Mahasiswa Kecanduan Pakai AI Bak Tony Stark yang Ngobrol dengan Jarvis?

ADVERTISEMENT

Mahasiswa Kecanduan Pakai AI Bak Tony Stark yang Ngobrol dengan Jarvis?

Belva Putri Paramitha*, Venere Arganiswari Danitta*, Laurensius Matthew Pramudya Agung* - detikEdu
Jumat, 23 Okt 2026 08:30 WIB
Ilustrasi Tony Stark dan Jarvis di Iron Man 2 (via YouTube)
Foto: Via YouTube
Jakarta -

"...karakter Iron Man tidak akan ada jika Tony Stark tidak berkomunikasi dengan Jarvis, bukan?..Jarvis adalah AI, sedangkan Tony Stark adalah representasi kita sebagai manusia. Penjahat pun bisa memiliki AI, tetapi mereka menggunakannya untuk kejahatan; intinya sama saja."

Demikian Rektor Universitas Pradita Prof Dr Ir Richardus Eko Indrajit, MSc, MBA, MPhil, MA memandang relasi manusia dengan AI seperti tokoh fiksi Marvel, Tony Stark dan Jarvis. AI dianggap sebagai teman kerja yang mampu diajak untuk berdiskusi.

Rektor Universitas Pradita Prof Dr Ir Richardus Eko Indrajit, MSc, MBA, MPhil, MARektor Universitas Pradita Prof Dr Ir Richardus Eko Indrajit, MSc, MBA, MPhil, MA Foto: UMN/Laurensius Matthew Pramudya Agung dkk

Namun, jika para dosen melihat AI sebagai Jarvis yang setia menemani para mahasiswa berdiskusi, tampaknya mereka perlu menelisik lebih lanjut mengenai opini para mahasiswa dan mendengarkan pandangan mereka sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tuntutan Tugas Tak Masuk Akal hingga Panik

Banyak mahasiswa sebenarnya tidak menyukai pengawasan dari bot pintar ini. Menurut mereka, kecanduan ini diakibatkan dari tuntutan akademik sekarang yang seringkali tidak masuk akal.

"Awal mulai praktikum kita disuruh menulis (dengan tangan) empat proposal dalam 1 minggu. Menurut aku itu rada ekstrem, ya, dan aku enggak sanggup menulis sebanyak itu. Pada akhirnya aku coba minta bantuan AI," demikian kata seorang mahasiswa jurusan Biologi, semester 3 di salah satu universitas swasta.

ADVERTISEMENT

Sementara mahasiswa lain di suatu kampus swasta jurusan Kedokteran Gigi yang juga semester 3 mengatakan, dosen sering melihat tugas mahasiswa secara asal.

"Dosen cuma melihat asal, 'Oh, anak ini sudah mengerjakan (tugasnya).' Setiap makalah itu dipresentasikan, dosen mengecek, ketika presentasi saja. Tapi itu pun kalau presentasi cuma dicek seperti 'Oh, ini sumbernya sudah dari jurnal.' Enggak dilihat kontennya," kata mahasiswa Kedokteran Gigi ini.

Lain lagi dengan pengakuan mahasiswa jurusan Psikologi semester 3 ini, yang mengakui bahwa mahasiswa sekarang tergantung AI. Dalam kasusnya sendiri, panik saat mendapatkan tugas kuliah.

"Aku rasa sekarang itu kita sangat tergantung dengan AI. Kalau ada apa-apa, aku juga refleknya buka ChatGPT karena panik," tutur mahasiswa kampus swasta ini.

Banyak mahasiswa menyadari ketergantungan mereka dengan AI. Baik mengerjakan tugas maupun sekadar menjawab kuis mendadak, mereka sudah panik duluan seakan-akan tidak
pasti dengan kepintaran yang mereka miliki.

Doni Koesoema, bagian dari Tim Penasihat Ahli Kemendikdasmen menyepakati bahwa ekosistem pendidikan Indonesia belum menunjang proses pembelajaran yang berkualitas. Tidak
hanya pelajar yang memiliki beban banyak, tetapi dosen juga dibebankan urusan administratif yang tidak proporsional.

Doni Koesoema, bagian dari Tim Penasihat Ahli KemendikdasmenDoni Koesoema, bagian dari Tim Penasihat Ahli Kemendikdasmen Foto: UMN/Laurensius Matthew Pramudya Agung dkk

Dahulu, jika bobot ujian terdiri atas lima soal, dosen hanya perlu melaporkan nilai akhirnya secara langsung, misalnya 85 atau 90. Sekarang, dalam pelaporan digital, nilai harus diinput satu per satu per komponen soal secara mendetail ke dalam sistem akademik. Jika ada 50 mahasiswa di satu kelas, waktu dosen akan habis hanya untuk memasukkan data ke dalam ribuan kolom administratif. Ini sangat membuang waktu dan menguras energi.

"Sistem pendidikan seharusnya dirancang untuk mendukung proses pembelajaran yang bermutu dan berkualitas, bukan menyiksa baik mahasiswa maupun dosen dengan birokrasi yang rumit. Itulah yang seharusnya segera diperbaiki," ujar Doni.

Lalu, jika alarm bahaya sudah dibunyikan oleh para ahli, mengapa roda ketergantungan ini tetap berputar? Jawabannya mungkin tidak sesederhana seperti tugas yang menumpuk.

*) Reportase ini dibuat oleh Laurensius Matthew Pramudya Agung, Venere Arganiswari Danitta, dan Belva Putri Paramitha. Mereka adalah mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara Program Studi Digital Journalism yang menerima hibah (grant) dari Pulitzer Center untuk melakukan AI Accountability Reporting pada mata kuliah In-Depth and Investigative Reporting.



(nwk/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads