penargetan pengajaran pada tingkat pembelajaran setiap anak.
Maka, para peneliti ini menekankan, memberi anak-anak akses terhadap teknologi tidak secara otomatis menghasilkan pembelajaran yang lebih baik. Teknologi membutuhkan pengajaran yang tepat.
Metode yang Digunakan Harus Bisa Mendukung Peningkatan Pembelajaran
Para peneliti menguji berbagai model penyampaian pembelajaran, termasuk yang dilakukan oleh LSM ataupun guru lokal.
"Intervensi yang berhasil dalam kondisi terkontrol dari program LSM mungkin tidak akan berhasil dengan cara yang sama ketika diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan pemerintah, di mana program harus menjangkau jumlah anak yang jauh lebih besar dan beroperasi dalam sistem yang ada," jelas Direktur Akademik What Works Hub for Global Education, Dr Noam Angrist.
"Itulah mengapa implementasi sama pentingnya dengan efektivitas. Tidak cukup hanya mengetahui bahwa sesuatu dapat berhasil. Pemerintah perlu mengetahui apakah hal itu dapat disampaikan, dalam skala besar, melalui sistem yang sudah mereka miliki," imbuhnya.
Ia menggarisbawahi, bagi para pembuat kebijakan yang menghadapi krisis, penting bahwa suatu metode pengajaran bisa mendukung sistem pendidikan di negaranya. Namun, tak kalah penting juga para pembuat kebijakan dan guru mampu meningkatkan kemampuannya dalam menyampaikan pembelajaran dengan metode tertentu pada saat suatu bencana atau krisis terjadi.
"Hal ini sangat penting karena penutupan sekolah tidak akan hilang begitu saja. Konflik, epidemi, dan cuaca ekstrem dapat mengganggu pendidikan tanpa peringatan. Kita tidak dapat memprediksi setiap krisis, tetapi kita dapat membuat sistem pendidikan lebih tangguh sebelum krisis terjadi," kata Dr Noam.
Sehingga, para peneliti menilai, penting untuk membangun mekanisme kontingensi saat sekolah masih dibuka. Pemerintah terkait dapat mengidentifikasi bagaimana guru, sekolah, teknologi, dan infrastruktur pendidikan yang ada dapat dimobilisasi jika anak-anak tiba-tiba tidak dapat bersekolah.
Para ahli menegaskan waktu terbaik untuk membangun sistem pendidikan yang tangguh adalah saat sekolah masih buka.
"Pemerintah harus mampu menerapkannya dalam skala besar, melalui sistem yang sudah mereka jalankan, sebelum krisis berikutnya menutup ruang kelas," jelas Dr Noam.
