PJJ Berkepanjangan Berdampak Besar bagi Pelajar, Ini di Antaranya

Erika Dyah - detikEdu
Minggu, 19 Sep 2021 20:45 WIB
A young Asian female university student presents chart on her project study online via laptop at home during COVID-19 pandemic to practice social distancing. Stock photo.
Foto: Getty Images/iStockphoto/sengchoy
Jakarta - Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate mengungkap PTM terbatas merupakan upaya menyelamatkan anak-anak Indonesia dari risiko dampak negatif Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara berkepanjangan. Ia mengatakan anak-anak Indonesia dikhawatirkan akan sulit mengejar ketertinggalan jika tak segera menerapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas.

Untuk itu, lanjut Johnny, pemerintah meminta seluruh pihak mendukung pelaksanaan PTM terbatas yang dinilai semakin penting dan mendesak. Adapun tujuannya yaitu untuk menghindarkan generasi muda Indonesia dari learning loss atau penurunan capaian pembelajaran.

"Percepatan penuntasan vaksinasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) bisa menjadi dorongan untuk mengembalikan anak ke sekolah secara terbatas," kata Johnny dalam keterangan tertulis, Minggu (19/9/2021).

Ia menilai PJJ berkepanjangan bisa berdampak besar dan permanen pada pelajar Indonesia. Johnny menyebutkan sejumlah dampak yang sangat diantisipasi, di antaranya putus sekolah, penurunan capaian pembelajaran, dan kesehatan mental serta psikis anak-anak.

"Pandemi COVID-19 telah menyebabkan learning loss yang sangat signifikan. Jika dibiarkan secara jangka panjang, semua ini bisa menjadi risiko yang lebih besar dibandingkan risiko kesehatan," ungkapnya.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh INOVASI dan Pusat Penelitian Kebijakan (Puslitjak) Kemendikbud Ristek, Johnny mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia sudah kehilangan 5-6 bulan pembelajaran per tahun.

Selain itu, Riset Bank Dunia menunjukkan dalam kurun waktu 0,8 sampai dengan 1,3 tahun, compounded learning loss dengan kesenjangan antara siswa kaya dengan siswa miskin meningkat 10 persen.

Riset yang sama juga menyatakan bahwa tingkat putus sekolah di Indonesia meningkat sebesar 1,12 persen. Adapun angka tersebut 10 kali lipat dari Angka Putus SD Tahun 2019. Bahkan, Bank Dunia memperkirakan ada 118.000 anak usia SD di Indonesia yang tidak bersekolah saat ini.

"Angka tersebut lima kali lipat lebih banyak daripada jumlah Anak Putus SD Tahun 2019," pungkasnya.

Simak Video "27,17 Persen Sekolah di RI Sudah Lakukan PTM Terbatas"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/ega)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia