Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat beri pesan bagi para guru peserta pelatihan Program Pengembangan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI) yang akan mengajar di kelas 3 SD. Apa pesannya?
Atip menekankan, kebijakan ini hadir untuk menyiapkan guru SD agar memiliki kemahiran berbahasa. Terkait hal itu, ia menyampaikan agar bahasa Inggris tidak berhenti sebagai mata pelajaran saja.
"Karena sampai kiamat pun, (jika hanya sebagai mata pelajaran saja) maka tidak akan menjadikan anak didik kita itu mahir berbahasa," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahasa Inggris Harus Dibiasakan dalam Berdialog
Berkaca dari pengalamannya, Atip menyebut ia sudah belajar bahasa Inggris dari jenjang SMP hingga SMA, tetapi hanya belajar saja dan merasa takut jika harus diucapkan.
"Sehingga sampai SMA itu hanya bisa membaca saja, untuk listening juga masih tebal telinga, apalagi untuk speaking," ceritanya.
Ia melanjutkan, keberanian untuk berbicara bahasa Inggris hadir ketika Atip lulus seleksi studi ke Australia. Sebelum berangkat, ada kelas persiapan dengan pengajar warga negara asing yang disebutnya sebagai 'teteh-teteh bule'.
"Kok jadi berani? Tidak takut salah. Seorang pakar teman saya mengatakan, yang penting berarti sudah bisa ketika lawan bicara kita paham apa yang kita sampaikan," ucapnya.
Untuk itu, ia menekankan agar bahasa Inggris tidak berhenti sebagai pelajaran semata. Menurutnya, saat proses belajar-mengajar di mulai, guru harus bisa berdialog dengan bahasa Inggris bersama murid.
"Singkatnya, nanti Bapak dan Ibu guru berdialoglah dalam bahasa Inggris ketika pelajaran bahasa Inggris itu," pesan Atip.
Bagi Atip, ketika bahasa ditempatkan sebagai alat berkomunikasi, perasaan keterpaksaan sebelumnya akan menjadi rukun. Artinya bila sebelumnya murid itu merasa terpaksa, mereka akan semakin terbiasa nantinya.
Dari sisi bahasa, Atip menyebut nilai tinggi di rapor terkadang tidak ada gunanya. Akan tetapi, ketika murid mampu berkomunikasi dan paham maksud pembicaraan dengan bahasa Inggris, hal itu menyatakan pembelajaran berhasil.
"Jadi bagi bahasa, tidak ada gunanya di rapor bahasa Inggris (nilainya) sembilan, tapi ketika dia diajak untuk berbicara tidak paham," singgung Atip.
Di kesempatan yang sama, Dirjen GTK Nunuk Suryani menyatakan sebanyak 5.777 guru dari 34 provinsi dan 177 kabupaten/kota mengikuti pelatihan ini pada tahap pertama dengan target 10 ribu peserta di 2026. Bahasa Inggris sendiri akan menjadi mapel wajib mulai dari kelas 3 SD di tahun ajaran 2027/2028.
Nunuk menyebut pada tahun pertama, 2027/2028, baru sekitar 58.896 SD atau 30% dari total lebih dari 150 ribu sekolah yang akan menerapkannya. Kemendikdasmen menargetkan seluruh sekolah SD sudah memiliki guru dengan kompetensi pengajaran bahasa Inggris pada 2029.
"Kemudian tahun berikutnya, hingga berikutnya, harapannya 3 tahun mendatang kita sudah siap untuk semua sekolah (SD) menerapkan bahasa Inggris (sebagai mapel wajib) di kelas 3 SD," tandasnya.
(det/nah)











































