Prabowo Resmikan 166 Sekolah Rakyat, Upaya Putuskan Rantai Kemiskinan

ADVERTISEMENT

Round Up

Prabowo Resmikan 166 Sekolah Rakyat, Upaya Putuskan Rantai Kemiskinan

Pasti Liberti Mappapa - detikEdu
Selasa, 13 Jan 2026 06:30 WIB
Siswa dan siswi terlihat aktif mengikuti berbagai kegiatan di kawasan Sekolah Rakyat Terpadu 9, Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Minggu (11/1/2026), menjelang peresmian sekolah rakyat tersebut.
Murid Sekolah Rakyat makan bersama di asrama Foto: Pradita Utama/detikFoto
Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto meresmikan 166 titik Sekolah Rakyat yang tersebar 131 Kabupaten/Kota di 34 provinsi di seluruh Indonesia. Sekolah-sekolah tersebut menampung lebih dari 15 ribu siswa.

Peresmian dipusatkan di Sekolah Rakyat terpadu (SRT) 9 Banjarbaru yang ada di lingkungan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1/2026).

Sekolah-sekolah tersebut mulai beroperasi secara bertahap sejak Juli 2025 lalu dimulai dari 63 titik dan berkembang hingga 166 titik. Pemerintah merencanakan mendirikan 500 Sekolah Rakyat hingga 2029 mendatang. Setiap sekolah dirancang untuk menampung 1.000 siswa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hari ini kita berhasil melihat dan meresmikan 166 Sekolah Rakyat. Sasaran kita adalah 500 Sekolah Rakyat sampai tahun 2029. Insya Allah akan tercapai," kata Prabowo dalam acara peresmian tersebut.

ADVERTISEMENT

Prabowo pun menyampaikan pendidikan merupakan sarana paling benar untuk menghilangkan kemiskinan di Indonesia. "Pendidikan adalah sarana, sarana yang paling benar untuk menghilangkan kemiskinan. Tapi pendidikan butuh uang. Uang kita, kalau dicuri, kalau dikorupsi, kurang! untuk membangun semua sekolah yang kita ingin bangun. Semua kampus yang ingin kita bangun," katanya.

Lebih lanjut, Prabowo menegaskan komitmennya untuk menuntaskan kemiskinan ekstrem pada akhir masa jabatannya pada 2029. Ia menekankan masyarakat yang berada pada kelompok desil 1 dan desil 2 harus mengalami perubahan nasib secara nyata.

"Cita-cita saya di akhir masa jabatan saya tahun 2029 bahwa mereka yang berada di kemiskinan ekstrem, desil 1 dan 2 bisa kita ubah nasibnya. Kita bisa hilangkan kemiskinan ekstrem di Indonesia. Saya percaya itu bisa terjadi," katanya.

67 % Orang Tua Murid Sekolah Rakyat Berpenghasilan di Bawah Rp 1 Juta Per Bulan

Dalam sambutannya, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyatakan Sekolah Rakyat dirancang sebagai upaya memotong rantai kemiskinan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

"Mengutip arahan Bapak Presiden pada Sidang Kabinet Merah Putih 20 Oktober tahun 2025 bahwa Sekolah Rakyat kita rancang sebagai upaya untuk memotong rantai kemiskinan," katanya.

"Untuk itu kami berusaha menerjemahkan penyelenggaraan Sekolah Rakyat dengan melakukan penjangkauan kepada mereka dari keluarga paling tidak mampu," imbuhnya.

Ia mengungkapkan, anak-anak yang masuk Sekolah Rakyat berasal dari keluarga dengan kondisi yang sangat rentan. Sebanyak 60% orang tua siswa bekerja sebagai buruh, buruh harian lepas, buruh tani, buruh nelayan, tukang cari rumput, pemulung.

"Mereka umumnya berpenghasilan tidak tetap dan 67 persen berpenghasilan di bawah Rp 1 juta per bulan. Sebanyak 65 persen memiliki tanggungan keluarga di atas 4 orang," katanya.

Gus Ipul juga menyebut 454 siswa Sekolah Rakyat berasal dari kalangan yang belum pernah mengenyam bangku pendidikan. Kemudian 298 siswa sekolah rakyat sebelumnya mengalami putus sekolah atau tidak lulus sekolah.

"Sebagian dari mereka bahkan sudah bekerja di usia yang sangat muda. Kami juga menemukan kenyataan yang lebih sunyi. Banyak anak berasal dari keluarga dengan orang tua tunggal bahkan dengan mengalami kekerasan dalam rumah tangga.," ujarnya.



(pal/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads