Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendata 253 satuan pendidikan rusak dan terdampak Gempa Flores M 7,7 pada Sabtu, 15 Agustus 2026 lalu. Sekolah ini terletak di tujuh kabupaten di Pulau Flores.
Ketujuh kabupaten tersebut adalah Ngada, Nagakeo, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Sikka. Dari total sekolah yang terdampak, 199 diantaranya merupakan satuan pendidikan jenjang PAUD/TK, SD, SMP, dan SKB yang merupakan kewenangan kabupaten.
Sisanya, yakni sebanyak 54 satuan jenjang SMA/SMK/SLB berada di kewenangan provinsi. Mendikdasmen Abdul Mu'ti menyampaikan duka cita dan keprihatinan mendalam atas musibah ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mu'ti menyebut pihaknya sudah berkomunikasi dengan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT). Saat ini, pihaknya tengah memastikan pendataan agar bantuan yang diberikan bisa tepat sasaran.
"Keselamatan warga sekolah menjadi prioritas, dan proses pemulihan pendidikan akan kami kawal bersama pemerintah daerah hingga pembelajaran kembali berlangsung dengan aman dan nyaman," tuturnya dikutip dari keterangan resmi, Minggu (18/8/2026).
Kondisi Sekolah Terdampak Gempa Flores
Disampaikan, hingga saat ini Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) dan Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) terus melakukan proses pendataan dan penanganan kerusakan. Pada data awal, Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan kerusakan parah dengan total 104 sekolah dari berbagai jenjang.
Kerusakan parah selanjutnya terjadi di Kabupaten Manggarai Timur sebanyak 52 sekolah, Nagekeo 44 sekolah, Ende 39 Sekolah, Ngada 35 sekolah, Sikka 27 sekolah dan Manggarai Barat 23. Di Manggarai Timur ada ruang kelas baru hasil program Revitalisasi 2026 di SDN Wae Wulan dan SDI Lengko Randang yang kembali mengalami kerusakan.
Selain kerusakan bangunan, musibah gempa bumi juga menelan korban jiwa. Tercatat, dua orang murid dan satu orang guru menjadi korban bencana ini.
Kemendikdasmen Kirim Bantuan
Merespon cepat, Kemendikdasmen menyiapkan 50 tenda Ruang Kelas Darurat yang dikirim melalui dua klaster ekspedisi. Klaster pertama mengirim 30 tenda dari penyimpanan Jakarta dan Yogyakarta menuju Pelabuhan Labuan Bajo.
Pengiriman itu juga membawa 1.000 paket family kit, 200 paket school kit umum, dan 2.000 paket school kita jenjang SMA/SMK. Bantuan klaster satu ditujukan untuk warga sekolah di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat.
Bantuan itu akan berangkat dari Surabaya pada 20 Agustus 2026 menggunakan KM Dharma Rucitra 7 dan dijadwalkan tiba di Labuan Bajo pada 22 Agustus 2026. Kemendikdasmen menargetkan pemasangan tenda mulai 23 Agustus 2026.
Rencananya, BGTK NTT akan menerima dan mengelola bantuan di Posko Kemendikdasmen, Kantor Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Manggarai Barat, Labuan Bajo.
Sedangkan klaster kedua akan mengirim 20 tenda Sekolah Darurat dari penyimpanan Balai Besar Pengembangan Penjaminan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV BOE) Malang menuju Pelabuhan Ende. Bantuan ini ditujukan untuk mendukung sekolah di wilayah Ende, Ngada, Sikka, dan Nagekeo.
Pengiriman bantuan klaster kedua akan menggunakan KM Dharma Rucitra 8 dari Surabaya pada 21 Agustus 2026. BPMP NTT akan menerima bantuan di Posko Klaster 2 di SKB Ende sebagai titik transit logistik sebelum mendistribusikannya ke wilayah sasaran.
Nantinya, Tim Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) di bawah koordinasi Tim Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) akan mengawal pengiriman bantuan, distribusi, hingga pemasangan tenda darurat di lapangan.
Kemendikdasmen menyebut juga akan mempercepat identifikasi sekolah rusak berdasarkan data awal yang akan dihimpun oleh Tim Revitalisasi Satuan Pendidikan hingga 18 Agustus 2026. Verifikasi lapangan dan penanganan melalui perjanjian kerja sama (PKS) ditargetkan berlangsung pada pekan berikutnya.
Pembelajaran Dihentikan Sementara
Saat ini, Kemendikdasmen mengarahkan agar satuan pendidikan menghentikan sementara pembelajaran di ruang kelas yang rusak. Kegiatan diminta untuk dipindah ke ruang aman, tenda belajar, atau meliburkan pembelajaran sementara sesuai kondisi daerah.
Selain bangunan, Kemendikdasmen juga akan menyiapkan dukungan psikososial melalui kerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Layanan tersebut akan segera bergerak setelah tim pendahuluan memberikan konfirmasi kondisi lapangan.
Selanjutnya, Kemendikdasmen juga memberikan dukungan konektivitas melalui Starlink bagi wilayah yang mengalami gangguan listrik dan jaringan komunikasi. Tim lintas direktorat di Kemendikdasmen juga mulai bergerak ke lapangan untuk mempercepat asesmen, verifikasi kerusakan, dan koordinasi pemulihan layanan pendidikan.
