AI, Scientia, dan Krisis Pendidikan Indonesia

ADVERTISEMENT

Kolom Edukasi

AI, Scientia, dan Krisis Pendidikan Indonesia

Sugianto, M.Div., M.Th. - detikEdu
Selasa, 04 Agu 2026 10:30 WIB
AI, Scientia, dan Krisis Pendidikan Indonesia
Foto: Ilustrasi AI diolah oleh ChatGPT
Jakarta -

Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) telah mengubah cara belajar generasi saat ini. Tugas yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam untuk membaca sumber, menyusun kerangka berpikir, dan merumuskan argumen kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit. Melalui satu perintah sederhana, AI mampu menghasilkan ringkasan, analisis, bahkan esai yang tampak meyakinkan. Tidak mengherankan jika teknologi ini dengan cepat menjadi bagian dari kehidupan akademik siswa dan mahasiswa.

Di tengah antusiasme tersebut, perhatian publik sering kali terfokus pada persoalan plagiarisme atau kejujuran akademik. Padahal persoalan yang lebih mendasar mungkin sedang terjadi. AI bukan sekadar menghadirkan teknologi baru, tetapi membuka kelemahan lama yang selama ini telah mengakar dalam pendidikan Indonesia: kecenderungan untuk lebih menghargai hasil daripada proses belajar.

Jika keberhasilan pendidikan lebih banyak diukur melalui nilai, ranking, sertifikat, dan kelulusan, maka AI hadir sebagai alat yang sangat efektif untuk memenuhi tuntutan tersebut. Pertanyaannya, apakah peserta didik masih belajar, atau hanya semakin cepat memperoleh jawaban?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

AI dan Krisis Lama Pendidikan Indonesia

Fenomena ini sebenarnya tidak lahir bersama ChatGPT. Jauh sebelum AI hadir, banyak siswa belajar dengan satu pertanyaan utama: "Apa yang keluar di ujian?" Pertanyaan tersebut tampak sederhana, tetapi mencerminkan orientasi pendidikan yang berpusat pada hasil akhir. Dalam budaya seperti ini, memahami materi sering kali menjadi sarana untuk memperoleh nilai, bukan tujuan pembelajaran itu sendiri.

ADVERTISEMENT

Akibatnya, proses memahami, mempertanyakan, mengkritisi, dan merefleksikan pengetahuan perlahan kehilangan tempatnya. Yang terpenting bukan bagaimana seseorang belajar, melainkan apakah ia berhasil mencapai target yang ditentukan. Tidak mengherankan jika AI dengan cepat diterima dalam lingkungan pendidikan. Ketika sistem lebih menghargai produk akhir daripada proses pembentukannya, teknologi yang mampu menghasilkan produk tersebut secara cepat akan dianggap sebagai solusi.

Di sinilah letak tantangan sesungguhnya. AI tidak menciptakan budaya instan dalam pendidikan Indonesia. AI justru memperlihatkan dengan lebih jelas kecenderungan yang selama ini sudah ada. Kehadirannya memaksa kita bertanya kembali tentang tujuan pendidikan yang sebenarnya: apakah pendidikan bertujuan menghasilkan jawaban yang cepat, atau membentuk manusia yang mampu berpikir dengan baik?

Pertanyaan ini menjadi semakin penting karena dunia kerja masa depan tidak hanya membutuhkan individu yang mampu menemukan jawaban, tetapi juga mereka yang mampu menilai kualitas jawaban tersebut, mempertimbangkan implikasi etisnya, dan menggunakannya secara bertanggung jawab. Kemampuan-kemampuan tersebut tidak lahir dari hasil yang instan, melainkan dari proses belajar yang panjang.

Mengapa Manusia Bertumbuh Melalui Proses?

Psikologi pendidikan telah lama menunjukkan bahwa pertumbuhan manusia tidak terjadi melalui jalan pintas. Dalam bukunya Mindset: The New Psychology of Success (2006), Carol Dweck menjelaskan bahwa kemampuan berkembang melalui usaha, ketekunan, dan keberanian menghadapi tantangan. Individu yang bertumbuh bukanlah mereka yang selalu berhasil, melainkan mereka yang bersedia belajar dari kesalahan dan terus mengembangkan dirinya.

Dalam konteks pendidikan Indonesia, pemikiran ini sangat relevan. Ketika nilai menjadi tujuan utama, siswa cenderung belajar untuk tampil berhasil, bukan untuk bertumbuh. AI kemudian menjadi alat yang sangat efektif untuk memenuhi tuntutan performa tersebut. Tugas dapat diselesaikan lebih cepat tanpa harus melewati proses membaca yang panjang, pergumulan intelektual, ataupun refleksi yang mendalam. Hasilnya mungkin memuaskan secara administratif, tetapi belum tentu menghasilkan perkembangan kemampuan berpikir.

Pandangan Dweck diperkuat oleh Robert Bjork melalui konsep Desirable Difficulties, (2024). Dalam berbagai penelitiannya mengenai memori dan pembelajaran, Bjork menunjukkan bahwa pembelajaran yang mendalam justru lahir dari kesulitan-kesulitan yang bermakna. Mengingat kembali materi tanpa melihat catatan, memecahkan persoalan yang kompleks, atau bergumul dengan konsep yang sulit sering kali terasa tidak nyaman. Namun justru melalui proses tersebut pengetahuan menjadi lebih kuat dan bertahan lebih lama.

Temuan ini menghadirkan ironi bagi dunia pendidikan modern. Teknologi dirancang untuk menghilangkan hambatan dan mempercepat pekerjaan. Akan tetapi, dalam pembelajaran, tidak semua hambatan perlu dihilangkan. Sebagian kesulitan justru merupakan bagian penting dari pertumbuhan. Ketika seluruh perjuangan intelektual digantikan oleh teknologi, yang hilang bukan hanya rasa lelah, melainkan kesempatan untuk berkembang.

Mengapa demikian? Karena proses belajar tidak hanya menghasilkan pengetahuan. Proses belajar membentuk pribadi. Kemampuan berpikir kritis, pengendalian diri, ketahanan menghadapi kesulitan, dan kematangan dalam mengambil keputusan berkembang melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar. Manusia tidak hanya memperoleh sesuatu melalui proses; manusia juga dibentuk oleh proses tersebut.

Dari Scientia Menuju Sapientia

Refleksi psikologi tersebut menemukan resonansinya dalam tradisi hikmat Alkitab. Berbeda dengan budaya instan yang mengejar jawaban tercepat, kitab Amsal Sulaiman menggambarkan pembelajaran sebagai sebuah perjalanan. Dalam Amsal Sulaiman 2:1-5, hikmat diperoleh melalui serangkaian tindakan yang menuntut keterlibatan aktif: menerima, menyimpan, memperhatikan, mencari, dan mengejar. Tidak ada satu pun yang menunjukkan jalan pintas. Hikmat lahir dari proses yang terus-menerus.

Karena itu, orang bijak dalam Alkitab bukanlah orang yang merasa sudah mengetahui segala sesuatu. Sebaliknya, Amsal Sulaiman 1:5 menyatakan bahwa orang bijak akan mendengar dan menambah ilmu. Kebijaksanaan ditandai oleh kesediaan untuk terus belajar. Semakin seseorang bertumbuh, semakin ia menyadari bahwa pembelajaran merupakan proses yang tidak pernah selesai.

Pandangan ini sejalan dengan tradisi teologi Kristen yang membedakan antara scientia dan sapientia. Thomas Aquinas dalam Summa Theologiae (1265-1274) menggunakan scientia untuk merujuk pada pengetahuan tentang fakta dan berbagai hal yang diketahui manusia, sedangkan sapientia menunjuk pada hikmat yang memungkinkan seseorang memahami makna, keterkaitan, dan tujuan dari pengetahuan tersebut. Dalam kerangka ini, tujuan pendidikan tidak berhenti pada penguasaan informasi, melainkan mengarah pada pembentukan hikmat. Seseorang dapat memiliki banyak scientia tanpa memiliki sapientia, tetapi hikmat tidak mungkin bertumbuh tanpa proses belajar yang panjang.

Perspektif ini memberikan koreksi penting bagi pendidikan di era AI. Teknologi dapat menyediakan informasi dalam jumlah yang hampir tidak terbatas, tetapi informasi tidak secara otomatis menghasilkan hikmat. Seseorang dapat memperoleh jawaban yang benar tanpa memahami maknanya. Seseorang dapat menyelesaikan tugas dengan cepat tanpa mengalami perubahan dalam cara berpikir dan bertindak.

Di sinilah perbedaan mendasar antara scientia dan sapientia. AI sangat unggul dalam menyediakan scientia. Dalam hitungan detik, teknologi ini dapat menyajikan data, penjelasan, dan berbagai kemungkinan jawaban. Namun sapientia tidak lahir secara otomatis dari banyaknya informasi. Hikmat membutuhkan refleksi, pengalaman, latihan, dan pembentukan karakter. Karena itu, pendidikan yang hanya mengejar akumulasi pengetahuan berisiko menghasilkan individu yang kaya informasi tetapi miskin kebijaksanaan.

Pada titik ini psikologi dan teologi tidak sedang berbicara tentang dua realitas yang berbeda. Keduanya sedang menjelaskan dimensi yang berbeda dari manusia yang sama. Psikologi menunjukkan bahwa proses diperlukan untuk membangun kemampuan berpikir, kematangan emosi, dan ketahanan mental. Teologi menegaskan bahwa proses yang sama mengarahkan manusia kepada sapientia, yaitu kemampuan menggunakan pengetahuan secara bijaksana dan bertanggung jawab. Psikologi membantu menjelaskan bagaimana manusia bertumbuh melalui proses belajar, sedangkan teologi menjelaskan ke arah mana pertumbuhan tersebut seharusnya diarahkan. Yang satu berbicara tentang perkembangan kemampuan, yang lain berbicara tentang pembentukan hikmat.

Jika AI menjawab pertanyaan "apa yang perlu diketahui?" maka hikmat bertanya "bagaimana pengetahuan itu digunakan untuk hidup dengan benar?" Pertanyaan kedua inilah yang sering terlupakan dalam diskusi tentang pendidikan. Padahal tujuan terdalam pendidikan tidak pernah sekadar menghasilkan individu yang mampu menjawab soal dengan benar. Pendidikan bertujuan membentuk manusia yang mampu menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab bagi dirinya, sesamanya, dan masyarakat.

Tantangan pendidikan Indonesia pada akhirnya bukanlah bagaimana menghalangi penggunaan AI. Upaya tersebut hampir mustahil dilakukan. Tantangan yang lebih penting adalah membangun kembali budaya belajar yang menghargai proses.

Para pendidik perlu merancang pembelajaran yang mendorong diskusi, refleksi, pemecahan masalah, dan keterlibatan aktif peserta didik. Sistem evaluasi juga perlu bergerak melampaui dari pengukuran hasil akhir menuju penilaian yang memperhatikan proses berpikir dan perkembangan pribadi.

AI sesungguhnya sedang menguji pemahaman kita tentang tujuan pendidikan. Jika pendidikan hanya dipahami sebagai sarana memperoleh informasi, maka AI tampak sebagai jawaban yang sempurna. Namun jika pendidikan dipahami sebagai proses pembentukan hikmat, maka teknologi tetap harus ditempatkan sebagai alat, bukan tujuan. AI dapat mempercepat perolehan scientia, tetapi pendidikan tetap bertugas membentuk sapientia.

Pada akhirnya, ancaman terbesar AI bagi pendidikan bukanlah bahwa mesin menjadi semakin pintar. Ancaman yang sesungguhnya adalah ketika manusia tidak lagi menghargai proses yang membuatnya bertumbuh. Sebab pendidikan yang sejati tidak hanya menghasilkan jawaban yang benar, tetapi juga membentuk manusia yang mampu menggunakan pengetahuan tersebut dengan bijaksana.

*) Sugianto, M.Div., M.Th.
Dosen STT Reformed Indonesia - Jakarta

*) Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detikcom

Halaman 3 dari 3


Simak Video "Video: Tren Dessert Kekinian Ubi Cream Cheese, Benarkah Lebih Sehat?"
[Gambas:Video 20detik] (nwk/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads