Seperti Apa Pengembangan SMK dan Kuliah Vokasi? Ini Jawab Dirjen Diksi

Trisna Wulandari - detikEdu
Jumat, 07 Mei 2021 10:00 WIB
Alat pendeteksi COVID-19 GeNose telah dirakit sejak Februari kemarin. Yuk lihat proses perakitannya di Teaching Factory SMK-SMTI Yogyakarta.
Proses perakitan alat pendeteksi COVID-19 GeNose di Teaching Factory SMK-SMTI Yogyakarta. (Foto: PIUS ERLANGGA )
Jakarta - Pendidikan vokasi D3 kini tengah didorong untuk menjadi program sarjana terapan atau D4. Sementara SMK se-Indonesia saat ini didorong untuk menjadi SMK Pusat Keunggulan yang bisa bersinergi dengan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja (dudika).

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) Wikan Sakarinto dalam Siniar PojokDikbud: Kita Bangun Pendidikan Vokasi untuk Indonesia Maju, Kamis (6/5).

Wikan menuturkan, banyak pengembangan tengah dilaksanakan untuk mendorong sinergi pendidikan vokasi SMK, D2, D3, dan D4 dengan dudika.

Salah satunya yaitu kurikulum tematik disusun agar adaptif dengan industri. Penyusunannya juga dilakukan dengan bersama pihak industri, agar siswa lulusan SMK kian banyak yang bisa langsung bekerja dan berwirausaha sesuai standar industri.

Ia menambahkan, siswa dan mahasiswa pendidikan vokasi juga diberikan matapelajaran dan matakuliah berbasis proyek nyata dari industri atau project based learning. Di samping itu, pengajaran juga diisi oleh tenaga ahli dari industri.

"Lalu magang, minimal satu semester, boleh lebih. Anak-anak (mahasiswa) vokasi dan SMK harus magang. Memastikan soft skill dengan benar-benar nyemplung," kata Wikan.

Wikan menuturkan, Sinergi pendidikan vokasi dan dudika salah satunya muncul lewat penguatan SMK Pusat Keunggulan. Ia menambahkan, untuk menjadi SMK Pusat Keunggulan, sebuah SMK harus dapat membuktikan sinergi dengan industri.

Wikan menekankan, di sisi lain, semua SMK bisa jadi SMK Pusat Keunggulan.

"Kami tidak mau menciptakan eksklusivitas. Justru sebagai pusat, dia (SMK Pusat Keunggulan) bisa mengimbaskan SMK lain menjadi unggul juga. Kalau dibangun infrastruktur, bisa dipakai bersama-sama," katanya.

Ia mencontohkan, saat ini SMKN 1 Kalasan tengah didorong untuk bisa diberi bantuan membangun hotel edukasi atau edutel. Edutel ini sedianya memiliki kafe, ruang pertemuan, dan fasilitas lain yang dapat digunakan bersama.

Wikan menjelaskan, lokasi sekolah yang dekat dengan candi Prambanan dan Borobodur bisa siswa manfaatkan untuk belajar pengembangan paket wisata edukasi.

"Jadi (wisatawan) bisa tamasya di Prambanan, Borobudur, tidurnya di hotel SMK. Makannya di (kafe) situ juga. Lalu di-entertain anak-anak SMK seni yang lain. Siswa vokasi bahasa Inggris juga bisa menjadi trainer untuk tamu, karena banyak papa mama yang suka kalau anaknya pelesir, pulang jadi tambah pintar bahasa Inggrisnya," jelas Wikan.

Ia menuturkan, SMK Pusat Keunggulan berada di tiap provinsi. Calon siswa bisa belajar tematik sesuai kearifan lokal yang dikembangkan SMK dan D2 fast track.

Wikan mencontohkan, NTT dengan industri tidak sebanyak di Batam atau Jakarta, tetapi bisa mengembangkan aspek peternakan. Contohnya dengan mengatasi permasalahan turunnya berat sapi karena stres dan enggan makan saat pengiriman menggunakan kapal ke jakarta.

"Sampai di Jakarta, turun 15% beratnya karena stres dan enggan makan. Harganya jadi drop. Di sini keunggulan SMK Pusat Keunggulan dan D2 fast track dengan prodi-prodi tematik itu. Misalnya D2 pengolahan hasil ternak, itu bisa menciptakan inovasi makanan yang tetap diminati sapi ketika di kapal," jelasnya.

Wikan menambahkan, pendidikan vokasi juga bersinergi dengan pemerintah daerah. Ia mencontohkan, target ekspor tuna Jepang di Sulawesi Utara direspons dengan merancang D2 penangkapan ikan dengan pendidikan tiga semester.

"Satu semester di Politeknik Nusa Utara, satu tahun di magang di kapal. Jadi tidak sekadar keluar ijazah, tetapi dilihat berapa ton penangkapan ikannya, hingga di-package, dan diekspor ke Jepang, baru lulus. Ada knowledge, soft skill manajerial. Enggak cuma tangkap, tapi juga mengelola kapal, mengelola nelayan," terang Wikan.

Ia menekankan, pendidikan vokasi mengutamakan hasil produk berwujud dan tidak berwujud. Produk vokasi juga termasuk film, serial, game, animasi, produk teknik elektro, teknik mesin, teknik sipil, teknik perumahan, layanan perawatan, perkapalan, pesawat udara, agribisnis, dan fashion.

Bagaimana detikers, tertarik masuk pendidikan vokasi?

Simak Video "Siap ke Industri, Ditjen Vokasi Targetkan Prodi D3 Beralih ke D4"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia