Masuk Zona Merah, Pemkab Sleman Tetap Gelar Sekolah Tatap Muka

Jauh Hari Wawan - detikEdu
Rabu, 23 Jun 2021 19:30 WIB
Siswa Siswi sekolah dasar kelas 5 menjalani ujian Penilaian Akhir Tahun secara tatap muka dengan mengunakan gawai di Sekolah Dasar Negeri 07 Pagi Malaka Jaya, Jakarta Timur, Rabu (9/6/2021).
Pemkab Sleman berniat menggelar sekolah tatap muka di tengah situasi penyebaran COVID-19 yang semakin tinggi (Foto Ilustrasi: Agung Pambudhy)
Sleman -

Pemerintah Kabupaten Sleman tetap akan melaksanakan sekolah tatap muka pada tahun ajaran baru 2021/2022 mendatang kendati daerah tersebut masuk dalam zona merah penyebaran COVID-19.

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo mengatakan telah berkonsultasi dengan Gubernur DI Yogyakarta terkait pelaksanaan kegiatan pembelajaran tatap muka. Ia mengusulkan Kabupaten Sleman tetap bisa menjalankan belajar-mengajar secara luring atau tatap muka pada tahun ajaran baru ini.

"PTM digelar dengan tetap memperhatikan evaluasi peta paparan covid di wilayah. Kalau sekolah masuk zona hijau digelar PTM dan yang masuk zona merah tidak diadakan PTM," kata Kustini kepada wartawan, Rabu (23/6/2021).

Meski mendapatkan izin, Kustini menyebutkan Pemkab akan melakukan penyesuaian kebijakan sekolah tatap muka mengingat saat ini terjadi lonjakan kasus baru COVID-19 di Sleman.

Pemkab mengubah ketentuan kehadiran siswa dari sebelumnya 50 persen menjadi 25 persen dari kapasitas ruangan. Siswa masuk pun dibagi dalam dua shift. "Jumlah siswa yang masuk akan dibatasi 25 persen saja," jelasnya.

Kustini pun menjanjikan akan terus melakukan evaluasi terkait kondisi di lapangan ketika pembelajaran dilakukan secara luring nantinya.

Diberitakan sebelumnya, Kabupaten Sleman dan Bantul menjadi zona merah COVID-19 di DIY. Sementara itu Kota Yogyakarta, Kabupaten Gunungkidul dan Kulon Progo masuk zona oranye.

"Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman masuk zona merah. Sedangkan tiga daerah lain, Kabupaten Gunungkidul, Kota Yogyakarta, dan Kabupaten Kulon Progo masuk zona oranye," kata Sekretaris Daerah DIY Kadarmanta Baskara Aji, Selasa (22/6/2021).

Terpisah, Ketua PGRI Sleman Sudiyo mengaku dilematis dengan rencana belajar tatap muka ini. Akan tetapi, jika tidak dilakukan PTM ia khawatir akan ada lost generation.

"Memang dilematis, satu sisi pandemi COVID saat ini makin meledak, di sisi lain pendidikan harus berjalan sebagaimna mestinya bila tidak ingin hilang satu generasi," kata Sudiyo hari ini.

Menurutnya, saat ini banyak orang tua maupun siswa yang menghendaki sekolah tatap muka. Sebab, sudah satu tahun mereka bersekolah secara daring.

"Kita harus jujur baik orang tua maupun siswa sudah ingin sekali pembelajaran tatap muka, ada kejenuhan yang luar biasa bagi mereka," ujar Sudiyo.

Ia menjelaskan, jika nantinya PTM jadi diterapkan harus dipastikan untuk penerapan protokol kesehatan. Selain itu, proses pembelajaran dilakukan dengan 2 shift tanpa ada jam istirahat.

"Alasan lain sebenarnya karena sudah teruji. Ujian kemarin dilakukan secara tatap muka tidak ada klaster baru dari sekolah," paparnya.

Sementara itu, Atik (35) warga Kalasan, Sleman yang merupakan salah satu orang tua siswa masih belum memutuskan apakah mengizinkan anaknya sekolah secara luring. Ia masih melihat kasus harian COVID-19 di Sleman.

"Tergantung kasus harian. Kalau masih tinggi kayak sekarang ya masih milih daring. Tapi kalau kasusnya mulai landai, tatap muka nggak papa. Tapi tetap terbatas, 30-50 persen dari kapasitas," kata Atik.

Hanya saja Atik meragukan orang-orang di lingkungan sekolah maupun luar sekolah bisa menerapkan prokes dengan baik dan disiplin saat belajar tatap muka.

"Kita ortu, berusaha keras ngajari anak prokes. Sampai-sampai membatasi ruang gerak. Tapi di luar sana orang kayak bebas abai prokes. Bikin jengkel," ujarnya.



Simak Video "Komisi X Sentil Kemendikbud soal 1.296 Sekolah Jadi Klaster Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia