Koordinator Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji menanggapi soal jebloknya nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA-sederajat pada tahun ini. Nilai rerata terendah TKA terdapat pada mata pelajaran bahasa Inggris yakni 24,93 dari 100.
Menurutnya, rendahnya hasil tes akademik sudah sering terjadi pada tes-tes sebelumnya yakni Ujian Nasional (UN). Ia juga membandingkan nilai-nilai UN hingga TKA dari setiap masa kabinet yang berbeda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang pertama, karena ini TKA lagi ramai, jadi slide pertama TKA. Jadi TKA yang buruk itu ternyata saya hitung, saya refleksikan dari 10 tahun terakhir, itu ternyata ya sama-sama aja gitu. 10 tahun terakhir kita punya empat menteri," katanya dalam diskusi Catatan Akhir Tahun Rapor Pendidikan 2025 yang digelar JPPI di Bakoel Kopi Cikini, Jalan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (30/12/2025).
Pada 2014-2015 saat UN masih diberlakukan, nilai rata-rata nasional UN sempat menyentuh angka 59. Lalu terus menurun hingga berada di kisaran 49 pada era berikutnya.
"Pak Anies di 2015 itu tertinggi 59, kemudian 2016 turun menjadi 55. Kemudian di era Pak Muhadjir 2016 pertengahan, kemudian UN 2017 turun menjadi 50. Masih di era Pak Muhadjir 2018 turun lagi 46, turun lagi di akhir Pak Muhadjir 2019, 49," bebernya.
Nilai TKA Masuk Kategori Merah
Lalu Ubaid menghitung rerata dari semua mata pelajaran TKA SMA/sederajat dan mendapati rata-ratanya hanya 49. Artinya, nilai TKA tak jauh rendahnya dari UN-UN di tahun sebelumnya.
"Ternyata saya bikin rata-rata dari semua mata pelajaran yang ada itu ternyata skornya 49. Jadi sebenarnya hasilnya sama, sama dengan yang terjadi di era UN zaman Pak Muhadjir, atau enggak jauh-jauh beda dengan UN zaman Pak Anies gitu," katanya.
Rendahnya Nilai TKA Bukan Salah Guru-Siswa
Ubaid menyebut rendahnya nilai TKA para siswa tak serta merta salah siswa itu sendiri atau guru. Menurutnya, hal itu disebabkan gagalnya sistem pendidikan nasional.
"Jadi sebenarnya TKA yang buruk itu bukan gara-gara enggak ada UN, karena ketika UN masih ada itu prestasi anak bukan naik tapi turun," ujarnya.
Ubaid juga menilai adanya perlu adanya evaluasi terhadap kualitas Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), sistem rekrutmen guru, hingga rendahnya kesejahteraan pendidik.
"Mulai dari LPTK-nya (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) harus kita evaluasi. Fakultas-fakultas keguruan, universitas-universitas keguruan harus kita evaluasi," tegas Ubaid
(cyu/cyu)











































