APINDO Kutip Bappenas: Pekerja di Indonesia Didominasi Lulusan SD ke Bawah

Anisa Rizki Febriani - detikEdu
Rabu, 05 Okt 2022 12:04 WIB
Ilustrasi pekerja Jepang
Ilustrasi. Menurut penuturan APINDO, pekerja di Indonesia masih didominasi oleh pekerja dengan tingkat pendidikan SD ke bawah. (iStock)
Jakarta -

Selama tahun 2018-2021, tenaga kerja di Indonesia didominasi oleh pekerja dengan tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah. Hal ini diungkapkan oleh Hariyadi B. Sukamdani selaku Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO).

Keterangan tersebut diungkap Hariyadi berdasarkan data Bappenas tahun 2018 melalui kegiatan Sosialisasi Pemagangan dan Kuliah Umum bersama APINDO dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (4/10/2022).

"Tenaga kerja di Indonesia selama tahun 2018-2021 masih didominasi oleh pekerja dengan tingkat pendidikan SD ke bawah," katanya, dilansir dari laman UGM, Rabu (5/10/2022).

Menurut Hariyadi, dominasi pekerja dengan pendidikan rendah menjadi salah satu penanda kualitas pekerja di Indonesia.

"Pekerja dengan pendidikan rendah menandakan kualitas yang rendah juga dari pekerja di Indonesia," ungkap dia.

Hal ini didukung oleh data Bappenas yang diungkap Hariyadi. Ia menjabarkan, hampir di seluruh sektor pekerjanya berkeahlian rendah. Sektor pekerjaan yang dimaksud adalah sektor pertanian, industri, manufaktur, hingga sektor jasa dan lainnya.

Persentase Keahlian Pekerja di Sejumlah Sektor

Pekerja di sektor pertanian dan industri sebagian besar berkeahlian rendah. Dari jumlah total 121,02 juta pekerja, sekitar 99,41 persen pekerja di sektor pertanian berkeahlian rendah, 0,47 persen berkeahlian menengah, dan hanya 0,13 persen berkeahlian tinggi.

Keadaan tersebut juga ditemukan di sektor manufaktur. Ada sebanyak 90,45 persen pekerja berkeahlian rendah, 6,52 persen berkeahlian menengah, dan 3,03 persen berkeahlian tinggi.

Kemudian di sektor jasa dan lainnya cenderung membutuhkan keahlian menengah dan tinggi dengan potret sebanyak 14,36 persen pekerja berkeahlian tinggi, 52,74 persen berkeahlian menengah, dan 32,90 persen berkeahlian rendah.

"Dalam empat tahun terakhir, proporsi pekerja formal berkisar pada 42 persen atau sekitar 53,09 juta di tahun 2018. Pekerja formal sektor industri cenderung berkeahlian rendah. Rendahnya kualitas pekerja ini salah satunya disebabkan keterbatasan angkatan kerja memperoleh pelatihan," papar Hariyadi.

Dibutuhkan Upaya Peningkatan Keterampilan

Menurut Hariyadi, peningkatan keterampilan menjadi salah satu solusi dari permasalahan tersebut. Salah satunya dengan membangun lingkungan pengembangan keterampilan yang baik seperti pengembangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) sektor prioritas, pemagangan, pelatihan kejuruan, dan revitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK).

Kemudian, skema kebijakan ketenagakerjaan komprehensif untuk pengembangan keterampilan. Tak kalah penting adalah kerja sama industri dengan sekolah kejuruan dan perguruan tinggi.

"Karenanya penting dilakukan kerja sama antara UGM dan APINDO ini untuk meningkatkan low skill pekerja ke medium bahkan high skill," terangnya.



Simak Video "Respons Rektor soal Puluhan Website UGM Dibobol Hacker"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/rah)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia