Belajar Tatap Muka Digelar Juli 2021, Apa Saran Organisasi Dokter Anak?

Tim detikcom - detikEdu
Kamis, 29 Apr 2021 07:00 WIB
Guru memberikan pelajaran kepada murid saat uji coba belajar tatap muka di kawasan SDN 11 Pademangan Barat, Jakarta Utara, Rabu (7/4). SDN Pademangan Barat 11 memulai uji coba belajar tatap muka bagi siswa kelas V di tengah pandem COVID-19. Protokol kesehatan menjadi hal utama baik bagi siswa maupun tenaga pendidik.
IDAI tidak merekomendasikan belajar tatap muka digelar pada Juli 2021 (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Pemerintah menyatakan belajar tatap muka dapat mulai digelar secara terbatas pada tahun ajaran baru mendatang yang jatuh pada bulan Juli 2021. Aktivitas ini akan dilakukan setelah pemerintah menyelesaikan vaksinasi terhadap pendidik dan tenaga kependidikan.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyatakan kebijakan pembelajaran tatap muka terbatas ini berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Sementara itu Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim menginstruksikan satuan pendidikan untuk menyediakan layanan belajar tatap muka terbatas.

Hanya saja, sekolah tetap harus memberlakukan protokol kesehatan dengan ketat. Pembelajaran tatap muka maksimal dihadiri maksimal 50 persen dari jumlah siswa. Karena itu opsi pembelajaran jarak jauh harus tetap dibuka.

Orang tua murid pun punya hak untuk tidak mengizinkan anaknya mengikuti belajar tatap muka. "Jadi orangtua yang bisa memilih, apakah anaknya belajar tatap muka atau tetap PJJ dari rumah," ujar Nadiem, Selasa (30/3/2021) lalu.

Belakangan organisasi dokter anak menyatakan tidak merekomendasikan metode belajar tatap muka digelar Juli mendatang. "Saat ini sekolah tatap muka belum direkomendasikan," ujar Ketua Umum IDAI, Aman B Pulungan, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (28/4/2021).

Rekomendasi tersebut selain mempertimbangkan hak anak, juga terkait dengan perkembangan COVID-19 secara nasional yang kembali meningkat. Alasan lainnya, ada temuan kasus varian baru COVID-19 dan cakupan vaksinasi yang belum mencapai target.

"Persyaratan untuk dibukanya kembali sekolah antara lain terkendalinya transmisi lokal yang ditandai dengan positivity rate <5% dan menurunnya tingkat kematian," ujar Aman.

Sementara faktanya pada Maret lalu pemerintah menyatakan dengan kumulatif kasus positif 1.482.559 orang per Jumat (26/3) angka rasio positif atau positivity rate masih di kisaran 11,49%.

Seandainya pemerintah akhirnya tetap melangsungkan belajar tatap muka mulai Juli, Aman meminta pihak sekolah menyiapkan pembelajaran campuran atau blended learning. Siswa yang mengikuti pembelajaran secara daring maupun luring harus menerima perlakuan dan pemenuhan hak yang sama.

"Guru dan sekolah hendaknya mencari inovasi baru dalam proses belajar mengajar. Misalnya memanfaatkan belajar di ruang terbuka seperti taman, lapangan, sekolah di alam terbuka," kata Aman.



Simak Video "KuTips: Jurus Menghindari Hepatitis Misterius Saat PTM"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia