Di tengah masifnya penggunaan artificial intelligence (AI) mahasiswa, lantas, apakah para dosen melakukan koreksi atas jawaban tersebut dengan sangat teliti? Bilamana mereka melakukan pengoreksian dengan sangat teliti? Apakah ada campur tangan pihak ketiga dalam pengoreksian jawaban ujian?
"Hari ini kita membahas pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) untuk mendukung proses pembelajaran di era deep learning. Kehadiran AI merupakan sebuah peluang bagi guru untuk
meningkatkan profesionalitasnya karena kini kita memiliki asisten yang dapat membantu menyelesaikan pekerjaan administratif. Selama ini, beban administrasi guru sangat besar, mulai dari menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau modul ajar, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), bahan ajar, hingga asesmen. Akibat beban tersebut, guru sering kali kehabisan waktu sehingga kehilangan kesempatan untuk menyiapkan perangkat pembelajaran yang dikhususkan untuk kebutuhan siswanya".
Begitulah yang dikatakan oleh Dr Sabar Nurrahman, MPd Si dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di dalam seminar bertajuk, "AI untuk Guru Sibuk: Modul Ajar, PRP, dan Administrasi Selesai dalam Hitungan Menit".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di hadapan ratusan peserta, alat efisiensi ini layaknya sebuah angin dingin di tengah gersangnya administrasi pendidikan. Bagi para akademisi, tugas administrasi hanya satu dari berbagai kewajiban yang harus mereka jalankan.
Mereka juga diwajibkan untuk mengajar, membuat materi, membuat rubrik penilaian, membuat ujian, dan menilai hasil ujian para peserta didik. Melihat daftar panjang tersebut, maklum jika para pengajar tertarik dalam teknologi baru ini.
Sabar menekankan kembali bahwa kehadiran AI bukan untuk menggantikan peran guru, melainkan memperkuat kapasitasnya. Ada empat pilar pemanfaatan AI bagi pengajar.
Pertama, pengajar dapat memanfaatkan AI untuk menganalisis hasil ujian peserta didik. AI disebut mampu memetakan tingkat kemampuan siswa seperti lambat, reguler, dan cepat lalu merekomendasikan gaya pembelajaran dan remedial yang tepat bagi mereka.
Kedua, AI dapat merumuskan Tujuan Pembelajaran (TP) berdasarkan Capaian Pembelajaran (CP), membuat Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP), dan menyusun skenario berdasarkan model tertentu seperti Discovery Learning. AI pun juga dapat menyusun Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) secara sistematis dan merangkainya menjadi
bahan ajar bergaya micro learning yang cocok bagi peserta didik Gen-Z.
Ketiga, AI dapat mempercepat proses perumusan rubrik penilaian dan penyusunan instrumen soal. Sabar merekomendasikan platform AI seperti Whiteground cocok untuk
menyusun studi kasus. Selain Whiteground, Google NotebookLM juga direkomendasi untuk membuatkan materi menjadi format tayangan presentasi, peta pikiran, kuis, video, dan infografis dalam waktu yang singkat.
Keempat, AI dapat membantu pelaksanaan eksperimen virtual. Contohnya, menggunakan perangkat lunak Phet Simulation untuk menjelaskan fenomena astronomi fasal Bulan kepada
siswa secara visual dan faktual.
Foto: UMN/Laurensius Matthew Pramudya Agung dkk |
Jika dilihat dari pandangan yang lebih besar, terdapat sebuah siklus yang muncul. Pengajar menggunakan ChatGPT untuk merumuskan soal ujian. Soal dijawab menggunakan Perplexity. Lalu nilai dikeluarkan oleh Gemini.
"...kalau sampai RPKPS (Rencana Program dan Kegiatan Pembelajaran Semester) dan soal ujian dibuatkan oleh AI, lebih baik kampus memecat dosen tersebut dan menggantinya dengan AI, karena fungsinya sudah tergantikan," kata Dr Ignatius Haryanto Djoewanto, MHum, seorang dosen program studi Digital Journalism Universitas Multimedia Nusantara (UMN), saat ditanya tanggapannya terkait penggunaan AI dalam dunia pendidikan.
Dr Ignatius Haryanto Djoewanto, MHum, seorang dosen program studi Digital Journalism Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Foto: UMN/Laurensius Matthew Pramudya Agung dkk |
Haryanto menyatakan bahwa tidak ada masalah dengan menggunakan AI sebagai 'teman berdiskusi' ataupun alat pembantu. Namun, terdapat sebuah seni intelektual sesungguhnya yang
tertinggal- mencari rujukan dari studi terdahulu atau membaca buku-buku babon (buku utama yang penting).
"Kalau begitu, di mana letak keaslian atau orisinalitas ide yang mau disampaikan kalau semuanya sedikit-sedikit meminta bantuan AI?" imbuh Haryanto.
Sumber Palsu dan Bahasa Terlalu 'Canggih'
Haryanto sendiri sering menemukan mahasiswa yang ia didik menggunakan AI dalam pengerjaan tugas mereka. Berbagai mahasiswa seringkali menggunakan sumber palsu atau
bahasa yang terlalu canggih, tetapi ketika ditanya, para mahasiswa tidak mengerti arti kalimat tersebut.
Pada akhirnya, pembelajaran tidak lagi merujuk kepada penajaman otak dan logika, tetapi sebuah gema di mana AI guru menguji AI mahasiswa.
*) Reportase ini dibuat oleh Laurensius Matthew Pramudya Agung, Venere Arganiswari Danitta, dan Belva Putri Paramitha. Mereka adalah mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara Program Studi Digital Journalism yang menerima hibah (grant) dari Pulitzer Center untuk melakukan AI Accountability Reporting pada mata kuliah In-Depth and Investigative Reporting.


