Menjadi mahasiswa bukan hanya tentang mengejar nilai dan menyelesaikan tugas. Di balik kesibukan kuliah, ada banyak hal yang perlu dihadapi: tuntutan akademik, kegiatan di luar kelas, relasi dengan orang lain, hingga pergulatan dengan diri sendiri. Pada masa peralihan dari remaja menuju dewasa, berbagai perubahan dan tantangan tersebut dapat membuat mahasiswa merasa tertekan. Pernahkah kamu merasa sudah berusaha sebaik mungkin, tetapi tetap merasa belum cukup? Sudah belajar, tetapi nilai belum sesuai harapan.
Sudah mencoba berteman, tetapi tetap merasa sendirian. Sudah melakukan yang terbaik, tetapi justru membandingkan diri dengan orang lain. Dalam situasi seperti itu, kita sering kali menjadi orang yang paling keras terhadap diri sendiri.
"Seharusnya aku bisa lebih baik." "Kenapa aku selalu seperti ini?" "Orang lain saja bisa, kenapa aku tidak?" Tanpa disadari, kita dapat berbicara kepada diri sendiri dengan cara yang mungkin tidak akan pernah kita gunakan ketika berbicara kepada orang yang kita sayangi. Padahal, diri kita juga membutuhkan pengertian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika Menjadi Mahasiswa Tidak Selalu Mudah
Masa perkuliahan merupakan periode yang penuh tantangan. Mahasiswa tidak hanya menghadapi tuntutan akademik, tetapi juga berbagai aktivitas nonakademik serta tantangan yang muncul dalam proses menuju kedewasaan. Program pengabdian masyarakat "Rangkul Diri" berangkat dari pemahaman bahwa mahasiswa merupakan kelompok yang dapat menghadapi berbagai tekanan psikologis dalam proses tersebut.
Program ini ditujukan kepada mahasiswa aktif di lingkungan Universitas Indonesia sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan psikologis mahasiswa. Program ini digagas oleh Dr Dra Sugiarti, MKes, Psikolog, bersama Dini Rahma Bintari, SPsi, MPsi, PhD, serta melibatkan tiga mahasiswa program sarjana sebagai asisten penelitian, yaitu Ghia Bindari Anindhi, Husnul Mas'ah Al-Mardhiyah, dan Muhammad Farihul Alimin. Sebanyak 35 mahasiswa aktif Universitas Indonesia mengikuti program ini dengan pendampingan lima psikolog umum sebagai fasilitator. Pelaksanaan dilakukan dalam dua batch, yaitu 21-29 Mei 2026 dan 10-20 Juni 2026. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan "Rangkul Diri"?
Belajar Merangkul Diri
Nama "Rangkul Diri" bukan sekadar sebuah nama program. Di dalamnya terdapat sebuah pesan sederhana: belajar memperlakukan diri sendiri dengan lebih baik. Program ini menggunakan pendekatan welas diri atau self-compassion sebagai dasar intervensi kelompok.
Welas diri mengajak seseorang untuk memberikan perhatian, pengertian, dan kebaikan kepada dirinya sendiri, terutama ketika sedang menghadapi kesulitan. Bayangkan seorang teman datang kepadamu dan berkata: "Aku gagal dalam ujian. Aku merasa bodoh dan kecewa dengan diriku sendiri." Kemungkinan besar kamu tidak akan langsung mengatakan, "Ya, memang kamu bodoh." Kamu mungkin justru mengatakan: "Tidak apa-apa. Kamu sudah berusaha. Kita coba cari tahu bagian mana yang masih sulit."
Pertanyaannya, bisakah kita memberikan respons yang sama kepada diri sendiri? Inilah salah satu semangat yang dibangun melalui "Rangkul Diri". Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Dr. Sugiarti, menjelaskan bahwa welas diri dipilih sebagai dasar intervensi karena penelitian menemukan bahwa orang yang memiliki welas diri memiliki kebahagiaan yang lebih tinggi.
Tiga Kunci untuk Merangkul Diri
Dalam program "Rangkul Diri", peserta diajak memahami tiga konsep utama dalam welas diri, yaitu self-kindness, common humanity, dan mindfulness.
1. Self-kindness: Berbaik Hati kepada Diri Sendiri
Self-kindness berarti belajar memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan, terutama ketika mengalami kegagalan atau kesulitan. Bukan berarti memanjakan diri atau menganggap
semua kesalahan sebagai sesuatu yang tidak penting. Sebaliknya, kita belajar mengatakan:
"Aku memang melakukan kesalahan, tetapi aku tetap layak diperlakukan dengan baik." Kita tetap dapat mengevaluasi kesalahan dan memperbaikinya tanpa harus menghukum diri sendiri.
2. Common Humanity: Kamu Tidak Sendirian
Pernah merasa hanya dirimu yang mengalami kegagalan? Melihat teman-teman tampak sukses, sementara kamu merasa tertinggal?
Konsep common humanity mengingatkan bahwa mengalami kesulitan merupakan bagian dari pengalaman manusia. Gagal, kecewa, bingung, takut, dan merasa tidak yakin terhadap diri sendiri bukan berarti kita adalah satu-satunya orang yang mengalaminya. Kesadaran bahwa orang lain juga menghadapi kesulitan dapat membuat kita merasa lebih terhubung dan tidak sendirian.
3. Mindfulness: Menyadari Apa yang Sedang Terjadi
Ketika sedang mengalami masalah, kita sering terbawa oleh pikiran sendiri. "Aku gagal." "Aku memang tidak mampu." "Semua orang lebih baik dariku."
Mindfulness mengajak kita untuk menyadari apa yang sedang terjadi tanpa langsung terbawa oleh pikiran atau emosi tersebut. Kita belajar mengenali: "Saat ini aku sedang kecewa," bukan langsung menyimpulkan: "Aku adalah orang yang gagal." Ada perbedaan besar di antara keduanya.
Belajar Melalui Pengalaman, Bukan Sekadar Mendengar
"Rangkul Diri" tidak hanya mengajak peserta mendengarkan penjelasan mengenai welas diri. Intervensi dilakukan dalam bentuk kelompok dan dilengkapi dengan berbagai aktivitas serta permainan. Dengan demikian, peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga diajak menghayati proses intervensi tersebut. Intervensi dilaksanakan dalam empat pertemuan berdasarkan modul sebagai panduan pelaksanaan. Peserta dibagi menjadi lima kelompok dengan jumlah sekitar lima hingga sembilan mahasiswa dalam setiap kelompok.
Suasana kelompok menjadi bagian penting dalam proses ini. Ketika seseorang menyadari bahwa dirinya bukan satu-satunya orang yang pernah merasa gagal, kecewa, atau tertekan, pengalaman tersebut dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda.
Merangkul Diri Bukan Berarti Menyerah
Ada anggapan bahwa jika kita terlalu berbaik hati kepada diri sendiri, kita akan menjadi malas atau tidak berusaha memperbaiki diri. Padahal, berwelas diri bukan berarti berkata: "Tidak apa-apa kalau aku tidak melakukan apa-apa."
Sebaliknya, welas diri dapat menjadi cara untuk menghadapi kesulitan tanpa terus-menerus menjatuhkan diri sendiri. Ketika kita mampu menerima bahwa kita sedang mengalami kesulitan, kita memiliki ruang untuk bertanya: "Apa yang sebenarnya aku butuhkan sekarang?"
Mungkin jawabannya adalah istirahat. Mungkin perlu meminta bantuan. Mungkin perlu mencoba kembali, atau mungkin perlu menerima bahwa tidak semua hal dapat berjalan sesuai rencana.
Dari Diri Sendiri, untuk Kesejahteraan Bersama
Melalui program "Rangkul Diri", para peserta diajak untuk belajar berlaku baik dan penuh kasih kepada diri sendiri, sebagaimana mereka memberikan kasih sayang kepada orang-orang yang mereka sayangi. Pesan ini sebenarnya sederhana, tetapi tidak selalu mudah dilakukan.
Kita sering belajar bagaimana menjadi mahasiswa yang baik, teman yang baik, anak yang baik, atau pekerja yang baik. Namun, kita juga perlu belajar menjadi teman yang baik bagi diri sendiri. Ketika gagal, kita tidak harus langsung menyalahkan diri. Ketika lelah, kita tidak harus selalu memaksa diri. Ketika mengalami kesulitan, kita tidak harus menghadapinya sendirian.
Merangkul diri bukan berarti berhenti berkembang. Merangkul diri berarti memberikan ruang kepada diri untuk bertumbuh tanpa harus terus-menerus menyakiti diri sendiri dalam prosesnya. Program "Rangkul Diri" diharapkan dapat menjadi project percontohan bagi program peningkatan kesejahteraan psikologis mahasiswa yang lebih luas. Bisa jadi, langkah pertama untuk merawat kesejahteraan psikologis tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Bisa dimulai dari satu kalimat sederhana:"Aku sedang mengalami masa yang sulit, dan aku akan belajar memperlakukan diriku dengan lebih baik."
*) Dr Dra Sugiarti, M.Kes, Psikolog
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
