Warga Magelang Sediakan WifI Gratis untuk Sekolah Daring

Eko Susanto - detikEdu
Senin, 02 Agu 2021 18:57 WIB
Suasana belajar secara daring terbantu dengan disediakan WiFi gratis
Suasana belajar secara daring terbantu dengan disediakan WiFi gratis (Foto: Eko Susanto/detikcom)
Magelang - Banyak cara yang dilakukan warga untuk membantu sesama di tengah pandemi COVID-19. Salah satunya dilakukan warga di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini, menyediakan WiFi gratis untuk sekolah daring.

WiFi gratis tersebut disediakan karena rasa keprihatinan terhadap anak-anak di lingkungan sekitar rumahnya. Saat itu, sekitar bulan Agustus 2020, anak-anak yang semestinya sekolah daring, namun justru mencari ikan atau memet. Kemudian, saat ditanya tidak sekolah karena beralasan tidak ada pulsa maupun kuota.

"Awal-awal bulan Agustus 2020, saat awal anak disuruh belajar di rumah, saya sempat melihat anak-anak kecil pagi hari nggak belajar. Mereka itu malah memet (mencari ikan secara tradisional). Saya tanya sekolah di rumah malah main, dia bilang nggak punya pulsa, nggak punya kuota. Lha terus beberapa kali saya tawari belajar disini ada internet pakai WiFi gratis," kata T Agung Nugroho saat ditemui di rumahnya Jalan Blabak-Boyolali Km 0,7, Dusun Jetis Sukasari RT 01/RW 01, Desa Pagersari, Kecamatan Mungkid, Senin (2/8/2021).

Selain itu, ada juga yang tidak memiliki handphone (HP). Untuk itu, ia menyediakan HP bahkan laptop. Hal ini dilakukan agar anak-anak tersebut tidak mencari ikan saat jam sekolah, namun belajar.

"Mereka bilang nggak punya Handphone atau mungkin HP cuman punya satu, tapi mungkin dipakai orang tua atau apa. Dari keresahan itu, saya merasa punya beberapa peralatan yang dibutuhkan kebetulan handphone juga ada tiga, laptop ada dua. Awal-awal ngumpulin anak-anak, akhirnya rutin belajar di sini dengan perangkat terbatas dan gantian," tuturnya.

Agung Nugroho yang biasa dipanggil Begawan Prabu ini menuturkan, yang terpenting anak-anak tersebut mau sekolah. Hal ini mengingat mereka ini usia-usia emas untuk belajar. Untuk itu, proses belajar hingga berjalan sampai sekarang.

"Kami nggak ngasih beban apa-apa, pokoke, sing penting gelem sekolah karena mereka masih usia-usia emas untuk belajar. Akhirnya berjalan sekian waktu dan sempat terhenti kemarin dua bulan karena liburan sekolah. Tahun ajaran baru dimulai lagi cuman beberapa orang tua masih cemas karena isu soal pandemi sedemikian rupa jadi takute nek (kalau) di sini ngumpul-ngumpul bareng-bareng nanti nggak terkontrol jaraknya dan sebagainya. Meskipun di sini tetap menerapkan SOP, tetap jaga jarak, cuci tangan, pakai masker. Yang penting bukan buat untuk mainan, YouTub-an ra cetho (tidak jelas), selama untuk kepentingan belajar di sini tak (saya) fasilitasi," katanya.

Jumlah anak-anak yang belajar, kata dia, paling banyak 10 anak. Apa yang dilakukan ini semata-mata untuk menolong atau berbagi dari hal yang terkecil.

"10-an nggih (anak-anak), rata-rata karena lebih dari 10 juga kuotanya nggak nyandak. Ya berbagi aja sih, karena melakukan dari hal terkecil bisa dilakukan untuk sekitaran saya pikir bagus daripada mengutuk keadaan. Pakai modem," ujarnya.

"Menolong dengan caya saya. Ini untuk pendidikan, WiFi gratis," kata dia.

Untuk yang belajar, kata dia, kebanyakan yang belajar daring anak-anak SD. Namun demikian, sekarang siswa SMP. Untuk itu, ia pun mendampingi proses belajar tersebut.

"Di program belajar online yang sekarang ini siswa menggunakan beberapa platform sekaligus yang kalau orangtua gaptek mesti nggak bisa. Jadi jangankan orangtua, gurunya saja masih bingung menggunakan beberapa platform," tuturnya yang setiap hari mendampingi di sela-sela aktivitasnya, itu.

Bagaimana respons orang tua?

Klik halaman selanjutnya untuk membaca



Simak Video "Kasus Turun Namun Banyak Provinsi Belum Update Data Corona"
[Gambas:Video 20detik]

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia