Apakah Lulusan STEM Lebih Mudah Dapat Kerja? Ini Temuan LPEM FEB UI

ADVERTISEMENT

Apakah Lulusan STEM Lebih Mudah Dapat Kerja? Ini Temuan LPEM FEB UI

Novia Aisyah - detikEdu
Senin, 21 Sep 2026 13:00 WIB
Perempuan dalam STEM
ILustrasi STEM. Foto: Ilustrasi AI by ChatGPT
Jakarta -

Tantangan lulusan bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM) untuk memasuki dunia kerja meningkat. Hal ini dipaparkan melalui kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (LPEM FEB UI).

Laporan tersebut berjudul "Pasokan Digenjot, Penyerapan Tertinggal: Bukti Kohort Pasca pandemi untuk Kebijakan Talenta STEM" oleh Prota Nurmalia Kusumawardhani dan Anya Ariella Br Tampubolon. Dalam laporan ini, ditunjukkan peluang kerja lulusan STEM semakin tertinggal dibanding lulusan pendidikan, setelah pandemi.

Dalam hal ini, para peneliti menggunakan salah satunya adalah data beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Beasiswa ini merupakan salah satu contoh kebijakan yang memberi prioritas lebih besar kepada talenta STEM.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada 2025, porsi beasiswa LPDP untuk bisang STEM sebesar 66-69%. Kemudian porsinya naik menjadi 74% pada 2026 dengan target minimal 80%.

Akan tetapi, LPEM FEB UI menemukan ada pelebaran kesenjangan peluang kerja. Kesenjangan peluang kerja pada angkatan 2023 menjadi yang terbesar dengan angka 12,4 poin.

ADVERTISEMENT

Peluang Sulit Dapat Pekerjaan Formal

LPEM FEB UI menunjukkan, dibandingkan lulusan pendidikan, peluang lulusan STEM untuk memperoleh pekerjaan formal juga semakin tertinggal. Persentasenya memburuk, ditunjukkan dengan 7,2 poin persentase kesenjangan pada lulusan angkatan 2021, kemudian 9,6 poin pada lulusan 2022, dan 7,6 poin pada 2023.

Walaupun angka tersebut naik turun, laporan ini menegaskan tidak ada bidang studi lain yang mengalami penurunan status pekerjaan formal sekuat STEM.

Dalam laporan tersebut dikatakan, tekanan terhadap lulusan STEM tidak selalu langsung muncul dalam bentuk pengangguran. Sebagian tetap memperoleh pekerjaan, tetapi upahnya lebih rendah, masuk ke sektor informal, atau pekerjaan yang didapat kurang sesuai dengan pendidikannya.

Laporan LPEM FEB UI menyebut di antara lulusan STEM yang sudah bekerja, proporsi yang bekerja di sektor informal juga meningkat. Sayangnya, dalam pengalaman negara lain ditunjukkan, kondisi awal karier bisa berdampak lama.

Menurut Oreopoulos, von Wachter, dan Heisz (2012) contohnya, lulusan perguruan tinggi Kanada yang masuk pasar kerja saat musim resesi, mengalami kerugian pendapatan pada awal karier dan butuh sekitar 8-10 tahun untuk pulih.

Mengapa Menggunakan Lulusan Pendidikan sebagai Pembanding?

Para penulis laporan ini menganalisis menggunakan data Sakernas BPS Agustus 2022-2024 yang digabung sebagai pooled cross-section. Total data tersebut mendapatkan 43.151 lulusan S1 dan D4 yang bekerja atau sedang mencari pekerjaan.

Lulusan pendidikan digunakan sebagai pembanding karena mempunyai sampel terbesar. Selain itu, tingkat bekerja dan pekerjaan formalnya tertinggi di antara tujuh kelompok bidang studi.

LPEM FEB UI menggarisbawahi temuan dalam kajian ini bukan menjadi alasan untuk mengurangi komitmen terhadap bidang STEM. Akan tetapi, yang dibutuhkan adalah memastikan kebijakan pengembangan talenta juga disertai pemantauan terhadap hasil pasar kerja lulusannya.



(nah/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads