PPDB SMAN 1 Klaten Digeruduk dan Diprotes Emak-Emak, Ada Apa ?

Achmad Syauqi - detikEdu
Selasa, 22 Jun 2021 14:04 WIB
Ibu-ibu mendatangi SMAN 1 Klaten untuk melakukan protes (Achmad Syauqi)
Ibu-ibu mendatangi SMAN 1 Klaten untuk melakukan protes (Achmad Syauqi)
Klaten - Penerimaan peserta didik baru (PPDB) online tahun 2021 di SMAN 1 Klaten digeruduk emak-emak dari wilayah Kecamatan Klaten Tengah. Mereka protes karena ada ketentuan zonasi khusus sehingga anak mereka tersingkir padahal jarak rumah hanya 1 kilometer.

"Kita protes karena zona di bawah 1 kilometer tidak masuk. Padahal yang lebih dari 1 kilometer malah masuk, aturan zona itu seperti apa?," kata Dwi, warga Kelurahan Bareng, Kecamatan Klaten Tengah pada detikcom di lokasi SMAN 1, Selasa (22/6/2021) siang.

Dewi mengatakan setelah ditanyakan, sekolah beralasan ada peraturan zona khusus. Anaknya yang tinggal dekat dari SMAN 1 Klaten dicoret dari data online tapi yang jaraknya jauh malah diterima.

"Tiba-tiba data hilang hari pertama. Sedangkan anak temanku yang jaraknya lebih jauh di luar Kecamatan Klaten tengah malah masuk," kata Dwi.

Dwi menyayangkan zona khusus tersebut. Sebab selaku warga Kecamatan Klaten Tengah yang hanya dipisahkan jalan dengan SMAN 1 justru dicoret dari data PPDB.

"Kita pertanyakan kok banyak anak Klaten Tengah hilang semua. Kita datang mau tanya, dilihat jarak kita sangat dekat, nilai juga tidak kalah," sambung Dwi.

Orang tua lain, Ida mengatakan anaknya di nomor 58 tapi mendadak hilang dari daftar PPDB online SMAN 1 total sekitar 200 orang. Penyebabnya karena Klaten Tengah masuk zona khusus sebagai wilayah yang tidak punya SMA dan SMK negeri.

"Saya tanya katanya Klaten Tengah masuk zona khusus, sebagai wilayah yang tidak punya SMA dan SMK negeri. Dari zona khusus hanya diambil tidak sampai 10-12 orang calon siswa, terus kita sisanya sekolah dimana?," kata Ida yang beralamat di Kalurahan Tonggalan, Kecamatan Klaten Tengah pada detikcom di lokasi.

Kebijakan itu, ungkap Ida, jelas tidak adil sebab warga Kecamatan Klaten Tengah meskipun dekat dengan SMAN 1 tidak diterima lebih dari 10 orang. Padahal dari kecamatan lain yang lebih jauh jaraknya malah bisa.

"Jadi satu Kecamatan Klaten Tengah cuma diambil 10 orang. Kalau begitu kita sekolah dimana? Tahun lalu tidak ada kebijakan ini ," kata Ida.

Kepala SMAN 1, Sutrisno saat hendak dikonfirmasi terkait masalah PPDB tersebut tidak ada di kantor. Satpam sekolah Sugeng Kusrijanto menyebut Sutrisno sedang berkunjung ke kantor cabang dinas.

"Kasek ada di cabang dinas, di Boyolali. Ini sistem kan dari provinsi kita tidak tahu," jelas Sugeng pada detikcom.

Pantauan detikcom, belasan ibu-ibu itu datang sekitar pukul 11.00 WIB. Mereka hendak menemui kasek tapi gagal sebab tidak ada di kantor.

Meskipun sempat debat tetapi tetap tidak mendapatkan penjelasan dan tidak bisa masuk. Mereka tertahan di pintu gerbang dan duduk menunggu jam istirahat habis.

Simak Video "Polda DIY Kirim 100 Tabung Oksigen ke RSUP dr. Sardjito"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia