Setiap Tahun 3,7 Juta Pelajar Lulus SMA, Hanya 1,8 Juta yang Bisa Kuliah

Erwin Dariyanto - detikEdu
Selasa, 29 Jun 2021 09:46 WIB
Tahun Ajaran Baru 2020/2021 dimulai hari ini. Siswa-siswi di SMA Negeri 2 Kota Bekasi, Jawa Barat pun mengikuti apel Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2020/2021.
Foto: Agung Pambudhy/Setiap Tahun 3,7 Juta Pelajar Lulus SMA, Hanya 1,8 Juta yang Bisa Kuliah
Jakarta - Deputi Menteri Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Dan Moderasi Beragama, Kemenko PMK Prof Dr R Agus Sartono, MBA mengatakan, setiap tahun ada sekitar 3,7 juta pelajar lulus SMA, MA dan SMK. Namun tak semua pelajar lulusan setingkat SMA tersebut bisa meneruskan ke bangku kuliah. Dari data Kemenko PMK hanya sebanyak 1,8 juta lulusan SMA bisa meneruskan kuliah ke perguruan tinggi.

Ada kurang lebih 1,9 juta orang yang tidak terserap oleh perguruan tinggi. "Setiap tahun jumlah lulusan SMA/SMK/MA di atas 3,7 juta orang, artinya ada 1.9 juta anak muda kita belum bisa kuliah," kata Agus melalui Webinar Nasional: "Strategi Kampus dan Sekolah Menyiapkan Penerimaan Mahasiswa Baru" Senin (28/06) sore kemarin.

Dalam keterangan tertulis yang diterima detikEdu, Webinar Nasional ini diikuti 2.700 pimpinan kampus se-Indonesia yang tergabung dalam Komunitas SEVIMA (PT. Sentra Vidya Utama).

Menurut Agus, fakta bahwa masih ada 1,9 juta pelajar lulusan SMA yang tak bisa kuliah cukup mengkhawatirkan. Apalagi jika alasannya karena kondisi keterbatasan ekonomi atau keterbatasan bangku kuliah. Sebab pada akhirnya, lulusan SMA yang kurang beruntung tersebut akhirnya masuk ke lapangan kerja tanpa memiliki bekal keterampilan yang maksimal.

"Dan para lulusan sekolah menengah yang masuk lapangan kerja itu, terpaksa harus bersaing dengan lulusan perguruan tinggi. Ini berlangsung hampir setiap tahun," papar Agus.

Melihat fakta kondisi tersebut, Agus mendorong agar perguruan tinggi di Indonesia senantiasa memperbaiki diri. Terlebih, pendidikan tinggi merupakan pilar tak terpisahkan dari siklus pembangunan manusia dan kebudayaan.

"Pembangunan Manusia menuju Indonesia Maju, caranya mencapai ya dengan memberi anak muda kita kesempatan seluas-luasnya untuk belajar. Oleh karena itu, Pemerintah terus berkomitmen memfasilitasi kampus agar meningkatkan kualitas, menyediakan program bantuan seperti Kartu Indonesia Pintar Kuliah, serta beragam kebijakan lainnya dalam rangka meningkatkan angka partisipasi kasar kuliah," kata Agus

Dr. Ir. Drajat Martianto selaku Wakil Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga wakil dari Forum Rektor Indonesia (FRI) sepakat dengan Agus. Dia memberikan contoh atas pengembangan kualitas yang terus dilakukan oleh IPB.

Misalnya dalam rangka membuka akses pendidikan yang lebih luas, IPB melakukan terobosan dalam proses dan program penerimaan mahasiswa baru. Kini di IPB, penerimaan mahasiswa baru tidak hanya mengandalkan nilai atau prestasi akademis.

Di IPB ada penerimaan mahasiswa dari jalur ketua OSIS dan jalur afirmasi. Ada juga yang menggunakan prestasi hafalan Qur'an. "Jadi sebisa mungkin, kami fasilitasi keberagaman dan potensi yang ada di anak-anak muda Indonesia," kata Djarat.

Menurut Drajat masalah ekonomi memang harus mendapatkan perhatian khusus. Saat ini, Kartu Indonesia Pintar Kuliah telah memfasilitasi anak muda untuk berkuliah secara gratis dan mendapat uang saku tiap bulan. Kampus seperti IPB juga telah menetapkan biaya perkuliahan yang seminimal mungkin dalam rangka membantu para mahasiswa.

Namun, Drajat melanjutkan, belum ada jaminan bahwa mahasiswa tersebut nantinya akan langsung mendapatkan pekerjaan setelah selesai kuliah. Padahal tak sedikit dari mereka yang nantinya diharapkan menjadi tulang punggung keluarga.

"Jadi di IPB kami melakukan talent mapping untuk mengetahui passion mahasiswa, sekaligus jaminan kembali ke kampus untuk retraining. Enam bulan lulus dan belum dapat kerja, boleh kemmbali ke kampus untuk ikut pelatihan. Gratis ditanggung oleh kampus, kami cari berkahnya saja," lanjut Djarat.

Djarat menjelaskan bahwa semua program tersebut bisa dilakukan dengan menggandeng perusahaan dan alumni untuk menjadi sponsor. Misalnya untuk tantangan ekonomi, perguruan tinggi bisa menyiapkan beberapa bentuk beasiswa.

Perguruan tinggi juga bisa menggandeng alumni untuk menjadi donatur dalam menyediakan beasiswa tersebut. "(Perguruan tinggi) Tidak harus jadi single fighter," kata Djarot.

Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia Djoko Adi Waluyo DBA, juga merekomendasikan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi sejumlah permasalahan di kampus. Misalnya dalam sistem pembelajaran, para anggota Komunitas SEVIMA telah menggunakan sistem akademik Gofeeder, Siakadcloud, dan Edlink. Sistem tersebut tersedia secara gratis maupun berbayar, dan beberapa telah terintegrasi dengan aplikasi video conference Zoom.

Menurut Djoko, dengan adanya teknologi tersebut sejumlah biaya operasional kampus seperti biaya seperti gedung, listrik kampus, dan promosi dapat ditekan. Selain itu, kuliah dan penerimaan mahasiswa baru juga bisa berlangsung dengan lancar di masa pandemi karena tidak perlu dilakukan secara tatap muka.

Simak Video "Jokowi Kritik Kampus yang Masih Ajarkan Ilmu 20 Tahun Lalu"
[Gambas:Video 20detik]
(erd/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia