Studi: Sekolah dari Rumah Bikin Siswa Lebih Sehat, Benarkah?

Kristina - detikEdu
Kamis, 27 Jan 2022 16:10 WIB
Ilustrasi anak sekolah online
Ilustrasi sekolah dari rumah. Foto: Getty Images/iStockphoto/Lacheev
Jakarta -

Sebuah studi yang dilakukan University of Zurich (UZH) menunjukkan bahwa penutupan sekolah saat pandemi COVID-19 berdampak positif bagi kualitas hidup siswa. Mulai dari waktu tidur hingga pola konsumsi.

Gelombang pertama pandemi COVID-19 menyebabkan penutupan semua sekolah secara global. Menurut berbagai penelitian, gejala depresi dan kecemasan di kalangan anak muda meningkat selama periode ini, sementara kepuasan dan kualitas hidup menurun. Selain itu, siswa juga kurang aktif secara fisik dan menghabiskan lebih banyak waktu duduk di depan layar.

Meskipun penutupan sekolah tersebut berdampak negatif terhadap kesehatan dan kesejahteraan banyak anak muda, tetapi para peneliti dari UZH menemukan sisi positif darinya. Berkat tidur lebih lama di pagi hari, banyak remaja melaporkan adanya peningkatan kesehatan dan kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan.

Penelitian ini dilakukan terhadap 3.664 siswa sekolah menengah di Canton of Zurich, Swiss selama masa penutupan sekolah di musim semi 2020. Data diperoleh dengan survei online dalam kurun waktu tersebut dan dilakukan perbandingan dengan survei dari data 2017 terhadap 5.308 remaja.

Hasil penelitian menunjukkan, selama tiga bulan penutupan sekolah, siswa bangun sekitar 90 menit lebih lambat pada hari-hari sekolah. Tetapi, rata-rata tidur hanya 15 menit lebih lambat. Artinya, total waktu tidur mereka meningkat sekitar 15 menit.

"Para siswa mendapat sekitar 75 menit lebih banyak tidur per hari selama lockdown. Pada saat yang sama, kualitas hidup terkait kesehatan mereka meningkat secara signifikan dan konsumsi alkohol dan kafein mereka turun," kata salah satu pemimpin studi, Oskar Jenni, dilansir Science Daily, Kamis (27/1/2022).

Kurang tidur pada remaja diketahui menyebabkan kelelahan umum, kecemasan dan penyakit fisik. Hal tersebut memiliki efek merugikan pada fungsi kognitif seperti konsentrasi, memori dan perhatian, sehingga secara signifikan lebih sulit untuk berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti diketahui, awal hari sekolah di Swiss bertentangan dengan kebiasaan tidur remaja yang ditentukan secara biologis. Mereka harus bangun pagi-pagi ke sekolah dan banyak di antaranya menderita kurang tidur kronis. Kira-kira, bagaimana dengan Indonesia?



Simak Video "Warga Perbaiki Sekolah di Kharkiv, Berharap Anak-anak Bisa Belajar"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia