Nadiem Optimis Agenda Prioritas Pendidikan G20 Sukses dengan Gotong Royong

Kristina - detikEdu
Rabu, 09 Feb 2022 15:30 WIB
Nadiem makarim dalam acara
Nadiem Makarim. Foto: Tangkapan layar/YouTube Kemdikbud RI
Jakarta -

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim, menekankan pentingnya gotong royong sebagai solusi dalam membahas agenda prioritas pendidikan G20.

"Saya semakin sadar pentingnya gotong royong, salah satu nilai dasar dari bangsa kita yang sekarang menjadi semakin penting untuk membantu kita untuk pulih dan bangkit," ucap Nadiem dalam acara "Kick Off Meeting G20 on Education and Culture", yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Kemdikbud RI, Rabu (9/2/2022).

Menurut Nadiem, gotong royong merupakan gagasan mendasar untuk menyukseskan program Merdeka Belajar yang digagas oleh Kemendikbudristek, khususnya dalam penerapan kurikulum prototipe.

"Gotong royong adalah poin yang penting, gagasan mendasar yang menjalankan roda gerakan Merdeka Belajar khususnya dalam penerapan kurikulum prototipe yang saat ini mulai diterapkan sebagai opsi bagi sekolah-sekolah di Indonesia," tambahnya.

Kurikulum prototipe didesain untuk mengedepankan pembelajaran berbasis proyek dan memberikan kemerdekaan bagi guru dalam merancang proses pembelajaran. Kurikulum ini fokus pada kompetensi yang esensial dan juga relevan, jelas Nadiem.

Kurikulum baru yang ditawarkan tersebut dirasa dapat membantu Indonesia dalam mencapai empat tujuan prioritas dalam Education Working Group (EdWG) G20. Agenda prioritas tersebut antara lain pendidikan berkualitas untuk semua, teknologi digital dalam pendidikan, solidaritas dan kemitraan, dan masa depan dunia kerja pascapandemi COVID-19.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbursitek yang juga merupakan ketua Education Working Group G20, Iwan Syahril, mengatakan isu pertama berangkat dari tantangan untuk mendorong pemerataan akses dan kualitas pendidikan di semua tingkatan khususnya untuk kelompok-kelompok yang rentan dalam upaya pemulihan pascapandemi COVID-19.

"Negara-negara G20 perlu saling bahu membahu untuk membantu dunia dalam mengatasi ketimpangan akses pendidikan yang berkualitas dalam pemulihan pascapandemi COVID-19," ucapnya.

Selanjutnya, isu kedua diangkat untuk memberikan solusi tentang bagaimana teknologi digital bisa menjadi jawaban atas permasalahan akses, kualitas, dan keadilan sosial di bidang pendidikan.

Kemudian, isu solidaritas dan kemitraan merupakan isu yang berkaitan dengan kearifan budaya Indonesia yang ditekankan oleh Nadiem, gotong royong. Konsep inilah yang kemudian diusulkan sebagai solusi untuk menyelesaikan persoalan pendidikan global.

"Kita ingin menawarkan kearifan budaya bangsa kita sebagai solusi dalam reimagine the future, karena kita percaya hanya dengan saling mendukung dan bekerja sama kita bisa maju dan menyelesaikan persoalan-persoalan pendidikan global," ucap Iwan.

Pada isu keempat, Kemendikbudristek berpandangan bahwa kebutuhan dunia kerja pascapandemi COVID-19 mengalami perubahan. Itulah sebabnya diperlukan re-imajinasi bagaimana pendidikan dapat menjawab tantangan dunia di masa mendatang.

"Dengan semangat untuk pulih dan bangkit bersama saya ingin mengajak semuanya untuk menguatkan gotong royong agar kita bisa menyukseskan presidensi G20 Indonesia serta mewujudkan merdeka belajar, merdeka berbudaya," tutup Nadiem.



Simak Video "Persiapan Plataran Menjangan Jelang G20 di Bali"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia