Evaluasi K-13: Ada Gengsi Peminatan IPA, IPS, Bahasa dan Beban Guru Banyak

Novia Aisyah - detikEdu
Kamis, 20 Jan 2022 18:30 WIB
PT Timah Tbk kembali memberikan kesempatan bagi anak bangsa yang ada di wilayah operasional perusahaan secara ekonomi kurang mampu agar dapat mengenyam pendidikan terbaik.

Tentunya semua itu diberikan secara gratis dan cuma-cuma untuk jenjang SMA yang dilaksanakan dengan sistem asrama.

Untuk pembelajaran secara akademik tetap dilaksanakan di SMAN 1 Pemali, sementara untuk asramanya dilaksanakan di kawasan Timah Learning Center.
Foto: Rachman_punyaFOTO
Jakarta -

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tengah menggodok kurikulum baru yang rencananya akan diterapkan pada 2024 untuk menggantikan kurikulum 2013 (K-13).

Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek Anindito Aditomo menyampaikan pihaknya telah melakukan evaluasi terhadap K-13 yang akan diganti.

Satu poin terpenting menurut Nino yakni jumlah kompetensi materi yang ada di dalam K-13 terlalu luas dan detail sehingga sulit dipahami serta diimplementasikan oleh guru.

"Itu menjadi salah satu faktor yang menyulitkan guru untuk menerapkan tujuan dari kurikulum itu sendiri, pengembangan, kompetensi, dan karakter," ujarnya dalam Rapat Kerja Komisi X DPR RI bersama Kemendikbudristek RI pada Rabu (19/01/2022).

Ia menyambung, "Jadi penggunaan diskusi, project-based learning, problem-based learning itu menjadi sulit dilakukan karena guru dibebani dengan terlalu banyak materi."

Di samping beban guru yang terlampau banyak, melalui presentasinya Nino turut memaparkan beberapa poin penting lainnya terkait evaluasi K-13.

Evaluasi Kurikulum 2013, Sulit Diimplementasikan hingga Timbulkan Gengsi

1. Kompetensi yang termuat dalam kurikulum 2013 terlalu luas dan detail, sehingga guru sulit memahami dan mengimplementasikannya.

2. Kurikulum yang dirumuskan secara nasional sulit disesuaikan menurut situasi dan kebutuhan sekolah, daerah, serta peserta didik. Sebab, materi wajibnya sendiri sudah sangat padat serta strukturnya detail dan bersifat mengunci.

3. Jam belajar dengan satuan per minggu tidak membuat satuan pendidikan leluasa mengatur pelaksanaan mata pelajaran dan menyusun kalender pendidikan.

4. Pendekatan tematik pada jenjang PAUD dan SD serta pendekatan mata pelajaran pada jenjang SMP, SMA, SMK, Diktara (Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan), dan Diksus (Pendidikan Khusus) adalah satu-satunya pendekatan dalam K-13. Tidak ada yang lainnya.

5. Mata pelajaran informatika sifatnya pilihan, padahal kompetensi teknologi adalah keterampilan penting yang harus dimiliki siswa abad ke-21.

6. Struktur kurikulum jenjang SMA tidak begitu memberi keleluasaan agar siswa bisa memilih selain jurusan IPA, IPS, dan Bahasa. Gengsi peminatan pun dipersepsi secara hierarkis dan tidak adil untuk yang memilih jurusan IPS atau Bahasa.

Kepala BSKAP turut menuturkan, pentingnya penyederhanaan materi terbukti dalam evaluasi Kurikulum Darurat yang merupakan simplifikasi dari K-13.

"Hasil belajar anak-anak yang paling penting, literasi dan numerasinya itu lebih bagus ketika sekolahnya menerapkan kurikulum darurat, kurikulum yang disederhanakan, dibanding sekolah-sekolah yang menerapkan Kurikulum 2013 secara penuh," ujarnya.

"Ini masuk akal karena guru bisa fokus pada materi yang esensial, tidak terlalu kejar tayang, dan bisa lebih memperhatikan kualitas proses belajar anak-anak," ungkap Doktor Learning Sciences University of Sydney, Australia tersebut.

Nino memperlihatkan. dari survei pada bulan April-Mei 2021 terhadap 18.370 siswa SD kelas 1-3 di 612 sekolah di 20 kabupaten/kota dari 8 provinsi, skor numerasi yang menerapkan pembelajaran K-13 adalah 482. Sementara itu, skor numerasi dengan kurikulum darurat adalah 517.

Pada aspek literasi, hasil belajar menggunakan kurikulum 2013 skornya adalah 532, sedangkan yang menggunakan kurikulum darurat adalah 570.



Simak Video "Sakit Hati Gaji Tak Dibayar, Eks Guru Honorer di Garut Bakar Sekolah"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia