Penggunaan artificial inteligence (AI) mulai marak dalam dunia pendidikan. Terdapat konstruksi sosial yang mendukung keberlanjutan roda ini di antara generasi sivitas akademik kita.
Menurut Ki Darmaningtyas, pengamat pendidikan Indonesia, ada dua hal yang mendasari penggunaan AI yang masif ini. Pertama adalah bisnis yang mampu mendorong banyak masyarakat untuk menggunakan AI. Oleh karena itu, datang keuntungan finansial yang besar bagi industri AI.
Ki Darmaningtyas, pengamat pendidikan Indonesia. Foto: UMN/Laurensius Matthew Pramudya Agung dkk |
"...Terciptalah sebuah kultur atau glorifikasi bahwa jika Anda ingin maju, Anda harus menggunakan AI," kata Darmaningtyas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masuklah ke hal keduanya, yakni masalah tren. Secara tidak sadar, masyarakat telah tenggelam di dalam lautan yang diciptakan oleh industri AI. Masyarakat merasa dirinya melek teknologi dan modern jika sudah menggunakan AI.
Dulu, citra orang modern ditunjukkan dengan menggunakan komputer, laptop, dan proyektor LCD-kini citra modern dan intelektual itu ditunjukkan dengan penggunaan AI. Mereka yang menggunakan AI dianggap memiliki dasar intelektual yang kuat.
"...Sama-sama butuh pencitraan; industri butuh pencitraan bisnis, sedangkan manusia butuh citra sebagai sosok yang modern," imbuhnya.
Masalah ini berawal dari kata digitalisasi...
Untuk menemukan akar masalah penggunaan AI di lingkungan pendidikan Indonesia, kami memutuskan untuk memantau berita yang diproduksi oleh tiga raksasa media Indonesia, yaitu Kompas.com, Tempo.co, dan detikcom. Terdapat 130 berita dengan kata kunci "Artificial Intelligence Indonesia" yang diproduksi dari 1 Januari 2022 hingga 31 Desember 2024.
Foto: UMN/Laurensius Matthew Pramudya Agung dkk |
Pada tahun 2022, dunia pendidikan sempat menjadi sorotan utama dengan kehadiran ChatGPT. Kendati demikian, hal tersebut belum menjadi suatu ancaman karena chatbot tersebut masih berada dalam tahap pengembangan.
Di sisi lain, Indonesia di bawah kepemimpinan Joko Widodo berfokus pada digitalisasi pendidikan. Pada tahun 2023, para akademisi Indonesia sudah mulai mengkritik dampak Artificial Intelligence Indonesia berbasis Large Language Model (LLM) dalam ruang lingkup pendidikan.
Kemudian, pada tahun 2024, Kemendikbudristek mulai menggodok regulasi penggunaan Generative AI di perguruan tinggi. Regulasi tersebut dirancang bukan sebagai solusi, melainkan sebagai dalih bahwa kemajuan teknologi merupakan sebuah keniscayaan.
Berikut merupakan para aktor yang terdapat dalam jaringan wacana tersebut.
Salah satu aktor yang menarik dari seluruh jaringan yang amat rumit ini adalah Nezar Patria. Pada Jumat, 19 Januari 2024, Nezar Patria dalam acara Sarasehan AI Nasional mengatakan tentang Surat Edaran (SE) Menkominfo Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial.
"Dia (SE) melengkapi dan kita harapkan dia bisa menjadi komplementer jika ada kasus-kasus terkait dengan pelanggaran penggunaan AI bisa dirujuk ke dua UU itu plus undang-undang yang lain," ujar Nezar saat itu.
AI dalam dunia pendidikan Foto: UMN/Laurensius Matthew Pramudya Agung dkk |
Kendati demikian, Surat Edaran Menkominfo Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial bersifat soft regulation. Jadi, tanpa regulasi yang mengikat, sekolah dan universitas berada dalam zona abu-abu hukum. Guru yang melarang AI tidak memiliki dasar hukum yang kuat; siswa yang menyalahgunakan AI tidak dapat dikenai sanksi berdasarkan SE ini.
Dulu, menyontek merupakan sebuah aib besar. Pelakunya diliputi rasa bersalah, melancarkan aksinya dengan jantung berdebar secara sembunyi-sembunyi. Jika ketahuan menyontek, pelaku biasanya akan diikuti rasa malu yang lama. Ada sanksi sosial bahwa menyontek adalah sebuah kegiatan yang memalukan.
"Jujur, at this point, iya, sangat amat ketergantungan. Karena misalnya, nih, pada detik ini juga ChatGPT itu enggak ada, LLM enggak ada, video generation enggak ada, itu mungkin saya akan amat... amat... amat kesusahan dalam mengatur workflow saya," demikian pengakuan Eka, mahasiswa universitas swasta semester 4 dengan IPK 3,81.
Sebagai seseorang yang lebih memprioritaskan pekerjaan dibandingkan kuliahnya, ketergantungan ini disebabkan oleh workflow-nya yang memprioritaskan efisiensi. Tanpa ChatGPT dan Large Language Models (LLM), workflow baik di perkuliahan maupun pekerjaan akan sangat terganggu dan perlu beradaptasi lagi. Tanpa AI, Eka rasa ia tidak akan mampu menyeimbangkan kehidupan kuliah dan pekerjaan.
"Kalau masalah etika, setahu saya, di kampus ini yang penting itu tidak 100% menjiplak'kan? Jadi, selama saya tidak 100% menjiplak, aman saja," imbuh Eka.
Hari ini, batasan moral itu terasa mulai buram. Menggunakan AI untuk memfabrikasi tugas bukanlah sesuatu yang memalukan. Ketergantungan berpikir ini sekarang diumbar-umbar dan bahkan dibanggakan. Para pelajar merasa bangga mereka telah menyelesaikan beban tugas mereka dengan cepat tanpa harus pikir panjang. Padahal, intisari dari pendidikan bukanlah laporan proposal, esai, atau lembar kerja. Mereka semua hanyalah alat untuk mengukur pemahaman terhadap materi pembelajaran.
"Jujur saja, alasan saya tidak menggunakan AI adalah karena saya ingin mengoptimalkan otak saya. Saya ingin menggunakan otak saya supaya tidak mudah tumpul atau pikun. Jika sedikit-sedikit bertanya kepada AI, saya akan menjadi malas berpikir dan malas membaca buku karena semua sudah disediakan oleh AI. Namun, jika saya tidak menggunakannya, mau tidak mau saya harus membaca buku dan berpikir secara mandiri," kata Darmaningtyas.
Sama halnya seperti fenomena fear of missing out (FOMO), masyarakat menggunakan AI demi mengejar status sosial agar tidak dianggap tertinggal zaman. Jadi, ini bukan semata-mata karena tugas dari institusi pendidikan yang berat, melainkan karena masing-masing individu tidak mau ketinggalan tren.
Namun, tidak berarti semua ruang kelas kita telah kehilangan jiwanya. Masih ada ruang-ruang kecil dipenuhi perjuangan para pendidik untuk menyalakan kembali semangat belajar terhadap murid-muridnya. Di masa yang serba cepat dan instan, menghargai proses dan progres adalah sebuah upaya untuk melawan glorifikasi AI yang sedang menumpulkan kemampuan berpikir kritis umat manusia.
*) Reportase ini dibuat oleh Laurensius Matthew Pramudya Agung, Venere Arganiswari Danitta, dan Belva Putri Paramitha. Mereka adalah mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara Program Studi Digital Journalism yang menerima hibah (grant) dari Pulitzer Center untuk melakukan AI Accountability Reporting pada mata kuliah In-Depth and Investigative Reporting.



