Kepala Pusat Asesmen Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kapusmendik Kemendikdasmen), Rahmawati menyebutkan pihaknya akan mengumumkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia 2025. Pengumuman akan dilaksanakan soreini, Selasa (8/9/2026).
PISA diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk siswa berusia 15 tahun. Capaian mencakup literasi membaca, literasi matematika/numerasi, literasi sains.
Terkait literasi membaca, Rahmawati menyebut murid Indonesia mencapai level 2 PISA dari tujuh tingkat yang ada di PISA 2022. Level 2 diartikan sebagai kondisi di mana siswa mampu memahami teks atau bacaan yang sifatnya implisit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita ada isu untuk capaian dari murid Indonesia yang mencapai level 2 PISA, itu artinya dia sudah mampu melakukan pemahaman yang sifatnya implisit," tutur Rahmawati dalam Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 yang ditayangkan secara daring melalui YouTube Kemendikdasmen, Selasa (8/9/2026).
Tantangan Capaian Literasi RI
OECD menetapkan tujuh tingkat kemahiran pada skala literasi membaca PISA 2022. Dari ketujuh tingkatan ini, kemahiran literasi membaca siswa Indonesia berada di level dua.
Rahmawati menyinggung, siswa belum sampai ke level evaluasi dan merefleksi untuk menjelaskan dan menggabungkan berbagai sumber informasi. Hal ini masih menjadi tantangan nyata pembelajaran di sekolah.
Ia menggambarkan penugasan membaca di sekolah masih sekedar membaca dan menulis ringkasan. Siswa tidak dipandu lebih jauh, sehingga pada akhirnya hanya meringkas berbagai hal yang tersurat tapi informasi tersirat terabaikan.
Cara Meningkatkan Kemampuan Literasi Murid
Untuk membantu siswa mencapai level mampu melakukan evaluasi dan refleksi, Rahmawati menyarankan satu metode. Murid dibagi dalam beberapa kelompok dan diberi tugas membaca buku.
"Nah dari buku bacaan tertentu itu sebenarnya guru tahu ini temanya sama, ini membahas hal yang sama, tapi sudut pandangnya berbeda. Setiap kelompok silakan memahami," jelasnya.
Penugasan tersebut akan berujung dengan diskusi antar kelompok tentang buku yang dibahas. Metode ini menjadi salah satu contoh pemberian penugasan yang lebih komprehensif.
Kapusmendik menegaskan aktivitas literasi di kelas perlu dilakukan lebih beragam, tidak cukup pembiasaan membaca 15 menit. Perlu ada aktivitas tambahan agar murid bisa paham hingga mampu mengevaluasi.
"Sesudah membaca kita perlu melakukan aktivitas untuk memastikan mereka (siswa) paham, bisa membandingkan, bisa menyimpulkan, mereka bisa melakukan integrasi antar semua bacaan sampai akhirnya dia mampu mengevaluasi," tegasnya.
Ia mengatakan, ada harapan agar literasi siswa Indonesia sampai tahap mampu mengevaluasi suatu hal. Hal ini bisa dicapai dengan menerapkan berbagai aspek literasi di aktivitas keseharian siswa.
"Nah, kita apakah mau sampai di sana (tahap mampu mengevaluasi)? Kita pasti inginnya sampai di sana. Tapi bagaimana kita menerjemahkannya menjadi aktivitas keseharian, baik literasi di rumah, literasi di sekolah, dan literasi di lingkungan masyarakat ini menjadi sangat penting," tekan Rahmawati lagi.
