Wardah Inspiring Teacher (WIT) 2026 atau generasi ke-8 telah dimulai. Sebanyak 25.000 guru inspiratif dari seluruh Indonesia akan mengikuti pelatihan dan pembinaan dari Wardah.
"Di generasi ke-8 ini kita ingin melangkah lebih jauh, menjadi bagian dari gerakan nasional untuk membangun kualitas manusia Indonesia. Bersama alumni di rumah belajar Wardah Inspiring Teacher," kata Co-Founder Paragon Corp, Salman Subakat dalam pembukaan Wardah Inspiring Teacher Generation 8 di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat pada Sabtu (14/2/2026).
Guru-guru tersebut merupakan peserta terbaik dan terpilih dari 40.000 pendaftar. Mereka berasal dari 30 provinsi di seluruh Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi ada tahap-tahap mungkin ya, karena perjalanannya tidak semua bisa. Kita akan jadi guru teladan, kita akan jadi guru inspirasi," kata Salman.
Ditambahkan oleh Head of CSR & Corporate Communication Paragon Corp, Suci Hendrina, program ini sudah dimulai sejak 2017. Telah ada sebanyak 11 ribu alumni dari WIT.
"Ini adalah tahun ke-8 untuk program ini. Kita sudah menjalankan program ini dari tahun 2017, di mana dulu kita awali dari gerakan kecil di Jogja, 30 orang guru, dan Alhamdulillah sampai 7 kali pelaksanaan kita punya alumni 11 ribu guru yang tersebar di seluruh Indonesia di lebih 400 kawasan, kota," katanya.
Guru Dilatih-Hasilkan Project Based Learning
Selama program WIT, 25.000 guru ini akan diberi pelatihan dan dituntut membuat project based learning. Guru akan mengajar dengan cara berbeda, dengan tujuan membuat siswa mampu memecahkan berbagai masalah di sekitar.
"Ada project based learning, jadi di sini mulai dari bagaimana ada step-stepnya yang dilakukan. Mulai dari bagaimana mengajak murid untuk menemukan masalah di sekitar, kemudian bagaimana murid akhirnya berperan serta untuk mengatasi isu tersebut, memikirkan bersama solusinya. Jadi di sini pengen memantik sih sebetulnya apa yang menjadi kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan," kata Suci.
Setelah lulus dari program ini, para guru diharapkan menjadi alumni yang inspiratif. Bahkan saat ini, banyak alumni yang jadi pembicara di berbagai forum pendidikan.
"Tapi Alhamdulillah berkat di sini ini sudah menjadi sebuah gerakan, alumni-alumni kita pun juga akhirnya punya snowball effect terhadap gerakan ini," katanya.
Guru Akan Belajar AI di Singapura
Selain itu, WIT memberikan kesempatan kepada para guru untuk melakukan studi banding ke luar negeri. Mereka juga akan mendapatkan pelatihan AI untuk meningkatkan kemampuan digital.
"Jadi tahun 2019, kita membuka kesempatan bagi guru-guru peserta WIT yang terpilih itu bisa mengikuti kayak belajar, kayak learning trip lah gitu ke New Zealand saat itu. Nah kalau di tahun ini, Insya Allah kita juga akan merencanakan hal yang sama. Tahun ini kita juga berkolaborasi dengan Microsoft Fib dan Academy untuk belajar kompetensi umum, Thinking dan juga AI," ujar Suci.
"Dan rencananya juga akan membawa guru-guru untuk belajar teknologi, AI, nah itu ke Microsoft juga yang ada di Singapura. Jadi biasanya memang kita tidak membuat semacam ini menjadi sesuatu yang akhirnya punya motivasi eksternal gitu. Tapi akhirnya di akhir program, kita coba berikan itu," sambungnya.
Salman mengapresiasi para guru yang mengikuti program ini. Pasalnya, mereka menjadi harus mengorbankan waktu lebih di samping kesibukan di luar sekolah.
"Pasti tidak mudah di tengah kesibukan, Ibu mengajar sehari-hari. Apalagi sudah letih mengajar, terus cari internet kadang susah Ibu. Susahnya tidak ada sinyal gitu ya," katanya.
Salman berharap WIT dapat memberikan dampak baik bagi siswa maupun guru itu sendiri. Menurutnya, guru dapat menumbuhkan persepsi baik kepada siswa.
"Jadi kalau misalnya ketulusan itu bisa dinilai dengan mata uang. Saya rasa Bapak Ibu itu orang yang paling kaya di dunia. Kebayang kalau kesuksesan para guru ini juga milik guru-guru yang terlibat di dalamnya," katanya.
