Mulai Sekolah Tatap Muka, Orangtua Biasakan Anak Patuh Prokes

Trisna Wulandari - detikEdu
Kamis, 08 Apr 2021 10:04 WIB
Infografis Protokol Kesehatan di Sekolah saat Tatap Muka
Ilustrasi Sekolah Tatap Muka (Foto: Luthfy S/detikcom)
Jakarta - Rabu malam kemarin Mikailla Leticia Damayanti mengingat-ingat lagi protokol kesehatan bersama ibunya. Siswa SD Nasional Alamanda Depok, Jawa Barat tersebut menjalani sekolah tatap muka lagi hari ini (8/4) setelah setahun lebih belajar dari rumah (BDR).


Angela R. E. Noviarini, sang ibu, jauh-jauh hari membiasakan Mikailla dan kelima kakaknya untuk mematuhi protokol kesehatan. Di samping masa pandemi tengah berlangsung dan Depok sempat menjadi episentrum, Novi yang didiagnosis dengan penyakit autoimun membuat anak-anaknya segera mawas diri akan kebersihan diri dan lingkungan rumahnya.


"Kalau ada yang kotor sedikit, belum cuci tangan, (Mikailla) pasti yang nomor satu bilang 'Covid! Covid!'," tutur Novi menirukan si bungsu memperingati kakak-kakaknya.


Dengan kondisinya, Novi memahami kekhawatiran para orangtua lain yang mengizinkan anak-anaknya mulai sekolah tatap muka. Ia sendiri belum disarankan untuk vaksinasi oleh dokter. Karenanya, Novi mengizinkan dan memberitahu anak-anaknya untuk divaksinasi bila vaksin anak sudah dapat didistribusikan. Suaminya yang karyawan kantoran juga turut divaksin dari kantor.


"Mas, adek, dengan (jadi) bersih, jaga Mami ya," anjur sang ibu.


Terlebih, keenam anaknya masih aktif berorganisasi, berlatih tari, dan juga wushu selama pandemi. Selama latihan online, Novi merasakan sang anak geregetan karena sinyal internet yang terkadang tidak stabil dan postur serta gerak tubuh yang tidak maksimal terawasi kakak-kakak pembimbing.


"Karena itu, ketika sanggar dan dojo buka (offline) kembali, saya izinkan Mikailla datang," tutur Novi.


Kembali latihan di sanggar dan dojo membuat si bungsu aktif mempraktikkan protokol kesehatan di luar rumah selama beberapa bulan terakhir sampai hapal. Memakai masker, membawa hand sanitizer, tisu kering, dan wet wipes, cuci tangan pakai sabun (CTPS) sebelum masuk sanggar dan dojo, menjaga jarak dengan teman satu ruangan, lalu pulang dan mencuci tangan dan kaki pakai sabun di pekarangan rumah sebelum masuk.


Memang ada kalanya sang anak perlu diingatkan lagi soal menjaga jarak. Novo menuturkan, kalau sudah kangen dengan teman-temannya, Mikailla dan kakak-kakaknya terkadang bermain di lapangan depan rumah dengan waktu yang sudah ditentukan agar tidak berlama-lama di luar.


"Masih terus dipantau dan diingatkan, biar terbiasa di sekolah. Soalnya anak-anak pas main tuh kadang suka jalan bareng terus bilang 'gandengan yuk, gandengan yuk!'," tutur Novi tertawa.


Selama belajar dari rumah, tidak dipungkirinya, jam bangun tidur Novi dan anak-anak jadi lebih siang. Ini yang coba ia biasakan lagi agar anak-anak lebih siap belajar pagi hari sesuai jadwal sekolah.


"Kalau lagi sekolah online, lalu anak-anak masih tidur, guru-guru bisa sampai telepon untuk ingatkan absensi. Nah bagus kalau sekolah offline lagi, biar dari pagi anak-anak sudah terbiasa bangun," tuturnya tertawa.


Soal sarapan bergizi, Novi tak khawatir. Anak-anak di rumah dibiasakan makan seperti sang ibu, sehingga tak banyak jajan di luar. Dengan begitu, ketika nanti sudah mulai masuk sekolah dengan membawa bekal, anak-anaknya sudah lebih dahulu terbiasa makan makanan yang dibuat di rumah.


Novi menuturkan, si bungsu sudah tak sabar masuk sekolah tatap muka. "Mau ketemu BSF (best school friend), Mi!," seru Novi menirukan sang anak,


Semalam, Novi kembali menyiapkan Mikailla dengan wet wipes, hand sanitizer, sabun, dan masker.


"Besok Mikailla pakai masker medis atau masker Mikailla?" tanya Novi.


"Maskerku (masker kain), gambar-gambar!" sahut Mikailla.

Simak Video "Suasana Uji Coba Sekolah Tatap Muka di SDN 11 Pademangan Barat"
[Gambas:Video 20detik]
(erd/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia