Kemendikdasmen Sebut SMK Harus Punya Mitra Industri, Tingkatkan Peluang Kerja Lulusan

ADVERTISEMENT

Kemendikdasmen Sebut SMK Harus Punya Mitra Industri, Tingkatkan Peluang Kerja Lulusan

Devita Savitri - detikEdu
Rabu, 13 Mei 2026 06:30 WIB
Dirjen Dikmen Diksus, Tatang Muttaqin ungkap hasil revitalisasi di SMK.
Dirjen Dikmen Diksus, Tatang Muttaqin sebut SMK harus punya mitra industri, ini alasannya.Foto: Devita Savitri/detikEdu
Jakarta -

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Dikmen Diksus) Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin ungkap pentingnya mitra industri bagi sekolah menengah kejuruan (SMK). Ia menyebut kemitraan tersebut menjadi syarat mendasar dalam pendirian SMK.

"Ada syarat untuk mendirikan SMK itu harus punya mitra industri. Karena kalau dia tidak punya mitra industri dia mau buat kurikulum sama siapa," tutur Tatang dalam acara Bincang Santai Dampak Nyata Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Penguatan Literasi melalui Sarana Perpustakaan yang Nyaman, di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026).

Dijelaskan Tatang, kurikulum SMK merupakan hasil kolaborasi pihak sekolah dengan industri. Konsep SMK saat in tidak lagi hanya berorientasi pada pembelajaran teori, tetapi juga menerapkan teaching factory, yakni model pembelajaran yang meniru sistem kerja industri secara langsung di lingkungan sekolah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pabrik pembelajaran yang menggambarkan di sekolah itu kayak di pabrik lah untuk sesuai bidang masing-masing," katanya.

ADVERTISEMENT

Keunggulan SMK yang Punya Mitra Industri

Lebih lanjut, Tatang menyebut pihaknya mendata lulusan SMK melalui tracer study. Data ini memuat tentang bagaimana keberkerjaan lulusan SMK.

Kemendikdasmen menemukan SMK dengan banyak mitra industri, memiliki tingkat keberkerjaan lulusan yang tinggi. Alasannya karena apa yang diajarkan di sekolah sesuai dengan kebutuhan industri.

"Makin banyak mitra industrinya, makin erat mitra industrinya, memang makin tinggi tingkat kebekerjaannya. Karena apa yang diajarkan betul-betul apa yang dibutuhkan industri, dan industri juga gak mau berspekulasi mendapatkan pegawai yang kurang oke," urainya.

Kerja sama dengan industri juga sangat bermanfaat dalam hal pemenuhan mesin belajar yang harganya sangat mahal. Harga mesin untuk pembelajaran berbagai bidang di SMK berkisar antara Rp 500-800 juta, untuk itu Kemendikdasmen mendorong adanya kerja sama antar sekolah dan industri.

"Tapi dengan keterbatasan dana yang dimiliki, maka kita dorong juga SMK-SMK yang belum memadai untuk bekerjasama dengan mitra industri," kata dia lagi.

PKL SMK Minimal 6 Bulan

Melihat keterbatasan yang ada, Tatang juga mendorong agar PKL murid SMK berjalan minimal 6 bulan. Harapannya, selama waktu tersebut, murid bisa belajar secara langsung dari industri dan bisa memiliki kemampuan yang lebih memadai

Waktu PKL 6 bulan dinilai Tatang sangatlah ideal, karena kalau 3 bulan murid baru mulai belajar dan mencoba. Sedangkan 3 bulan sisanya, adalah waktu yang tepat untuk praktik.

"Makanya kenapa minimal 6 bulan, jangan sampai saya sebagai pengusaha itu cuma dititipi, orang untuk belajar, habis belajar pergi. Saya ingin dapat juga dong 3 bulannya kerja mereka. Jadi ini hal-hal yang dipraktikkan, kenapa mitra industri ini sangat penting," ungkapnya.

Tatang tidak mempermasalahkan bila PKL murid berjalan lebih dari 6 bulan asal sesuai dengan kemampuan sekolah, murid, dan peruasahaan tempat magang berlangsung. Salah satu praktik tersebut diterapkan oleh Dinas Pendidikan Jawa Barat, di mana PKL berjalan setahun.

"Sebenarnya by regulasi minimal 6 bulan. Kita yang penting akan dilihat tergantung sekolah itu kemampuannya, karena kan PKL ini kan nanti siswa jauh dari orang tua atau tempat tinggalnya biayanya juga akan berdampak. Ini yang kita ambil pilihan-pilihan yang paling mudah," pungkasnya.



(det/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads