Model Kurikulum Baru 2022: Opsional hingga Tidak Ada Penjurusan di SMA

Fahri Zulfikar - detikEdu
Rabu, 22 Des 2021 09:30 WIB
Ilustrasi Anak Sekolah SMA sedang belajar
Foto: Rachman_punyaFOTO/Ilustrasi Anak SMA
Jakarta -

Kemendikbud Ristek melalui Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan, Anindito Aditomo (Nino) menjelaskan rencana penawaran kurikulum baru pada tahun 2022.


Menurut Nino, kurikulum baru nantinya akan lebih berfokus pada materi yang esensial dan tidak terlalu padat materi.


"Jadi bukan sekadar kejar tayang materi yang ada di buku teks," ujar Nino seperti yang dikutip detikEdu dari akun Instagram pribadinya.


Bersifat Opsional


Nino juga menjelaskan bahwa sekolah dapat menggunakan kurikulum prototipe ini sebagai alat untuk melakukan transformasi pembelajaran.


Meski kurikulum tersebut mulai diujicobakan pada 2500-an sekolah di seluruh Indonesia melalui Program Sekolah Penggerak, tetapi ia mengatakan bahwa kurikulum prototipe bersifat opsional.


"Kurikulum prototipe tidak disebut sebagai Kurikulum 2022 karena pada tahun 2022 sifatnya opsional. Kurikulum prototipe hanya akan diterapkan di satuan pendidikan yang berminat untuk menggunakannya sebagai alat untuk melakukan transformasi pembelajaran," kata Nino pada detikEdu, Senin (20/12/2021) lalu.


Menurut Nino, kurikulum prototipe sengaja dirancang untuk memberi ruang lebih banyak bagi pengembangan karakter dan kompetensi siswa, terutama pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA).


Artinya, kurikulum tersebut akan memberi kesempatan pada siswa untuk menekuni minatnya secara lebih fleksibel.


Tidak Ada Pembagian Jurusan IPA, IPS, dan Bahasa


Perbedaan yang mungkin paling mencolok adalah siswa kelas 11 dan 12 akan boleh meramu sendiri kombinasi mata pelajaran yang sesuai dengan minatnya. Artinya tidak ada lagi "pengkotakan" jurusan IPA, IPS dan Bahasa.


"Misalnya, siswa yang ingin menjadi insinyur akan boleh mengambil Matematika lanjutan dan Fisika lanjutan, tanpa mengambil Biologi. Ia boleh mengkombinasikan itu dengan mata pelajaran IPS, Bahasa, dan kecakapan hidup yang sejalan dengan minat dan rencana kariernya," jelas Nino.


Meski bisa meramu sendiri, namun kombinasi mata pelajaran yang akan diambil siswa nantinya tetap akan melibatkan peran guru BK.


"Ada kepmen (keputusan menteri) tentang sekolah penggerak yang menjelaskan kurikulumnya," imbuhnya.


Gambaran Kurikulum Baru


Untuk memahami gambaran kurikulum prototipe, bisa melihat Keputusan Mendikbud Ristek Nomor 162/M/2021 tentang Sekolah Penggerak.


Beberapa poin kurikulum prototipe di antaranya sebagai berikut:


1. Kelas X: Mata Pelajaran sama dengan di SMP


Siswa kelas X akan mengikuti mata pelajaran (mapel) umum yang sama dengan di SMP. Sekolah dapat menentukan pengorganisasian pembelajaran IPA atau IPS. Contoh:


- Muatan IPA/IPS terintegrasi. Misal, mapel Fisika, Kimia, dan Biologi dipadukan dalam satu tema menjadi problem-based learning (pembelajaran berbasis masalah).


- Muatan IPA/IPS bergantian diajarkan di blok waktu terpisah. Jadi, Fisika, Kimia, dan Biologi dipisah jam pelajarannya, diikuti unit pembelajaran inkuiri yang mengintegrasikan muatan IPA/IPS tersebut.


- Muatan IPA/IPS diajarkan paralel, misalnya mapel Fisika, Kimia, dan Biologi diajarkan secara reguler di jam pelajaran yang sama setiap minggu. Lalu, diikuti dengan unit pembelajaran inkuiri dari integrasi muatan IPA/IPS tersebut


Proporsi beban belajar di SMA terdiri dari pembelajaran intrakurikuler dan 25-33% proyek penguatan profil pelajar Pancasila.


Mata pelajaran Kelas X sebagai berikut:


- Pendidikan Agama/Kepercayaan dan Budi Pekerti (sesuai keyakinan dan kepercayaan)

- Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

- Bahasa Indonesia

- Matematika

- IPA: Fisika, Kimia, Biologi

- IPS: Sosiologi, Ekonomi, Sejarah, Geografi

- Bahasa Inggris

- Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan

- Informatika

- Pilihan (minimal 1): Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, Seni Tari, Prakarya

- Muatan Lokal


2. Kelas XI dan XII: Tidak Ada Jurusan IPA, IPS, dan Bahasa

Kelompok mata pelajaran di kelas XI dan XII dibagi menjadi 5 kelompok utama, yaitu:


- Kelompok mapel umum, wajib diikuti semua siswa SMA


- Kelompok mapel Matematika dan IPA (MIPA), SMA wajib menyediakan minimal 3 mapel di kelompok ini


- Kelompok mapel IPS, SMA wajib menyediakan minimal 3 mapel di kelompok ini


- Kelompok mapel Bahasa dan Budaya, dibuka sesuai sumber daya yang tersedia di SMA


- Kelompok mapel Vokasi dan Prakarya: capaian pembelajaran mapel Vokasi dikembangkan SMA bersama dunia kerja, dan sesuai dengan potensi/kebutuhan sumber daya manusia di SMA.


Sementara itu, capaian pembelajaran mapel Prakarya dikembangkan pemerintah pusat. SMA dapat mengembangkan lebih lanjut capaian pembelajaran mapel Prakarya sesuai potensi/sumber daya di SMA.


- Sekolah yang ditetapkan pemerintah sebagai sekolah keolahragaan dapat membuka kelompok mapel Seni dan Olahraga sesuai sumber daya di SMA.


Mata pelajaran Kelas XI dan XII sebagai berikut:


Mata Pelajaran Umum


- Pendidikan Agama/Kepercayaan dan Budi Pekerti (sesuai keyakinan dan kepercayaan)

- Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

- Bahasa Indonesia

- Matematika

- Bahasa Inggris

- Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan

- Sejarah

- Pilihan (minimal 1): Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, Seni Tari


Kelompok Mata Pelajaran:


- MIPA: Fisika, Kimia, Biologi, Informatika, Matematika tingkat lanjut

- IPS: Sosiologi, Ekonomi, Geografi, Antropologi

- Bahasa dan budaya: Bahasa Indonesia tingkat lanjut, Bahasa Inggris tingkat lanjut, Bahasa Korea, Bahasa Arab, Bahasa Mandarin, Bahasa Jepang, Bahasa Jerman, Bahasa Prancis

- Vokasi dan Prakarya: Prakarya, Membatik, Servis Elektronik, Desain Grafis, dan lain-lain sesuai sumber daya tersedia


- Muatan Lokal


Nah, itulah gambaran kurikulum baru yang sudah dijalankan sebagai prototipe di beberapa sekolah. Bagaimana pendapat detikers tentang kurikulum baru ini?



Simak Video "Merajut Asa Kembali ke Sekolah"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia