Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) masih menjadi bagian dari bidang keilmuan yang diminati siswa, terlebih saat mereka menentukan jurusan kuliah. Banyak yang menganggap pembelajaran IPS mudah karena hanya menekankan pada hafalan.
Namun, menurut Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof Dr Agus Suprijono, M Si, anggapan tersebut justru merupakan jebakan. Alih-alih mempelajari realitas kontemporer, masih banyak siswa hanya menghafal fakta sejarah dan geografi.
Dalam orasi ilmiah saat pengukuhannya sebagai Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Unesa, Agus menekankan perlu adanya rekontruksi besar-besaran dalam pedagogi IPS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Transformasi IPS Perlu Berbasis HOTS
Agus menyebut pembelajaran IPS perlu bertranformasi dari pola hafalan menjadi ruang dialog yang humanistik. Ia menawarkan metode Higher Order Thinking Skills (HOTS).
"Melalui perpaduan keduanya, HOTS akan menajamkan daya analisis dan kreativitas siswa, sementara nilai kemanusiaan memberikan arah etis serta empati," katanya, dikutip dari laman Unesa, Senin (19/1/2026).
Menurutnya, metode HOTS dapat membuat siswa memiliki sikap adil dan reflektif. Kemampuan itu dibutuhkan dalam menyikapi permasalahan masyarakat di abad ke-21 ini.
Tak Cuma Cerdas Intelektual, tapi Juga Sosial
Dengan rekontruksi yang ditawarkan Agus, ia yakin siswa dapat memiliki kesadaran diri dan berpikir reflektif. Nantinya, siswa memiliki keseimbangan dalam sosial, kognitif, dan moral.
Pembelajaran yang lebih dari sekadar hafalan akan menumbuhkan intelektual sekaligus tanggung jawab sosial siswa. Agus menawarkan rekontsruksi ini kepada para guru, setidaknya untuk membantu membangkitkan empati dan kesadaran moral siswa.
Lebih jauh lagi, transformasi pendidikan IPS berbasis HOTS juga bertujuan menciptakan masyarakat yang partisipatif dan refleksif. Agus berharap, dengan cara ini, masyarakat lebih terbiasa berdialog rasional, dapat mengambil keputusan etis, dan menghargai keberagaman.
(cyu/twu)











































