Kemendikdasmen Perluas PJJ ke 34 Provinsi, Sasar 3.500 Anak Putus Sekolah

ADVERTISEMENT

Kemendikdasmen Perluas PJJ ke 34 Provinsi, Sasar 3.500 Anak Putus Sekolah

Cicin Yulianti - detikEdu
Minggu, 03 Mei 2026 17:00 WIB
Siswa mengikuti pelajaran secara daring dari rumahnya di Meruya, Jakarta, Jumat (23/1/2026). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan kebijakan bekerja dari rumah (Work From Home/WFH) bagi karyawan atau pegawai dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)
Ilustrasi PJJ. Foto: ANTARA FOTO/Ika Maryani
Jakarta -

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperluas Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) ke 34 provinsi di Indonesia mulai tahun ini. PPJ ini menyasar sebanyak 3.500 anak tidak sekolah.

Baru-baru ini, Kemendikdasmen juga telah melakukan uji coba PJJ untuk anak pekerja migran Indonesia di Malaysia pada tahun 2025. Artinya, PJJ ini tak hanya mencakup anak-anak di Indonesia, tetapi anak bangsa di luar negeri

"Dengan paradigma tersebut kami ingin menjangkau yang mereka yang tidak terjangkau sehingga PJJ ini menjadi solusi nyata untuk menjawab tantangan pemerataan akses pendidikan," kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, dikutip dari laman Puslapdik Kemendikdasmen, Minggu (3/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masih Ada 4 Juta Anak Tidak Sekolah

Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikdasmen melaporkan ada sebanyak 4 juta anak tidak sekolah (ATS) di Indonesia. PJJ akan menjangkau sebanyak 1,13 juta dari anak tersebut.

ADVERTISEMENT

Adapun prioritas program PJJ adalah anak dari wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Selain itu, juga sekolah di daerah rawan bencana dan Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) dengan anak pekerja migran Indonesai.

Usia anak yang bisa mengikuti PJJ adalah 16-18 tahun. Menurut Mu'ti, PJJ ini diadakan untuk menjamin akses pendidikan bagi anak yang terkendala akses materi pembelajaran maupun wilayah.

"Kita harus menekankan bahwa pendidikan tidak lagi dipandang hanya sebatas kegiatan formal di ruang kelas, melainkan sebagai proses pembelajaran yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat," katanya.

PJJ Diintegrarikan dengan Deep Learning

Mu'ti menyebut salah satu tantangan PJJ adalah bagaimana mengintegrasikannya dengan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). PJJ menurutnya harus beririsan dengan Deep Learning.

Deep Learning tidak hanya berfokus pada proses transfer dan transformasi pengetahuan. Namun, juga proses mental, kognitif, dan aspek pembelajaran lain.

"Sekolah induk dan sekolah mitra terpilih memiliki peran penting bukan hanya sekadar menekan angka ATS, melainkan juga bagaimana membentuk karakter mereka dan mengembangkan kompetensi yang kuat. Semoga program ini menjadi langkah strategis dalam memperluas akses pendidikan berkualitas," kata Mu'ti.

Hingga saat ini, ada sebanyak 21 sekolah induk yang menjadi penyelenggara dan penanggung jawab penuh PJJ. Selain itu, ada 62 sekolah mitra yang berkolaborasi.




(cyu/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads